
Di tempat lain, Laila dan Bi Nar sedang riweh karena pekerjaan mereka menjadi double gara-gara Doni mengajak Rafa keluar. Mungkin sudah takdir, Bi Nar meminta Laila untuk menyetrika kemeja kesayangan Raihan, dan segera mengantarkan ke kantor.
"Apa? Aku, Bi? Yang bener aja?" ucap Laila.
"Iya, tolong lah. Bibi tak cari Doni sama Rafa dulu, tolong, ya!" ucap Bi Nar memohon.
"Ck, iya deh. Siniin kemejanya, tak setrikain," dengan mulut seperti ikan, akhirnya Laila pun mau setrika kemeja kesayangan Raihan.
Laila pun ceroboh, kemeja yang ia setrika gosong karena ditinggal ke kamar kecil. Ia mulai panik, bahkan sampai mengigit jarinya sendiri.
"Ya Allah. Apa yang udah gue perbuat? Ini kemeja kesayangan, mati gue. Pasti si bawel marah besar, dah!" gumam Laila.
Ia segera membungkus kemeja itu dengan plastik. Kemudian mengambil kemeja lain ke kamar Raihan. Ia akan menjelaskan nanti ketika sampai di kantor, dengan membawakan kemeja lain berwarna biru muda.
"Mana Airy nggak angkat telfon gue lagi. Haduh, tenang, tenang. Dia kan pemaaf tuh, pasti dia maafin gue, gue yakin, yakin seyakin yakinnya," ucap Laila sambil mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sampai di kantor, ia langsung menemui Raihan di ruangannya. Dengan di temani Ani, ia pun naik ke lantai atas. Melihat kegugupan yang terpampang jelas di wajah Laila, Ani pun bertanya, "Mbak sehat 'kan? Kok kelihatan agak gemetar gitu?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, gue sehat wal'afiat. Cuma jiwa gue yang masih ke guncang," jawabnya.
"Keguncang?" bisik Ani.
Sampai di depan pintu, jantung Laila berdegup kencang. Antara mau masuk atau tidak, ia masih ragu karena telah berbuat kesalahan.
"Jantung ini, malah udah kek selesai senam zumba, jedug jedug jeder!" batin Laila.
Tok tok tok..
Pintu di ketik oleh Laila, dan Raihan pun mempersilahkan masuk. Terkejut dengan kehadiran Laila, Raihan pun sampai meloncat dari kursi kerja ya.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Raihan dengan nada bicara lirih.
"Nganterin kemeja lah, ya kali ngapelin, elu!" jawab Laila.
Dengan perlahan, Laila menyodorkan tas berisikan kemeja pesanan Raihan. Ia juga sudah bersiap langsung kabur, tapi Raihan menyadari sesuatu dan berhasil menahannya untuk tidak kabur.
__ADS_1
"Mau kemana, mercon!" tanya Raihan dengan menarik kerah Laila menggunakan penggaris.
"Em, ketemu Bi Bos! Airy, gitu. Gue kangen," kilahnya.
"Ini maksudnya, apa? Yang saya pesan dengan Bi Nar warna putih, kenapa jadi warna biru muda, sedang jatuh cinta kamu?" tanya Raihan dengan nada menakutkan bagi Laila.
Laila pun menjelaskan, bagaimana kemeja putih bisa menjadi biru muda. Tentu saja, Raihan sangat marah, karena kemeja itu hadiah dari uang hasil jerih payah Airy sendiri.
"Ya maaf, aku tadi... tadi... "
"Keluar. Keluar!" Bentak Raihan.
"Iya gue keluar, nggak usah bentak juga kali. Gue juga punya hati dan perasaan, gue ini juga golongan wanita, yang di bentak sekali bisa menjadi luka yang membekas!"
Melihat air mata yang menetes dari mata, Laila. Raihan menjadi tidak enak hati, niatnya sudah baik membawakan kemeja ganti itu sampai ke kantor, dan bertanggung jawab membawa kemeja ganti yang lain.
Raihan pun menyusul Laila, dan memintanya untuk ke ruangannya lagi. Hal itu di ketahui oleh Airy, dengan jiwa pengen tahunya, Airy pun mengendap-endap untuk menguping pembicaraan meraka dadi luar. Karena Laila mau masuk keruangan Raihan lagi.
__ADS_1
Ada apa gerangan? Apakah Laila tetap marah? Atau malah akan terjadi sesuatu di antara mereka?