
Hari pertama Yusuf sekolah di sekolahan yang berbeda dengan Falih dan Hamdan. Mereka berangkat bersama sampai depan gang dan berpisah dengan angkotnya masing-masing. Ingin sekali Falih dan Hamdan ikut pindah bersama, namun mereka juga tidak akan membebani orang tuanya akan dengan itu.
"Ah, kenapa mesti pindah, sih, Suf?" tanya Falih.
"Nggak enak banget kalau kek gini. Biasanya kita kemana-mana bertiga, sekarang...." sahut Hamdan.
"Haih, mbocai. Mung sekolah pisah we heboh, ngko lak yo ketemu maneh ning ngumah, Assallamu'alaikum!" ucap Yusuf sambil melambaikan tangan menyebrang untuk naik angkot. (Haih, kek anak kecil. Cuma sekolah pisah saja heboh, nanti kan juga ketemu lagi di rumah.)
"Wa'alaikumalaam warahmatullahi wabbarokatuh."
Berangkatlah mereka menggunakan angkotnya masing-masing. Sebelum itu, Airy sudah membawakannya bekal masing-masing untuk mereka berempat. Bahkan Gu saja tidak malu membawa bekal ke kampus, karena memang sudah terbiasa membawanya meski ada kantin di sana.
Sesampainya di sekolah, Yusuf langsung menuju kantor untuk memperkenalkan kepada Guru. Seluruh Guru takjub dengan nilai sempurna Yusuf, mereka pasti akan merekomendasikan nanti tenang kampus yang cock untu Yusuf. Guru-guru juga berterima kasih kepada Yusuf karena mau pindah ke sekolah itu.
Ternyata, sekolah itu sekolah yang sama dulu dengan tempat yang di pakai oleh Akbar dan Kabir sekolah. Seorang Pak Bon mengenali Akbar, ia juga bersikap baik kepada Yusuf waktu itu.
"Ayo, ikuti saya. Jam utama, saya mengajar di kelasmu. Semoga kamu betah ya sekolah di sini," ucap Pak Guru bernama Pak Woko.
"Bismillah, insyaAllah, Pak!" jawab Yusuf.
Guru itupun masuk dan menyapa seluruh siwa. Salam di sana juga tidak di guanakan dulu sebelum masuk kelas, tak sama dengan di sekolah lama Yusuf. Yusuf mengikuti gurunya, lalu sang guru memperkenalkan Yusuf kepada yang lain. Begitu saling menyapa dengan siswa lain, Yusuf di pinta duduk dengan salah satu gadis yang saat itu tidak mengenakan jilbab.
__ADS_1
"Hm, kenapa aku harus duduk di sebelah gadis? Tak memakai hijab pula? MasyaAllah, aku harus terbiasa dengan ini. Ingat, Suf! Di negaramu ini, agama bukan hanya agamamu saja. Aku harus biasakan itu!" batin Yusuf seraya berjalan ke bangku kosong di samping gadis itu. Di dekat jendela dan di barisan ke dua.
Seluruh siswi perempuan menatapnya, ia berjalan dengan pelan namun di tegakkan badannya. Yusuf terlalu dingin dengan siswi perempuan di sana, jadi pandangannya hanya ada di bangku kosong itu, sesekali menunduk.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai pelajarannya, ya.. buka paketnya halaman 20. Dan cermati setelah itu kerjakan tugas di halaman sebelumnya." perintah Guru.
Semua siswa mulai membuka bukunya, termasuk Yusuf yang masih baru dengan paket mata pelajaran itu. Ya meski pelajarannya sedikit berbeda, tapi Yusuf bisa mengerjakan soal itu dengan mudah. Bahkan selesai sebelum siswa lain selesai mengerjakannya.
Pagi itu hujan deras dengan tiba-tiba beserta angin sedikit kencang. Hembusan angin itu masuk dari jendela kelas, menerpa tubuh Yusuf yang ada di pinggir jendela. Sehingga wangi tubuh Yusuf sampai tercium oleh teman sebangkunya.
"Hm, nih cowok wangi bener, mana wanginya enak lagi, kenalan nggak ya…." batin gadis yang ada di sampingnya.
Gadis itu sesekali mencuri-curi pandang kepada Yusuf, ia penasaran dengan remaja tampan di sampingnya itu. Melihat ada tasbih digital di tempat pensilnya, gadis itu tersenyum manis. Jarang sekali ia menemui cowok seusianya membawa tasbih digital di tempat pensilnya.
"Oh, iya. Kamu?" jawab Yusuf basa-basi.
"Namamu siapa tadi? Aku tidak begitu mendengarnya, hehe maaf. Aku sering memakai ini sebelum pelajaran di mulai," ucap gadis itu menunjukkan earphone bluethootnya kepada Yusuf.
"Em, namaku Yusuf Ali. Aku pindahan dari MA 1 Jogja," jawab Yusuf. "Kalah boleh tahu, apa yang kamu dengar? Musik apa itu?" tanya Yusuf.
"Ah, MA. Salam kenal, ya. Namaku Cindy Kristiani Novi. Kamu bisa panggil aku Cindy," jawab gadis itu menunjukkan nametag-nya yang ada di bajunya. "Oh, soal apa yang aku dengarkan, aku mendengarkan pastorku, hehe aku sering bolos sembahyang soalnya. Aku masih suka mempertanyakan tentang agamaku saja, sih... semoga kita bisa menjadi teman yang baik ya walaupun berbeda cara menyembah dan menghormati Tuhan kita," sambung Cindy.
__ADS_1
-_-_-_-
Setelah selesai mengerjakan soal, guru meminta semuanya untuk mengoreksi jawaban teman sebangku nya masing-masing dengan ban menukar bukunya. Lalu, Guru mulai menjawab di papan tulis dan menjelaskannya. Ketika di dekte, nilai sempurna berhasil Yusuf raih saat itu.
"Wah, kamu benar-benar mengoreksinya dengan sunguh-sungguh kan Cindy?" tanya Pak Woko.
"Beneran, Pak. Kalau tidak percaya, bapak bisa chek sendiri," jawab Cindy. "Bolehkah?" bisik Cindy kepada Yusuf.
Bukan hanya Guru, semua siswa di kelas itu juga sampai memperhatikan Yusuf. Siswi perempuan juga semakin takjub melihat Yusuf hari itu. Sampai jam istirahat bunyi, terlihat para siswi menari Yusuf untuk makan siang bersama, namun ia menolak karena dirinya sudah membawa bekal dari rumah. Para siswi itu langsung jatuh hati kepada Yusuf karena menjadi anak lelaki yang penurut.
"Bagaimana kalau besok kita bawa bekal juga? Itung-itung kita bisa makan bareng di kelas?" usul salah satu siswi di sana.
"Boleh, sekarang kita ke kantin dulu. Besok bawa bekal masing-masing, oke?" Para siswi itu keluar meninggalkan Yusuf dan Cindy di kelas.
"Wah, Pak Yusuf. Baru sehari kau di sekolah ini, kau sudah memiliki ekor banyak. Haha, ayolah, kita makan siang. Aku juga membawa bekal hari ini," ucap Cindy mengeluarkan bekalnya.
Yusuf hanya tersenyum, ia segan untuk menolak ajakan makan bersama dengan Cindy. Akhirnya, ia pun juga mengeluarkan bekalnya, dengan kotak makan yang lucu milik Rafa. Sontak membuat Cindy tertawa, bagaimana tidak, kotak makan itu bentuknya sudah lucu dengan stiker kartun dua bocah kepala botak.
"Haha, serius itu kotak makanmu? Mamamu salah kali pas ngambilnya..." tawa Cindy.
"Haha, ini pasti milik keponakanku. Kakakku memang sering iseng, dia menyiapkan bekal untuk adik-adiknya yang berjumlah banyak, mungkin jadi tertukar dengan milik keponakanku," ucap Yusuf suka tertawa melihat kotak makan itu, ada tulisannya 'milik Rafa'
__ADS_1
Yusuf juga berbagi sayur dan lauk dengan Cindy. Begitu juga dengan Cindy, ia mengatakan jika Yusuf tak perlu khawatir dengan halalnya makanan yang ia bawa, karena semua itu di masak oleh asisten rumah tangganya yang juga beragama muslim. Bukan hanya itu saja, Cindy juga mengatakan bahwa keluarganya hidup sehat selayaknya seorang muslim, karena mereka tinggal di kawasan orang muslim.
Yusuf dan Cindy juga cepat akrabnya. Cindy sangat supel, ramah dan baik. Ia mampu melelehkan dinginnya sikap Yusuf terhadap perempuan. Bahkan, mereka kini juga sudah bertukar nomor untuk komunikasi lebih lanjut.