Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 224


__ADS_3

"Kalian, siapa?" tanya Airy.


"Kami penculik!" jawab salah satu dari 3 orang itu.


"Kenapa di kasih tau, sih?" timpal lain orang lagi.


"Kalian mau culik, aku? Kenapa? Buat di mintai uang tebusan ke orang tuaku? Ibuku sudah di alam sana, kalian mau nyusul, kah?" tanya Airy santai.


"Kita juga nggak tau kenapa kita harus menculikmu, tapi emang Bos menyuruh kita begitu. Mau ya kita culik?" jawab salah satu dari mereka.


"Mau yuk, kita culik. Nggak akan sakit, kok!" sahut yang lainnya.


"Nggak!" jawab Airy masih santai.


"Mau, ya?"


"Nggak!"


"Mau!"

__ADS_1


"Nggak!"


"Mau!"


Nggak! Kalian maksa banget, sih!"


Tidak sampai lima menit, mereka bertiga berhasil Air lumpuhkan. Sempat-sempatnya Airy menelfon ambulance untuk mereka. Bahkan Airy juga meninggalkan nomornya untuk petugas ambulance, jika suatu saat tiga penjahat itu tidak bisa membayar biayanya akan ia tanggung.


"Makanya, lain kali jangan sok-sokan nyulik orang. Pingsan ya pingsan deh kalian, Assalamu'alaikum!"


"Ayo Pepi, kita let's go!" seru Airy.


Airy pun melanjutkan perjalanannya ke kantor. Ia bahkan luka lebam di tangannya tak ia hiraukan. Bukan hanya membuat 3 penjahat tumbang, Airy bahkan bisa merobohkan pintu ruangannya dengan sekali tendangan.


"Bu Calista! Kenapa pintunya? Kok bisa roboh ya," ujar Nina.


"Em, itu anu. Ah, em nggak tau, tiba-tiba roboh, tolong ya!" Airy langsung masuk ke ruangannya.


"Aneh, perasaan baru 3 bulan ini ganti, deh. Apa pemasangannya nggak tepat, ya?" gumam Nina, berpikir keras.

__ADS_1


Pagi itu, Airy mencoba untuk menghubungi Adam lagi. Namun, lagi-lagi tidak Adam respon, sampai ponsel miliknya di lempar dan tidak sengaja mengenai Hasan, yang saat itu membawakan teh untuknya.


"Wadoh, untung ketangkep, jo! " jerit Hasan.


"Hp sebagus ini kok di buang to, Bu Calista? Kalau udah bosen kasih saya saja, saya masih mau nampung kok, hehehe," sambungnya.


"Enak aja, sini!" Airy merebut ponselnya dai tangan Hasan.


"Nih, pintu nanti suruh tukang benerin, ya. Taruh teh saya di meja, saya mau ke ruangan Pak Raihan dulu!" seru Airy.


Di rumah sakit, Hans menemui tiga orang suruhannya. Ia marah besar karena rencananya gagal. Dengan kasar, Hans memukuli tiga orang itu dengan sangat bringas.


"Bodoh! Kalian semua tidak berguna! Yang kalian culik hanyalah seorang wanita, kenapa juga sampai gagal dan malah masuk ke rumah sakit!" Hans emosi.


"Ternyata di pandai bela diri, Bos! Lenganku saja di patahkan olehnya, lalu wajah dia juga babak belur di buat wanita itu, Bos," ungkap salah satu dari ketiga orang itu dan menunjukkan wajah temannya yang babak belur.


"Kalian tanggung sendiri biaya rumah sakit ini, dan saya juga tidak akan memberikan kalian kompensasi sama sekali, dasar bodoh! Tidak berguna!"


Hans pun meninggalkan ruangan dan pergi. Ia begitu emosi, tender tidak ia dapatkan, wanita idamannya juga lolos dari penculikan yang ia rancang.

__ADS_1


"Sial! Airy harus menjadi milikku, aku harus cari cara lain untuk mendapatkannya!" gerutunya.


Di kantor, Airy merengek kepada Raihan karena suaminya tak kunjung memberinya kabar. Bahkan, pesannya hanya di buka dan tidak di balas sama sekali. Raihan mulai pusing dengan ocehan Airy yang terus saja merusak gendang telinganya, Raihan pun meminta adiknya itu untuk cuti terlebih dahulu. Agar tidak menggangu pekerjaannya.


__ADS_2