
"Kamu, benar-benar gila, Sari!" Desis Airy.
"Gila? Haha, benar!! Seratus untukmu, Airy. Aku memang sudah gila, gila karena aku terlalu mencintai lelaki, yang kau sebut dengan kata, suami itu." Decak Sari.
"Aku, menikahinya karena, aku sangat mencintai Airy. Apakah, aku tidak boleh menikahi wanita yang aku cintai, Sari?" Dengus Adam.
"Tidak! Kamu hanyalah milikku, Adam!" Tampik Sari.
"Cukup, Sari. Sadarlah, lepaskan Adam, dia sudah memiliki, Airy. Dia juga sudah menjadi seorang, Ayah sekarang. Bukalah lembaran baru, InsyaAllah, masih banyak seorang pria yang mampu menerimamu apa adanya, Sari." Sahut Hafiz.
Karena geram, Hafiz membawa Sari pergi. Adam dan Airy pun saling berpelukan, mereka meminta maaf satu sama lain. Bukan malah, siapa yang salah terlebih dahulu. Tetapi, dengan meminta maaf, berharap semua kesalahan pahaman di antara mereka cepat usai.
Entah di bawa oleh, Hafiz. Tapi, Sari sudah tidak pernah muncul di kehidupan Airy dan Adam. Setelah pemberian nama, teman-teman lama Airy semuanya datang. Ada Maureen, Raka dan juga David. Mereka membawa hadiah juga untuk anak Airy.
"Siapa nama, anakmu?" Tanya Maureen.
"Rafa Maulana Handika." Jawab Airy.
__ADS_1
"Baby R?" tanya Maureen.
Airy mengangguk, entah kenapa Airy menyukai nama itu. Nama yang banyak di usulkan dari keluarga besar.
"Selamat ya, Airy. Kamu sudah menjadi seorang, ibu." Ucap Raka.
"Terima kasih, kamu sudah hadir, Raka." Balas Airy.
"Kau tak melupakan, namaku? Terakhir kali, kau sering melupakan namaku, Airy." Tanya Raka.
Airy tersenyum. Mana mungkin, Airy melupakan, seorang yang sering berjasa dalam hidupnya. Senyuman itu, kembali menghidupkan detak jantung, Raka, yang selama ini serasa mati karena jauh dari, Airy.
Adam menyadari tatapan Raka, berbeda. Begitu juga ada pandangan api cemburu di mata Maureen.
"Ya Allah, sebenarnya apa yang Engkau rencanakan. Engkau buat masalahku dengan Sari, kemudian Engkau hadirkan Mas Hafiz dan Raka kembali. Apakah, cobaan ini belum berlalu?" Ucap Adam dalam hati.
"Mas, Mas Adam!" Panggil Airy, kala itu melihat Adam terdiam.
__ADS_1
Airy tersenyum, cinta di mata nya. Menunjukkan, hanya Adam lah lelaki yang ada di hati nya. Sebaliknya, Adam pun juga menatap Airy dengan penuh cinta.
"Wes to, keuwuan macam apa ini?" Desis David.
"Ehem, ehem" Deham Rindi.
"Baru jadi orang tua ye kan, kita maklumi gaes, hahahaha," sahut Maureen.
Hanya Raka yang pura-pura sibuk memandang Rafa saat itu. Ternyata, Airy sadar jika suaminya sedang cemburu melihat Raka menunjukkan perhatian dengan rasa yang lain.
"Cemburu, ya?" Bisik Airy sembari mencubit manja pinggang Adam.
"Iya," jawab Adam lirih.
"Jangan gede cemburu. 'Kan udah di miliki, hajar aja nanti stelah nifas selesai." Goda Airy.
"Astaghfirullah, istriku ini," bisik Adam.
__ADS_1
"Woy, kita bertiga kesini, untuk melihat baby Rafa. Bukan keuwuan kalian! Dah sana masuk kamar, nanti si Rafa akan aku culik." Ujar David kesal.
Semua menanyakan tentang bagaimana kelanjutan kuliahnya, Airy. Adam menatap istrinya dengan penuh harap. Ia sangat berharap, Airy mampu meneruskan pendidikannya, agar suatu hari nanti, ia mampu meneruskan bisnis keluarga yang Aisyah tinggalkan.