
"Nama lengkapmu, siapa?" Ceasy mencoba basa-basi dengan Laila.
"Laila Purnama Putri, Tante." jawab Laila.
"Tante ini, yang orang Korea itu, ya? Ibunya, Falih?" tanya Laila dengan hati-hati.
"Hahaha, kok Falih, sih? Anak Tante yang di sini itu, Gu dan Hamdan, memang Falih mirip ya sama tante?" Ceasy tertawa mendengar dugaan Laila yang mengatakan Falih adalah anaknya.
"Ya Allah, maaf. Laila gugup, jadi salah sebut deh," kata Laila menutupi wajahnya.
Ceasy terseyum, ia memahami bagaimana pusingnya jika memiliki banyak keluarga. Apalagi, semua anak di keluarga pesantren nakal dan usil, pasti susah untuk di hafalin. Laila ini sangat pandai dalam mengambil hati orang lain, dalam sekejap, ia bisa akrab dengan Ceasy dan beberapa keluarga lainnya. Di tambah lagi keluarga pesantren memang sangat baik.
-_-_-_-
Siang hari, setelah Aminah pulang sekolah, ia bertemu dengan Raditya di jalan sedang jalan kaki juga. Tanpa basa-basi lagi, Aminah langsung menyapanya, kebetulan Raditya juga akan ke rumah Adam untuk memberikan beberapa pesanan dari Ustad Zainal di kampung.
"Assalamu'alaikum!" salam Aminah mengejutkan Raditya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Amin? Ngagetin aja deh!" tentu saja Raditya kaget, karena suara Aminah begitu cempreng menusuk gendang telinga.
"Kok, Amin, sih? Setidaknya kalau nggak bisa panggil Aminah, ya Minah aja! Kenapa harus Amin?"
"He-he-he, iya deh. Aminah, yang berhati lembut," ucap Raditya.
"Gitu, dong. Bang Radit mau kemana?" tanya Aminah.
"Main ke rumah, Ustad Adam. Kebetulan ada beberapa barang yang harus aku berikan, kepadanya. Kenapa? Mau bawain?" jawab Raditya.
"Apaan, tau gini tadi nggak usah sok kenal," ketus Aminah.
Aminah mengerutkan alisnya. "Kalau pakai seragam sekolah begini, terus menuju pesantren, dari arah sono, yang berarti pulang dari ngarit! Kemana lagi?"
Berjalan berdua membawa beberapa barang, Aminah memang berbeda dengan Airy yang tak bisa jaga jarak dengan lelaki. Pikirannya terlalu modern, meski begitu, ia masih paham dengan apa arti batasan. Di sepanjang jalan, Aminah terus saja usil kepada Raditya, ia juga banyak sekali bicara tentang hal.
"Kau tau, Bang. Dulu, Bang Rai itu begitu dekat dengan kami semua. Dia paling kalem di antara kami, tapi.... Beban hidupnya sangat berat, dia kecil-kecil otaknya udah dewasa hahaha kasihannya,"
__ADS_1
"Apa lagi, dia paling sering kena keusilan kita. Yang bikin onar siapa, yang di marahi siapa. Dia Abang terbaiklah, pokonya!" lanjut Aminah dengan mulut comelnya.
Melihatnya tertawa lepas, Raditya melihat sesuatu pada diri Aminah. Ia teringat akan Nadia yang pernah dekat dengannya dulu ketika di pesantren.
"Kenapa Bang Dit lihatin aku gitu? Ati-ati, ntar naksir. Repot sendiri, nanti." Aminah sadar jika Raditya memandangi dirinya dengan pandangan lain.
"Min...!" panggil Raditya.
"Min? Kau pikir aku Amin, Parmin? Manggil yang bener, dong!" seru Aminah.
"Waw, aku terguncang," goda Raditya.
Mereka melanjutkan jalannya menuju rumah Adam. Sebelum itu, Aminah mampir dulu ke penjualan jajanan, ia membelikan beberapa jajanan untuk Airy dan Rafa.
"Bang, 3 porsi, ya." kata Aminah ke pedagang itu.
"Ternyata, adiknya Raihan semuanya unik. Nggak dari Airy, keempat adik lelakinya, dan sekarang Aminah. Keluarga unik banget, sih. Seneng kali ya kalau aku bisa jadi bagian dari keluarga ini, hahaha haluku," batin Raditya.
__ADS_1
Selesai jajan, mereka kembali berjalan ke rumah Adam. Tak lupa dengan tangan usil mereka saling menjahili satu sama lain. Kali ini, Aminah memang pulang sendirian, karena Mayshita sedang ada kegiatan tambahan di sekolah.