
Tak adanya Yusuf di kelas, semua membicarakannya di group chat kelas. Bahkan, ada juga adik kelas yang naksir kepadanya. Akan tetapi, masih saja tanggapan Yusuf tidak ada. Ia bahkan memilih tidak membuka chat daripada tidak enak karena harus membalasnya.
"Hm, lihatlah group kelas kita. Rame banget bahas kamu, bahkan kelas sebelah pun ikut penasaran dengan yang namanya Yusuf Ali. Haha, selamat, Boy! Kamu mulai populer di sekolah ini, daebak!" seru Cindy masih sibuk membalas satu-satu pertanyaan di grup itu.
"Baiklah, aku juga akan membalas chat mereka ini sekali," ujar Yusuf mengeluarkan ponselnya.
[Assalamu'alaikum, maaf jika aku tidak pernah ngikuti aktivitas maupun menyimak di group. Aku sangat bahagia kalian menyambutku dengan baik, sukron. Tapi, maaf sekali lagi, nggak bisa balas chat kalian juga. Karena memang jarang pegang HP]
Pesan dari Yusuf seketika membuat isi group heboh. Mereka yang menyukainya memberikan semangat, bagi mereka yang tak menyukai Yusuf malah menghina dan mencaci Yusuf sebagai orang yang munafik. Namun, itu tak akan ia masukkan ke dalam hati. Ingat kisah sang Kakung, saat beliau menjadi pendakwah, banyak yang menghina dan mencacinya saat itu. Akan tetapi, Ruchan sang Kakung-nya ini tak pernah membalas kebencian mereka. Sejatinya, orang yang berakhlak akan jauh di segani oleh orang yang mengerti, dari pada tanggal sok mengerti.
"Haha, kau dapat haters juga, Suf. Aneh mereka ini, belum kenal saja sudah ngejudge gini," lirih Cindy.
"Kau tak ingin membacanya, itu hanya akan menjadi penyakit hati." ucap Yusuf, ucapannya itu membuat Cindy mulai menyukainya. Memang belum lama mereka, baru dua hari saja sudah membuat Cindy terpikat, tapi Cindy tahu, jika cowok seperti Yusuf ini susah untuk dikejar.
Belum berbunyi, Yusuf dan Cindy kembali ke kelas. Jam pelajaran biologi, guru meminta siswanya membentuk kelompok. Satu kelompok berisikan 4 orang, banyak yang berharap bisa menjadi satu kelompok dengan Yusuf. Bukan hanya cewek saja, para cowok pun juga tak kalah ingin satu kelompok dengannya, mereka tahu jika Yusuf siswa tercerdas menggeser Candra, siswa paling cerdas di sekolah itu.
"Suf! Hey, anak baru! Ayo, kita satu kelompok. Mayan, nanti ke rumahku, aku punya game bagus yang baru aku beli!" seru salah satu siswa cowok paling bandel.
Semuanya bergaduh....
"Kelompok akan Ibu yang pilihkan. Yang depan ke belakang, bentuk empat orang dalam 1 kelompok, dan barisan ke tiga juga kebelakang. Seterusnya seperti itu, biar adil," ujar guru, sedikit tegas karena kelas menjadi ramai.
Yahh.....
Semua siswa kecewa, guru melakukan itu karena tidak ingin ada yang pintar hanya dengan siswa yang pintar saja. Sementara itu, kelompoknya Yusuf terdiri dari Cindy, Jihan dan juga Fatur.
"Tugas ini dikumpulkan paling lambat lusa. Ibu tidak mau tahu, tidak ada protes dan tidak boleh ada yang tidak mengumpulkan. Paham?" tegas Guru.
__ADS_1
"Ya, Bu...."
"Baiklah, sekarang bersiap untuk pulang!" lanjut Guru itu.
Tentu saja hal itu membuat beberapa siswa dan siswi menjadi kesal. Yusuf dipandang sombong dan munafik lagi. Hanya karena guru memihaknya, semakin lama semakin banyak yang tak menyukainya.
"Haih, pusing dah. Ya Allahu Ya Rabb, begini amat ya berusaha menjadi orang baik. Ada saja yang tak suka, tapi tak apa, aku harus selalu sabar." batin Yusuf
Usai sekolah, Cindy mengatur jadwal belajar kelompok akan di adakan di rumah siapa. Karena tidak mungkin di rumah dirinya, Cindy mengusulkan untuk ke rumah Yusuf, tentu saja dengan menyelam minum air. Ditambah lagi, rumah Fatur dan Jihan taunya jika Yusuf tak memiliki ke kendaraan.
"Kenapa harus di rumahku?" tanya Yusuf.
"Minggu, rumahku dipakai buat minggu pagi sama-sama anak kecil se-komplek. Yah, kalian harus tahu karena agamaku beda dengan kalian," jawab Cindy.
"Rumah kita jauh, dari gang rumahmu, Yusuf. Jadi, kita ambil sisi tengahnya aja. Kita tahu kok kalau kamu pasti kesulitan jauh-jauh ke rumah kami, bagaimana?" sahut Jihan.
Yusuf menghela nafas panjang. Batinnya, ia bingung juga, karena minggu, rumah akan dipakai oleh Gu untuk acara makan-makan dengan karyawan restoran barunya. Mau tidak mau, Yusuf harus mengajak mereka ke rumah Kakaknya.
"Oh, tidak bisa! Kami mengerti keadaanmu, jadi biarkan kami yang mengalah. Aren't we, soib? Haha, we should understand each other, right?" ucap Fatur.
"Baiklah, besok kita kerjakan tugas ini di rumahku," Yusuf pun tak ingin menolak lagi.
"Ok, gang samping pesantren, bukan?" tanya Fatur.
"Bukan, kalian tunggu saja di depan gapura pesantren." Yusuf menatap arlojinya. "Baiklah, aku pamit dulu. Assalamu'alaikum!" pamitnya menoel lengan Fatur yang katanya akan mengantarnya pulang.
Tak hanya itu, Yusuf juga mengatakan akan membalas chat teman perempuan sekelasnya, tapi hanya seperlunya saja. Bukan harus terus membalas dan malah menimbulkan dosa baginya.
__ADS_1
"Yusuf berbeda, ya. Hm, tapi sayangnya, cowok seperti dia pasti susah dikejar," desis Jihan kepada Cindy.
"Dia mengejar Tuhannya, lalu umat Tuhan mengejarnya. Sederhana, tapi ujiannya berat. Salut dengannya yang mampu bertahan dengan keyakinannya di usia semuda ini," ucap Cindy.
"Kau mulai menyukainya, 'kan?" tanya Jihan tiba-tiba.
"Hm, mana mungkin. Aku cukup sadar diri saja. Ayo pulang!" elak Cindy.
Sampai di gang utama, Yusuf meminta Fatur untuk berhenti sampai di situ saja. Karena Falih dan Hamdan tengah menunggunya di depan gang. Bahkan tidak hanya menunggu, terlihat tangan Hamdan menenteng kresek putih yang kemungkinan membeli makanan.
"Yakin nih? Rumah kamu masih jauh, 'kan? Ayo biar aku antar, nggak papa, kok...." desak Fatur.
"Di sini saja, Bro. Mereka juga sudah menungguku, terima kasih, ya. Assalamu'alaikum!" salam Yusuf langsung berlari ke arah Falih dan Hamdan.
"Wa'alaikumsalam, siapa mereka? Seragam yang sama dengan yang Yusuf pakai kemarin. Apakah mereka sahabatnya? Hm, tanya nanti sajalah!" cuma. Fatur.
Kresek putih itu, ternyata jajanan pasar yang baru saja Hamdan beli dari seorang nenek renta dengan jalannya yang sudah membungkuk. Ia berencana akan membagikan jajanan itu kepada anak-anak di masjid nanti.
"Wah, tapi maaf nih. Kak Airy memintaku ke rumahnya. Kalian bisa berangkat dulu nggak ke masjid-nya nanti, aku akan menyusul," sesal Yusuf.
"Untuk apa Kak Airy memintamu ke sana? Apakah ada masalah?" tanya Falih.
"Bukan!" seru Yusuf.
"Hish, biasa aja kali, ah!" sulit Hamdan mengelap wajahnya yang terkena semprotan dari Yusuf.
"Hehe, maaf...," ucap Yusuf mengelap wajah Hamdan menggunakan lengan tangannya, ada-ada saja. "Kak Airy memintaku membawa motornya, agar bisa aku pakai buat sekolah. Karena dia ingin aku buat SIM juga," lanjutnya.
__ADS_1
"Semangat!" ucap Hamdan dengan mengangkat tangannya.
Tak ada iri hati di antara mereka. Karena Falih dan Hamdan juga tidak mungkin membuat SIM. Mereka pun pulang dengan riang gembira, disambut oleh rantang yang sudah disiapkan Airy di depan rumah.