Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 378


__ADS_3

Pagi hari, ketika Aminah dan Mayshita hendak berangkat ke sekolah. Lagi-lagi Raditya telah menunggunya di depan gapura pesantren. Terlihat beberapa santri juga sedang berangkat sekolah untuk yang masih sekolah.


"Mbak Aminah, nanti kalau pas baca kitab jangan emosi lagi ya, kami kan jadi takut," ucap salah satu santri yang hendak berangkat sekolah itu.


"Siapa yang emosi, hah? Aku cuma kesal dengan kalian yang nggak mudeng-mudeng! Lain kali, kalian ngajinya sama Mayshita aja sana!" kesal Aminah.


"Heran deh pagi-pagi udah bikin dongkol aja. Merusak mood orang, bikin kesel aja deh!" gerutu Aminah, ia bahkan mengomel melewati Raditya dan Mayshita begitu saja.


Raditya menyelipkan sebuah amplop putih, lalu menarik lengan Aminah masuk ke mobilnya. Amplop itu berisikan surat izin tidak masuk sekolah, untuk Aminah. Hari itu juga, Raditya ingin Aminah tahu jika tak ada hubungan apapun diantara dirinya dengan Nadia.


"Bang Dit! Aku mau sekolah lah! Ngapain bawa aku kabur?" teriak Aminah.


"Aku ingin menculikmu, diam dan nikmatilah!" seru Raditya melakban mulut dan menutup mata Aminah.


"Nikmati? Mau ngapain, sih nih laki? Jangan-jangan mau bawa aku kabur kawin lari lagi. Wah, gesrek otak Bang Dit kali ya, aku harus meronta!" ucap Aminah dalam hati. "Eits, tunggu dulu! Kalau aku meronta, yang ada malah nggak jadi dong nikahnya. Baiklah, kau pura-pura pasrah dan diam saja, anggap saja aku masih marah begitu, hehehe...." dasar Aminah ini. Selalu memanfaatkan keadaan demi kesenangannya.


Sekitar setengah jam sampailah mereka ke sebuah bukit. Perlahan Raditya menuntun Aminah naik ke sana, dengan sabarnya Raditya membimbing langkah Aminah sampai ke puncak. Sepanjang perjalanan juga Aminah mengeluh haus dan lapar.


"Bang Dit lagi nggak ajak aku bunuh diri bareng, 'kan?" tanya Aminah.


"Astaghfirullah hal'adzim. Dosa tahu ah, mana ada aku mengajakmu menuju keburukan. Sudahlah, lebih baik kamu terus pegang tali ini agar kita segera sampai," jawab Raditya.

__ADS_1


Ya, Raditya membimbing langkah kaki Aminah menggunakan benang yang ia tarik dari sisi lain, begitu juga di sisi lainnya pula Aminah memegangnya. Sekitar lima menit mereka sampai di atas. Perlahan Raditya membuka penutup mata Aminah.


"MasyaAllah, indah banget pemandangannya. Udaranya juga sejuk banget. Bang Dit, aku…." belum juga Aminah mengungkapkan perasaannya, ia ternganga melihat kejutan lain dari Raditya yang sudah di siapkan di sana.


Hidangan yang dibuat oleh Raditya khusus untuk Aminah. Ternyata, Raditya berniat untuk melamar Aminah di tempat itu. Memang bukan moment romantis-romantisan, Raditya mempersilahkan Aminah duduk dan memberinya sebuah kota berukuran sedang kepada Aminah.


"Apa, ini?" tanya Aminah.


"Bukalah!"


"Bismillah, aku buka, ya…." ucap Aminah sembari membuka kotak itu.


Setahun yang lalu, aku telah jatuh hati dengan adik dari sahabat rasa saudara bagiku. Gadis itu sangat lincah, usil dan sangat ceria. Aku mulai penasaran ketika dirinya selalu menyebut namaku dengan sebutan Bang Dit. Awalnya aku tidak nyaman di panggil dengan begitu, tapi lama-lama, aku menikmati panggilan itu. Aku jatuh cinta kepadanya, cintaku semakin hari semakin tumbuh. Sampai suatu hari di Korea, rasanya aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku, aku sudah tak dapat menahannya lagi. Ketika gadis itu menanyakan kenapa aku terus menatapnya, aku hanya menjawab dengan mengajaknya menikah. Respon gadis itu sungguh membuatku tertawa. Aku kira, cintaku akan bertepuk sebelah tangan. Ternyata tidak! Gadis itu juga menyukaiku. Betapa bahagianya aku. Kami berencana membangun hubungan sebelum ada ikatan, Aku akui itu hal yang salah, entah kenapa aku tidak bisa menolaknya. Hingga suatu hari hubungan kami yang belum ada ikatan ini di uji dengan restu ibuku. Tapi, gadis itu terus menyakinkan hatiku. Gadis itu bernama Aminah.


"Udah? Gini aja? Kok, nggak lengkap, sih?" protes Aminah.


"Semalam aku lelah nulisnya. Lihat di bagian akhir… tulisannya juga sudah berubah, 'kan? Makanya nggak aku lanjut lagi dah, " jawab Raditya.


Aminah tertawa melihat raut wajah Raditya yang nampak. kecewa Ia juga belum tahu tujuan Raditya membawanya ke bukit itu untuk apa.


"Aminah, setelah lulus sekolah.. maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu menua bersamaku?"

__ADS_1


Siapa yang tidak langsung mak dek mak tratap kalau tiba-tiba dilamar oleh orang yang disukainya. Tak terasa air mata Aminah membasahi pipinya, ia begitu tersentuh dengan lamaran itu.


"Semakin lama rasa ini terpendam, semakin aku ingin mendekatimu. Aku sudah lelah melihatmu, memandangmu dari kejauhan. Aku harap kamu juga merasakan hal itu. Aminah… aku sungguh mencintaimu, tak hentinya aku menyebut namamu dalam setiap doaku. Aku berusaha menjauh darimu saat kamu menjauhiku, tapi aku tidak bisa. Aku anggap itu rencana Allah untuk menyatukan kita…." lanjut Raditya.


"Nadia?" tanya Aminah. "Bukankah, dia juga sudah kembali? memang harus tidak mau, kembali bersamanya, calon janda, 'kan?" lanjutnya.


Raditya menggeleng, saat itu juga ia menjelaskan arti Nadia dalam hidupnya saat ini. Alasannya juga tidak mengejar Aminah ketika dia lari dari Raditya dan Nadia. Kedekatannya dengan Nadia hanya sebuah kebetulan, ia hanya memberi sebuah harapan untuk Nadia agar bisa melangkah usai perpisahan dengan memberi jaminan masa depan anaknya Nadia di masukkan ke pesantren Darussallam.


"Jadi, rumor itu?" tanya Aminah lagi.


"Aku duduk di depanmu. Aku sedang melamarmu di sini, mengharapkan kau mau menjadi istriku. Lalu, apa artinya ini?" jawab Raditya.


Aminah kembali menangis, ia tak tahu harus menjawab apa. Karena dirinya sudah menyetujui tawaran pendidikan di luar negri.


"Aku akan ke Korea, aku masih ingin meraih mimpi, Bang.. jika kamu ti…."


"Aku siap menunggu!" seru Raditya. "Aku akan menunggu sampai kamu kembali, aku akan perjuangkan restu ibuku juga. Aku akan membangun sebuah istana untuk kita juga. Sampai kamu siap menjadi istriku, aku akan menunggu meski itu sangat lama untukku," ucap Raditya mantap.


Perasaan Raditya bukan sekedar main-main. Itu yang ia inginkan, tanpa pacaran dan tanpa ikatan tidak jelas itu, yang ia mau hanya bisa menjadikan Aminah sebagai pasangan sampai hari tuanya atau sampai maut memisahkannya. Jawaban Aminah akan ia berikan ketika Raditya mengatakan niatnya juga kepada orang tua Aminah saat itu juga. Tak lama setelah menikmati beberapa hidangan yang Raditya siapkan, mereka kembali menuju rumah Aminah dan menyampaikan niat baiknya.


Orang tua Aminah saat itu marah kepada Aminah karena bolos sekolah, Syakir menyuruh Raditya untuk masuk dan membahas masalah itu di dalam. Sebelum memulai pembicaraan, Raditya memohon maaf lebih dulu karena telah membuat Aminah bolos sekolah. Kira-kira, bagaimana reaksi Syakir dan Balqis ya?

__ADS_1


__ADS_2