
Malam itu, Airy bermimpi bertemu dengan Aisyah di sebuah ruangan yang sangat luas. Aisyah sedang duduk bersama dengan Handika, Ayah dari Leah. Airy berjalan mendekat, memastikan jika itu adalah Ami dan Kakek buyutnya.
"Ami, Kakek buyut." Panggil Airy.
Aisyah dan Handika menoleh. Mereka hanya tersenyum melihat Airy. Berlari lah Airy ke arah mereka. Lalu memeluk Aisyah dengan isak tangis. Meluapkan kekesalannya terhadap dirinya sendiri tentang suaminya. Aisyah hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala Airy dengan lembut.
"Mi, aku malu dengan Mas Adam Mi. Semua itu salahku bukan? Aku yang salah Mi, aku malu, aku nggak mau iku Ami saja." Ucap Airy di pangkuan Aisyah
"Kok Ami hanya diam saja sih, mana tersenyum lagi. Berikan aku pencerahan dong Ami. Kakek buyut! Aku pusing ini," Keluhnya.
"Hashyah! Kalian ini, hanya tersenyum terus sih. Ndak ada solusi ini, aku nggak kuat Mi, saat lihat Mas Adam tanpa busana bersama si ulet bulu kambing itu." Imbuhnya.
Terdengar suara Adam yang terus memanggil namanya. Ia juga mendengar suara permohonan Adam, agar Airy membuka matanya.
Airy bukalah matamu, aku dan anak kita sangat membutuhkanmu. Bukalah matamu, ini kesalahanku, tolong jangan hukum aku seperti ini.
__ADS_1
"Mas Adam? Suara pangeran ku, Mi. Ah, tapi aku malas melihatnya. Masih sakit hatiku," gumam Airy.
Aisyah hanya tersenyum, membelai kedua pipi Airy.
"Ahhh, iya aku yang salah. Aku akan selesaikan masalah nya. Assalamu'alaikum!"
“Airy bangun, aku sangat membutuhkanmu!” ucap Adam.
Mata Airy terbuka, perlahan ia melihat sekeliling. Kepala terasa pusing, ia juga melihat Adam tertidur di sampingnya. Dengan lembut, Airy mengusap bahu Adam, hingga Adam terbangun.
“Jangan tinggalkan aku, tubuhku kedinginan. Bisakah Mas Adam memelukku, aku butuh pelukan hangat dari Mas Adam.” Airy menahan tangan Adam.
Adam duduk di samping tempat tidur Airy, lalu menundukkan kepalanya. Adam masih malu jika harus menatap Airy, bahkan memeluknya saja masih harus butuh keberanian yang kuat.
“Bahkan, Mas Adam pun tak lagi mau memelukku?” tanya Airy.
__ADS_1
“Bukan begitu, sayang.Tapi, aku begitu tak pantas memelukmu lagi. Aku telah melakukan dosa yang begitu besar, aku juga sudah menyakiti hatimu, maafkan aku.” Jelas Adam masih saja menundukkan kepala nya.
Berusaha sekuat tenaga, tangan Airy meraih wajah Adam. Dengan perasaan menyesal juga, Airy mengucapkan,
“Maafkan aku juga, Mas. Orang yang harus di salahkan adalah aku, andai saja aku tidak memintamu untuk ...”
“Sst, jangan bicara lagi. Kamu tidak salah, sayang. Aku yang salah, harusnya aku lebih waspada terhadap wanita seperti itu. Maaf ya, bisakah kita memulai dari awal lagi? Ada junior kita yang masih membutuhkan kasih sayang orang tuannya.” Ucap Adam.
"Tapi Mas Adam sudah berhubungan badan dengan dia. Apakah, itu tidak suatu dosa yang tidak perlu di tanggung jawabkan?" tanya Airy.
Adam menggenggam tangan Airy, lalu membelai pipinya, serta mencium lembut keningnya.
"Hanya kamu satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi, baik secara diri atau resmi, hanya kamu yang layak, sayang. Dan aku tidak yakin melakukannya dengan Sari." Tutur Adam
Airy tak sanggup menahan air matanya, ia pun menangis di pelukan Adam. Dalam hatinya, ia juga tak percaya jika suaminya melakukan hal senonoh itu. Tetapi, ia melihat sendiri Adam bangun, tanpa busana di tempat tidur yang sama dengan Sari.
__ADS_1