Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 352


__ADS_3

"Ma, hp-ku... di mana? Aku harus hubungi guru dulu, kalau aku hari ini tidak bisa hadir," alasan Aminah.


"Di mobil," jawab Balqis, ia tahu jika Aminah ingin mengejar Raditya.


"Sayang deh sama, Mama!" bisik Aminah kepada Balqis.


Aminah langsung keluar menyusul Raditya. Melihat Raditya duduk bersandar di dinding garasi, Aminah mendekati dan mencoba menghiburnya. Masih ada waktu untuk meraka membicarakan perasaan masing-masing.


"Assalamu'alaikum," salam Aminah duduk di sebelah Raditya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Raditya lemas.


"Aku ke Singapura saja, ya... masih banyak waktu untuk menolak perjodohan itu. Masih ada cara agar aku tidak menikah dengan kakak dari lelaki yang aku sukai. Daripada menimbulkan masalah seperti ini, lebih baik aku yang pergi," ucap Aminah.


"Jujur, aku juga nggak mau menikah dengan cara seperti ini. Tapi, aku lebih suka dijodohkan dengan lelaki lain, daripada harus menikah dengan Mas Rasid, aku nggak akan sanggup melihat Bang Radit setiap harinya," imbuhnya.


"Bolehkah aku egois? Aku pernah jatuh cinta, dan aku tak bisa memilikinya karena membiarkan dia pergi. Tapi, cinta yang saat ini aku rasakan berbeda dengan cinta yang dulu, dan aku tidak ingin membiarkan cinta ini pergi, Minah! Bisakah...." air mata Raditya menetes di pipinya.


Seperti yang banyak diketahui, air mata lelaki itu banyak mengalir karena ketulusan. Begitu juga ayang dialami Raditya, semasa kecil sampai dewasa, kasih sayang Ibunya selalu tertuju kepada Rasid. Memang mereka berbeda Ayah, Ibunya tak pernah cinta dengan Ayahnya. Tapi, Raditya tetap lahir dari rahimnya.


"Jadi, itu kenapa Bang Dit mondok dari kecil. Terus kuliah di luar negri, pulang pergi ke pesantren keluargaku, tanpa dikhawatirkan orang tua?" tanya Aminah.


"Kurang lebih begitu, tapi... aku tetap menghormati Ibu dan Mas Rasid. Hm, tapi untuk kali ini, aku nggak bisa mengalah lagi, aku berdosa telah mencintaimu. Tapi kita juga tak memiliki hubungan yang pasti, pacaran pun juga tidak mungkin, maka... jika kamu ingin pergi, tolong kembalilah untukku," Raditya kembali meneteskan buliran mutiara matanya.


"Aku harus bagaimana? Dia aja bimbang dengan Ibunya yang keras kepala itu, lalu... aku harus berbuat apa? Kali ini, aku hanya bisa membatalkan perjodohan itu." batin Aminah.

__ADS_1


Disisi lain, Aminah juga tak ingin pergi jauh dari Raditya. Semua akan ia pikir akan dengan matang lagi. Usia lulus, jika memang masih belum mendapatkan restu, Aminah akan pergi ke Singapura.


"Bang...."


"Hm?"


"Aku juga berdosa mencintai lelaki yang belum menjadi mahramku. Tapi... hati ini tetap nggak bisa bohong, Bang. Kau jatuh cinta terlalu dini, tapi...," ucapan Aminah terpotong.


"Tapi dan tapi, cinta kita banyak tapinya.. haih, Allahumma Inni audzubika minal hammi wal huzni wal ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wal dholaid daini wa gholabatir rijali. Huft!" Raditya menyeka air matanya.


"Lalu...,"


"Hm?"


"Kita serahkan semuanya kepada Allah. Jika kita berjodoh, pasti akan ada jalan untuk kita bersatu. U tuk saat ini, sebaiknya kamu sekolah dulu yang rajin. Lukis dengan nilai bagus, dan aku akan terus berusaha mendapatkan restu Ibu." tukas Raditya menyentuh kepala Aminah ponselnya.


Memang Rasid ini tukang nguping. Ia mendengarkan pembicaraan Adiknya dan Aminah. Memang belum ada perasaan apapun kepada Aminah. Namun, ia mulai tertarik dengan sifat uniknya gadis pesantren itu.


Pertemuan itu tak membuahkan hasil, Ibunya Raditya menolak permintaan tolakan perjodohan itu. Ia tetap berpegang teguh dengan warisan yang diberikan kepada keluarganya. Itu juga yang membuat Syakir dan Balqis berpikir keras tentang masa depan putrinya.


"Jadi...? Apakah kalian membuahkan hasil?" tanya Aminah.


"Kenapa? Ada apa dengan Ibunya Raditya itu? Kenapa dia bersikeras? Hm, patut di curigai ini, Bi!" seru Balqis.


"Setuju!" sahut Aminah. "Mencurigakan banget, pasti ada daun bawang di balik omelet!" imbuhnya.

__ADS_1


"Aminah, Mama.. kalian ini ya. Jangan su'udzon dulu lah. Siapa tahu, memang ini wasiat yang harus dijalankan. Kalau memang Aminah ndak mau menikah dengan Rasid.. ya sudah, setelah lulus dua ke Singapura dan Sarah yang kesini, bagaimana?" dalam hati Syakir yang terdalam, dirinya pun tak ingin Aminah menikah secepat itu juga. Ia belum siap untuk ditinggal putrinya menikah.


-_-_-


Jam istirahat di perpustakaan. Kali ini, Yusuf memilih makan di perpustakaan, tentu saja atas izin petugas perpustakaan, ia hanya tidak ingin banyak gadis yang duduk di depannya untuk makan siang. Itu sangat menggangu dirinya sebagai orang yang tertutup dari yang belum mahramnya.


"Nggak gaul banget, sih. Masa dia pergi gegara nggak mau makan bareng sama cewek lain? Sok suci!"


"Bukan hanya sok suci saja. Aku rasa, dia memang sok 'alim untuk menutupi kelakuan aslinya. Haha, bukankah itu yang dilakukan orang munafik seperti dia?


Umpatan itu Yusuf dengar dengan jelas. Tutup telinga, itu yang seharusnya Yusuf lakukan. Menutup diri dari yang bukan mahramnya itu bukanlah hal yang di sebut munafik. Karena pada dasarnya, dengan Cindy saja ia masih bisa biasa saja. Tapi, lebih dari 1 orang, itu hanya akan membuatnya terganggu. Karena mereka bukan hanya makan siang bersama, tapi juga menanyakan hal yang tak seharusnya ditanyakan pula.


"Suf, kamu di sini?" tanya Cindy.


"Iya, aku...."


"Kok kamu diperbolehkan makan di perpus, sih? Ah, aku lupa kalau kamu istimewa di sekolah ini, hehehe," kata Cindy duduk di depan Yusuf, lalu membaca bukunya.


"Tadi, di kelas rame banget. Semua cewek pada nungguin kamu makan siang. Nggak bebas banget tau kalau begitu!" seru Cindy. "Kamu sudah tepat mengambil langkah ini, besok ajak aku tapi ya. Aku malas juga ditanyain tentang kamu di kelas," Cindy ini memang sangat bawel, tingkahnya juga lucu.


"Maaf telah menyulitkanmu. Besok sebaiknya kita makan bertiga saja, kau, aku dan Fatur. Bagaimana?" usul Yusuf.


"Setuju!"


Yusuf masih harus menyesuaikan diri, itu adalah pilihannya. Jika memang banyak cewek yang mendekatinya, itu seharusnya tidak menjadi halangan baginya untuk menuntut ilmu. Yusuf juga akan menganggap hal itu hanya cobaan saja.

__ADS_1


__ADS_2