Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 102


__ADS_3

Tak hanya di manja, bahkan Adam sangat menyayangi dan mencintai Airy. Cara Aisyah dan Adam mendidik Airy sangat berbeda. Selama ini, Aisyah terlalu keras mendidik Airy. Lihat saja, tinggal bersama Adam belum ada dua bulan saja, Airy sudah menjadi istri yang penurut.


"Tadi aku berkelahi sama tiga orang laki-laki yang berhenti tepat di depan aku dan Rindi. Kami hendak mau dibawa Mas. Untung saja, aku diajari bela diri sama Uti, jadi bisa melawan. " Jelas Airy dengan memeragakan caranya melawan tiga pria itu.


"Sari kan? Aku tadi pagi juga mendapat pesan dari Sari. Kenapa juga dia bebas secepat itu! " kesal Adam.


"Aku sudah menelfon tante Clara. Mulai besok, aku akan mengantar dan menunggumu saat di kampus. Aku tidak ingin, hal ini terulang kembali. " tutur Adam mencium kening Airy.


Membaca pesan dari Sari membuat Airy geram. Yang ia goda adalah suaminya, bagaimana ia tidak marah. Namun, dengan sabar Airy tetap bisa tenang, agar Adam tidak semakin panik. Airy membalikkan tubuhnya,


"Pijit..!! " pinta Airy.


"Masya Allah, sini aku pijitin. Mau denger cerita nggak?" tanya Adam sambil memijat bahu Airy.


Berbagai macam cerita Adam ceritakan, sampai-sampai Airy tertidur. Adam merebahkan tubuh Airy dengan sangat pelan, saat tidak sengaja membuka baju Airy, dan tersenggol sedikit dibagian perutnya. Airy menyeringai kesakitan.


"Aw, " rintih Airy.


Melihat ada lebam di perut istrinya, Adam langsung meminta Airy untuk istirahat total. Ia menjadi heboh sendiri, bahkan ia tergesa-gesa ingin membuat perhitungan dengan Sari. Jika benar Sari dalang dari semuannya.


"Mau kemana? " tanya Airy menahan tangan Adam.


"Dia menyakitiku, biarlah menjadi urusanku. Untuk sekarang, Mas Adam lebih berhati-hati saja, InsyaAllah ada jalan keluar kok. Temani aku bobok dong, butuh pelukan hangat aku." ucap Airy sambil merentangkan tangannya.


Karena Airy bilang seperti itu, ia pun menemani Airy untuk beristirahat. Sementara Rindi, ia sudah sampai dirumah Sari, dan ia pun mendapati Sari sedang minum-minuman. Tanpa salam tanpa apa, Rindi langsung merebut botol wine yang ada di tangannya, lalu membuangnya.


Pyarrr...


Suara botol wine itu pecah di hadapan Sari. Sari menoleh kearah Rindi, beberapa anak buahnya merasa kesal dan hendak menangkapnya. Namun Sari melarangnya.


"Jangan sentuh dia..!! " tegas Sari.


"Mbak ini emang nggak punya akal sehat ya, pakai jilbab minum beginian. Ndak ada adab kalau gitu! " seru Rindi.

__ADS_1


"Rindi, memang kenapa kalau aku minum beginian? Bukan urusanmu kan? Lalu, angin apa yang membawamu kemari, hingga mau mampir ke singgah sanaku ini sayang, " tanya Sari sambil menyentuh pipi Rindi.


Rindi mengelakkan wajahnya, bahkan ia serasa tak sudi di sentuh oleh tangan kotornya. Dengan kelicikannya, Sari pun menawarkan sebuah tawaran bagus kepada Rindi. Apakah Rindi tergoda?


"Mbak Sari jangan ngadi-ngadi ya! Cukup!! Jangan lagi seperti ini, biarkan mereka hidup bahagia!! " kesal Rindi.


"Ini tawaran bagus sayang, jika kau mau membantuku memisahkan Adam dengan Airy, kau akan untung. " Ujar Sari.


"Pendusta!! Kau ini pendusta Mbak. Mbak lupa? Kita ini mecintai orang yang sama, bedanya, aku sudah mulai move on, sedangkan kau masih berhalusinasi!! " kesal Rindi.


Mendengar ucapan Rindi membuat Sari semakin kesal padanya. Ia menyuruh dua ajudannya untuk memberinya pelajaran. Dua ajudannya itu menarik Rindi dan membawanya masuk kedalam ruangan gelap. Entah apa yang dilakukannya, namun teriakan dari Rindi membuat Sari tertawa puas.


****


Di Kairo,


Raihan sedang duduk bersandar di sudut tembok perpustakaan, ia masih terfikir kan akan wanita dan anaknya itu. Ia sangat penasaran dengan kejadian atau kemalangan apa yang sudah terjadi kepada wanita itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Ngaggetin aja kalian berdua, aku belum ngantuk kali..! " jawab Raihan sedikit kesal.


"Kirain lagi baca, atau belajar, ternyata lagi ngelamun. Ngelamunin apa sih kamu Rai? " sahut Diaz.


Raihan menutup bukunya. Ia menengok kanan kiri, lalu menceritakan tentang wanita yang sebelumnya menitipkan bayinya kepada mereka.


"Sudahlah ndak usah dibahas, bikin ngelu ning sirah (di kepala), bahas yang lain aja lah, " ucap Diaz.


"Bukan gitu, harusnya, kita bantu itu jangan setengah-setengah. Aku masih penasaran sama masalah dia sama suaminya, lihat luka lebam dan memar di wajahnya, buat aku merinding. " Kata Raihan.


"Iya juga, setiap kali aku aja komunikasi, matanya selalu berkaca-kaca. Bahkan saat aku nggak sengaja lihat, telapak tangannya terluka, seperti luka bakar gitu. " sahut Raditya.


"Pasti suaminya jahat, udah lah! Ndak usah ikut campur masalah rumah tangga orang lain, ini bukan negara kita juga, jadi nggak usah banyak tingkah. Ayo kembali ke asrama! Aku udah ngantuk!" Diaz sudah sangat lelah dengan belajar di kampus sana.

__ADS_1


Walau masih mengganjal dihati, tapi kata-kata Diaz ada benarnya. Sebaiknya Raihan dan Raditya tak terlalu masuk dalam urusan rumah tangga orang lain. Saat mereka hendak kembali ke asrama, wanita itu muncul lagi. Kali ini, ia ingin meminta bantuan kepada mereka untuk diantarkan kepada kakaknya, yang jauh diluar kota. Kakaknya seorang pengacara, ia ingin menemuinya dan meminta bantuannya.


"Wanita itu lagi? Kali ini dimana anaknya? Jangan-jangan, ayo sebaiknya kita bergegas ke asrama. " Ajak Diaz sambil menarik tangan Raihan dan Raditya.


Wanita itu terus melambaikan tangannya sambil berlari menuju kearah mereka bertiga. Hati Raihan dan Raditya semakin teriris saat melihat wanita itu terjatuh. Raihan pun melepaskan tangan Diaz, lalu berlari ke arah wanita itu, ia juga membantunya berdiri.


"Hal 'ant bakhyr? (Apakah kamu tidak apa-apa?) " tanya Raihan.


Wanita itu memberikan secarik kertas, lalu pergi begitu saja sambil mengucapkan salam menggunakan bahasa isyarat. Wanita itu berlari sangat cepat, Raditya dan Diaz pun menghampiri Raihan.


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, " ucap Raihan.


"Kemana larinya? Ada apa lagi? " tanya Raditya.


Raihan memberi tahukan surat itu, lalu meraka pun segera masuk ke asrama, karena mereka tidak bisa melewati jam makan malam. Setelah selesai ikut makan malam, mereka bertiga langsung ke kamar dan membaca surat itu.


"Lagi-lagi surat, ahh wes to ono-ono wae lah..!! (Ada ada aja) " ucap Diaz.


"Bisa diam nggak? Protes mulu sih, dah sana tidur..!! " kesal Raditya.


"Tau nih, kalau dia sedang kesulitan bagaimana? Brisik banget deh..!! " Raihan mulai kesal dengan Diaz.


Shukraan lakum tawal alwaqt saeiduni ya rifaqa. Hal yumkinuni talab almazid min fadlik?


'Akhi , muham fi albaldat almujawirati. Hal tazeajni maratan 'ukhraa?


Khadhani hunak? Baed yawmayn sa'aeud 'iilaa salat nawmakum , 'Arjukum!


Terima kasih, selama ini kalian telah menolongku. Aku boleh minta tolong lagi tidak?


Kakak lelakiku, seorang pengacara di kota sebelah. Maukah kalian diepotkan lagi denganku?


Antar aku kesana? Dua hari lagi aku akan kembali lagi di depan asrama kalian.Tolong!

__ADS_1


__ADS_2