
“Abi?” tanya Adam menoleh ke arah Airy, Raihan dan Hafiz.
“Aku selesai. Ayo, Nak. Ikut Mama dulu ke ruang bermain.” Ucap Airy, seraya menggendong Rafa menjauh dari Adam.
“Maaf Pak Raihan. Jika saya boleh tau, di mana Abi nya Rafa?” tanya Adam.
Hafiz dan Raihan mengajak adam ke ruang tamu usai makan. Mereka mulai membicarakan tentang Airy dan Rafa, juga tentang siapa suaminya. Mendengar cerita dari Raihan dan Hafiz, adam belum merasakan atau mengingat apapun juga.
“Lalu, bagaimana dengan suaminya sekarang? Apakah ada kabar mengenai kondisinya?” tanya Adam.
“Adnan, apakah kamu mengetahui sesuatu tentang kalung ini?” Hafiz memberi tahu kalung yang di berikan oleh Lulu siang tadi.
Adam terus menatap kalung itu dengan teliti, tak ada satu ingatan pun yang mampu ia ingat. Namun, ia mengeluh sakit di bagian kepalanya. Raihan dan Hafiz pun menyarankan agar Adam bermalam untuk malam ini saja di rumah mereka.
“Saya nggak enak, Pak Raihan. Saya bisa menelfon saudara untuk menjemput saya kemari.” Tolaknya.
“Eh, nggak papa kamu menginap saja di sini. Biar Bi Nar nanti yang menyiapkan kamar untukmu,” desak Raihan.
__ADS_1
“Saya benar-benar tidak enak, Pak.” sahut Adam.
“Sudahlah, mari temui Rafa. Aku akan kenalkan kamu dengan keponakan kesayanganku itu,” ajak Hafiz, sembari merangkul Adam.
Ada rasa yang tidak biasa yang Adam rasakan. Ia merasa dekat dengan keluarga Bosnya itu. Ia pun ikut menemui Rafa yang tengah bermain bersama dengan Airy di ruang bermainnya.
“Abi?” sapa Rafa.
“Rafa, dia…,”
“Iya, sayang. Kamu mau main sama, Abi?” tanya Adam, menyela omongan Airy yang ingin mengatakan jika Adam bukanlah Ayahnya. Meskipun itu terpaksa.
“Adnan? Kamu menangis? Apakah Rafa memelukmu dengan sangat kuat?” tanya Airy menyentuh bahu Adam.
“Abi,” sebut Rafa lagi.
Raihan menarik tangan Airy, lalu membawanya keluar dari ruangan itu, agar Rafa bisa menghabiskan waktu bersama Abinya, meskipun untuk malam itu saja.
__ADS_1
“Bang, Kak Ale, kalian bilang kita harus nunggu proses penyembuhan, Mas Adam. Kenapa kalian mengiyakan, saat Rafa memanggilnya dengan sebutan Abi?” tanya Airy.
“Rafa masih kecil, kalian mau mempermainkan emosinya, kah?” sambungnya.
“Justru dengan Rafa lah, kita bisa…,” kata-kata Raihan terhenti ketika Adam dan Rafa tiba-tiba keluar.
Rafa ternyata sudah tidur, Airy pun memintanya untuk membawa Rafa ke kamarnya. Karena ingin memberi waktu bagi Airy, Raihan dan Hafiz pun pamit untuk tidur terlebih dahulu.
“Maaf,” ucap Adam, sambil merebahkan Rafa ke tempat tidurnya.
“Untuk apa?” tanya Airy.
“Karena sudah menyinggung tentang suami, Ibu.” Lanjut Adam.
“Aku percaya takdir, jika memang kita berjodoh, pasti Allah akan memberi jalan terbaik untuk mempersatukan kita kembali, kok.” tutur Airy.
Malam itu bagaikan malam panjang bagi Airy dan Adam, mereka ngobrol banyak tentang kehidupannya masing masing. Yang di ceritakan oleh Adam hanya beberapa kisah saja, karena ia benar-benar tidak bisa mengingat masa lalu.
__ADS_1
Satu bulan berlalu, hubungan kerja Airy dan Adam juga baik. Begitu pula dengan hubungan pribadinya, Adam mulai jatuh cinta lagi dengan Airy, sebaliknya dengan Airy juga. Ia semakin mengerti apa itu cinta dengan berusaha mengembalikan ingatan, suaminya.