
"Itu, bukannya anak yang kemarin? Dengan siapa dia?" gumam Yusuf melihat dari kejauhan.
Gadi itu terlihat sedang bertengkar dengan orang dewasa yang Yusuf duga, itu adalah Ibunya. Rambut dan warna kulitnya sama. Namun, Yusuf tidak tahu menahu kenapa mereka bertengkar. Awalnya masih melihat dari kejauhan saja, sampai ia merasa kesal ketika gadis itu di dorong hingga terjungkal dengan kepalanya yang membentur trotoar.
"Astagfirullah.. kenapa di dorong?" ucap Yusuf sampai berdiri. Karena tak tahan lagi melihat kejadian itu, Yusuf rela menyebrang untuk menghampiri mereka.
Pasangan Ibu dan anak itu bertengkar menggunakan bahasa inggris. Intinya si Ibu tidak mau mengurus gadis cilik itu lagi karena dirinya sudah menikah dengan lelaki lain. Begitu juga dengan Papanya yang sudah tidak menginginkan dirinya lagi, ia juga sudah menikah dengan perempuan lain.
Ibunya meninggalkan gadis itu begitu saja setelah mendorongnya hingga terjatuh. Melihat lutut gadis itu berdarah, Yusuf memintanya untuk duduk di depan toko lebih dulu. Ia akan membeli plaster dan obat luka untuk gadis itu.
"Kamu di sini dulu, ya. Aku belikan obat dulu buat lukamu, tunggu!" pinta Yusuf, ia berlari menuju toserba yang berada di sebelah toko dimana gadis itu menunggu.
Tak lama setelahnya, Yusuf kembali membawa obat merah dan plaster untuk gadis itu. Terlihat gadis itu diam dan tak berkutik ketika di olesi obat merah. Sesekali Yusuf melirik ke gadis cilik itu, buliran air matanya jatuh namun pandangan matanya masih kosong.
"Kamu menangis? Apakah ini sakit banget?" tanya Yusuf.
Gadis itu menatap Yusuf, lalu menggeleng.
"Rumahmu dimana? Biar aku antar kamu pulang, ya?" Yusuf khawatir dengan gadis itu.
Yusuf selalu begitu, dengan siapa saja memang baik, suka menolong orang yang sedang kesusahan. Tak pernah memandang siapa orang yang ditolongnya. Akan tetapi, gadis itu hanya bilang bahwa dirinya baik-baik saja dan ingin pulang sendiri.
"Kamu yakin? Dengan keadaan seperti ini?" tanya Yusuf lagi.
__ADS_1
"I'm fine, thanks for caring about me. I will repay your kindness one day, excuse me...." lirih gadis itu, berjalan dengan tertatih-tatih.
"Kamu yakin? Aku bisa mengantarmu, kalau kamu mau... aku akan mengambil motor dan menitipkan anak ini kepada orang rumah sebentar," usia 10 tahun dengan keadaan seperti itu, membuatnya mengingat keadaannya beberapa tahun silam di tinggal ibu dan ayahnya meninggalkannya untuk selamanya.
Mungkin beda nasib, tapi pasti sakit sekali ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya menjadi sandaran untuk anak-anaknya. Apalagi diusia yang memang masih butuh kasih sayang dari mereka.
"Cantik sekali adeknya, jaga dia ya, Kak. Jangan sakiti dia, aku pamit dulu, dadah...." gadis itu tetap tidak mau di antar oleh Yusuf.
"Cup!"
Dari kejauhan, Hamdan yang tengah menggendong Anthea memanggilnya. Yusuf pun kembali ke depan pesantren, lalu mereka pun membawa si kembar untuk jalan-jalan lebih jauh lagi.
"Haih, gini amat jalan-jalan bawa bayi. Segala macem dibawa, tas pula mana warna pink lagi, ya Allah...." gumam Hamdan.
Sesampainya di taman bermain, ternyata banyak sekali ibu-ibu di sana. Ada ibu muda sampai ke ibu yang sudah sepuh sedang menemani anak-anaknya bermain. Melihat ada dua berondong manis di depannya, para ibu itu langsung menyerbu-nya. Banyak sekali pertanyaan yang ibu-ibu itu berikan.
"Kamu umur berapa, nak? Kok, kelihatannya masih muda sekali?" tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Em, mau 18 tahun, Bu." jawab Yusuf.
"Terus kamu? Kamu kok mirip Jun Pyo yo? Ganteng-genteng udah punya anak, yang sabar ya. Jangan malu untuk mengakui kesalahan kalian, ayo sini biarkan anak kalian main bersama dengan anak-anak kita," imbuh Ibu itu dengan lantang tanpa titik koma.
Yusuf dan Hamdan hanya bisa senyum-senyum saja. Pasti mereka berpikir jika Yusuf dan Hamdan menikah muda karena hamil duluan. Mengingat mata Anthea juga sipit seperti Gu. Sama halnya Hamdan juga yang memiliki mata sipit juga.
__ADS_1
Lalu, Ayanna juga memiliki bibir dan hidung yang mirip dengan Yusuf. Sama seperti milik Airy, ibu itu yakin sekali jika mereka memang menikah muda. Sementara Ayanna dan Anthea main bersama dengan suster dari salah satu Ibu-ibu itu, Yusuf dan Hamdan diminta duduk diantara para ratu dalam menghibahkan sesuatu.
"Kita terjebak. Jun Pyo siapa, sih, Suf?" bisik Hamdan.
"Aku juga nggak tau. Kita nikmati saja moment bahagia ini," jawab Yusuf.
"Bahagia gundulmu!" ketus Hamdan.
"Kamu orang cina, ya? Matamu sipit, kulitmu putih, tapi kok pakai sarung. Kamu mualaf?" tanya ibu-ibu kepo lainnya.
"Ah, saya orang sini aja kok, Bu. Bukan orang cina, saya juga muslim dari lahir Alhamdulillah. Tinggal di pesantren Darussallam," jelas Hamdan dengan sedikit geregetan dengan pertanyaan ibu-ibu yang selalu menyebutnya orang cina.
"Lah, muslim sejak lahir kok berbuat zina sampai punya anak, sih? Kamu harusnya kasihan sama orang tuamu, mereka membesarkan kalian berdua pasti tidak mudah, kalian ini malah mengecewakan mereka dengan memiliki anak sebelum umur. Kasihan orang tuamu, pasti menangis," ibu-ibu sok tau juga muncul lagi.
Karena sudah kesal dengan tuduhan macam-macam dari ibu-ibu kece itu, Hamdan mengatakan jika dirinya cucu dari Ruchan, anak dai Kabir yang memiliki istri berasal dari Korea. Tapi ibu-ibu itu masih saja tidak percaya.
"Suf, ngomong kek. Malah diem-diem bae! Martabat kita sedang dipertaruhkan ini!" Seru Hamdan menyenggol lengan Yusuf.
"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu-ibu. Perkenalkan nama saya Yusuf Ali, dan ini saudara saya Hamdan. Sebenarnya, yang di ucapkan saudara saya ini benar adanya. Saya juga cucu dari Ustad Ruchan itu, saya anaknya almarhumah Ami Aisyah yang bungsu. Dan bayi-bayi itu, mereka anak dari kakak kami, yakni Kak Airy yang punya suami dari Jawa Timur, ibu-ibu pasti tahu Kak Airy, 'kan?" Yusuf menjelaskan itu dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Oooooo," jawaban yang mengesalkan.
Bahkan ibu-ibu itu juga tidak meminta maaf. Malah langsung menebak Airy yang sangat bandel di masa kecilnya. Memang susah jika bercengkrama dengan ibu-ibu rumpi model mereka. Bukan semuanya, tapi golongan ibu-ibu yang suka ghibah pasti begitu adanya. Tapi, Hamdan dan Yusuf tidak keberatan akan itu, karena mereka juga merasa tidak dirugikan.
__ADS_1