
"Aku rasa..." ucap Rindi.
"Kau rasa, Kak Ale ada rasa kepadaku kan? Aku tau itu, itu kenapa aku menghindarinya." Sela Airy.
Rindi terdiam, tak ada lagi kata yang terucap. Melihat Airy, tidak mungkin jika ia akan berkhianat kepada Adam. Sore hari, mereka baru sampai di rumah. Jalan-jalan kali ini, tak seindah apa yang mereka bayangkan. Karena lelah, Airy pamit segera pulang ke rumah tampan mengantar Rindi ke pesantren.
"Aku langsung pulang ya, capek." Ujar Airy.
"Hati-hati, mau aku antar?" tanya Rindi.
"Nggak usah, deket ini kan? Assalamu'alaikum," pamit Airy.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Rindi.
Setelah sholat ashar, Airy sibuk membuat camilan untuk mengisi waktu luangnya. Kebetulan, Adam masih ada di masjid, ia bisa membuat kreasi bolu untuk suaminya itu.
"Assalamu'alaikum," salam Adam.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, eh Mas Adam. Cakep. banget sih, pakai baju koko, sarung, peci uhh bersinar nya wajahnya. Pengen cium," goda Airy.
Adam mencium pipi Airy dengan lembut. Ia juga tertegun melihat istrinya yang begitu manja. Kehamilan Airy kini memasuki usia ke enam bulan, sudah terlihat sedikit besar. Membuat Adam tak sabar lagi menunggu lahirnya sang buah hati.
Di Jerman,
Saat itu, Raihan tengah dekat dengan Mita. Sahabat barunya di Jerman, teman lama ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar. Garis keras, bukan masa depannya, hanya nanti akan ada percikan api cinta di antara mereka.
"Han, Mamimu (ibu angkat) asli orang Singapura?" tanya Mita.
"Iya, dan Alhamdulillah nya lagi, mereka seorang muslim. Tapi suaminya tetap beragama katholik. Tapi mereka menyambut ku dengan sangat baik. Mereka menyayangiku seperti anak kandung mereka sendiri." Jawab Raihan.
"Iya, Mita. Ada apa?" tanya Raihan.
"Kita kan udah sekitar tiga bulan di sini. Kamu ada, em, wanita yang kamu taksir? Um, maksud aku.... " ucap Mita gugup.
"Enggak, aku kesini fokus belajar. Soal wanita yang akan menua bersama ku kelak, aku belum memikirkannya. Ayo, bus kita datang." Tutur Raihan.
__ADS_1
Jawaban yang mengecewakan bagi Mita. Ternyata, Mita sedang jatuh cinta kepada Raihan. Namun, Raihan sangat sulit di taklukan, ia selalu berkata, tidak akan pernah menyia-nyiakan masa mudanya dengan menikah muda.
"Kamu bilang kamu nggak akan menikah muda, kalau Allah memberimu jodoh dalam dekat ini bagaimana?" desak Mita masih berusaha.
"InsyaAllah, aku bisa menerima nya dengan ikhlas. Alhamdulillah kan? Namanya jodoh, maut dan rezeki itu kan rahasia Illahi Mit. Tapi aku berharap, jodohku datangnya nanti ketika aku sudah membahagiakan keluargaku, Papa, dan kedua adikku." Jelas Raihan.
"Ah, tentunya keluarga angkat ku yang di sini." Sambungnya.
"Susah banget dapetin hati Raihan. Apakah dia tidak melihatku?" Gumam Mita dalam hati.
Sampai di kampus, Raihan bertemu dengan Raditya dan Cilo. Mereka sudah menunggunya, semenjak di Jerman, mereka berempat telah menjadi sahabat yang kemana-mana selalu bersama. Bahkan, mereka juga tinggal di kompleks yang sama. Ketika hendak masuk ke kelas, ponsel Raihan berdering.
"Ada telfon dari rumah. Kalian masuk duluan, aku angkat telfon dulu," pinta Raihan.
"Hansel (nama yang di berikan untuk Raihan dari keluarga angkat), bisakah kau pulang cepat? Ayahmu tiba-tiba sakit, sekarang berada di rumah sakit," kata ibu Rose (nama ibu angkat).
Mendengar kabar tidak mengenakkan itu, Raihan langsung berlari, memanggil taxi dan menyusul Ibu, Ayahnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Masih penasaran dengan gaya hidup Raihan di Jerman? Apakah Ayah angkat Raihan akan baik-baik saja?