Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 72


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Airy hanya diam saja. Ketika Adam menanyakan kenapa? Airy malah mengeratkan pelukannya di perut Adam. Ada sesuatu dari kisah Pak Furqon yang belum Adam ketahui.


Dalam keheningan sore itu, lamunan Airy terpecah karena ada yang melempar botol susu beruang ke pipinya yang mulus itu. Tepat saat mereka berhenti di lampu merah, namanya juga Airy, ia terpancing dan kesal, lalu turun dari motornya.


Tok... tok....


Airy mengetuk kaca mobil itu, pemiliknya membukanya, lalu di lempar lah botol kaleng itu ke pangkuan orang itu.


"Lain kali, kalau buang sampah pada tempatnya, jangan sembarangan lagi. Wajahku ini bukan sampah!" Tegas Airy.


"Heh, suka-suka saya dong, kamu anak kecil nggak ada akhlak ya, ngomong sama orang yang lebih tua begitu!" lebih galak ibu-ibu itu.


"Wah, segala payung di getok kini kepalaku, kalau berani tangan kosong dong. " tangan Airy sudah maju, Adam dan beberapa orang melerai perkelahian antara Aisy dan ibu-ibu itu.


"Airy cukup, dia ini orang tua, kita harus hormati dia, udah ya, ayo kita pulang, " ajak Adam dengan lembut.


"Hormati? Orang kayak dia? Lihat pipiku, sampai merah kayak gini masih harus dihormati?" tanya Airy kesal.

__ADS_1


Ibu itu tiba-tiba mengangkat tangannya, tetapi berhasil Adam cegah. Tak ada seorang pun yang bisa menyentuh Airy kecuali Adam dan orang tuanya. Adam langsung menarik Airy ke pinggiran dan kembali mengemudikan motornya, karena lampu sudah berganti hijau.


Sampai depan gang, Adam berhenti. Ia menanyakan hal apa yang membuat Airy mudah marah seperti itu.


"Kenapa berhenti!" kesal Airy.


"Ada apa denganmu hari ini? Tidak seperti ini biasanya loh, ini bulan puasa Airy, kita harus banyak bersabar, " tutur Adam.


"Nggak seperti biasanya? Aku memang seperti ini Ustad, jika anda tidak suka denganku, pergi sejauh mungkin, aku muak dengan semuanya. Difikir mengingat guru itu aku nggak kesal apa." Airy berjalan kaki menunju pesantren.


Amarahnya Airy membuat Adam khawatir, Adam terus mengikuti langkahnya dari belakang. Setiap ada pohon, Airy memukul pohon itu sampai berdarah, ini cara Airy meredam kan amarahnya.


Sampai di rumah, tangan Airy penuh dengan luka, dan beruntung bedug juga sudah di tabuh, waktunya berbuka puasa. Adam menyiapkan semuanya, tetapi Airy masih saja duduk di kamar dan mengurung diri.


"Assalamu'alaikum, buka yuk, udah waktunya buka." tutur Adam.


Airy masih diam saja.

__ADS_1


"Airy, jangan gini dong." ucap Adam lemah.


Tetap saja Airy masih diam saja.


"Maafkan aku ya, aku salah menanyakan itu. Mau baikan?" Adam mengarahkan kelingkingnya, duduk di depan Airy.


Melihat ketulusan Adam, Airy jadi luluh. Ia mengerutkan bibirnya dan merentangkan tangannya minta di peluk. Dengan malu-malu, Adam memeluk Airy, pelukan itu membuat Airy menjadi nyaman.


"Buka yuk, udah bedug. Aku juga sudah siapin semuannya. Setelah ini, kita tarawih, lusa sudah lebaran lohh, pengen mudik nggak? " tanya Adam.


"Mudik?"


"Tapi, kalau mudik malam lebaran psti ramai Ustad," jawab Airy.


"Alhamdulillah hirrobbil'alamin, akhirnya mau jawab juga. Kita fikirkan nanti ya, sebaiknya kita buka dulu, ayo. " Adam menggenggam tangan Airy kedapur.


Masalahnya belum selesai, masih janggal dengan kenapa Airy kesal dan sampai marah seperti itu, saat temannya itu mengungkit masalah lalu dengan guru itu.

__ADS_1


__ADS_2