
Raihan dan Adam terus saja membujuk Airy ya g sudah untuk makan. Padahal tubuh Airy sudah sangat lemas, datanglah Keny dan Akbar yang berusaha membujuk Airy.
"Falih, Yusuf, bawa adik-adik kalian istirahat ya, bobok! Ini sudah larut, besok ada setoran pagi kan? " pinta Akbar kepada Falih dan Yusuf.
Diajaknya saudara-saudara mereka untuk istirahat ke pesantren, karena rumah tidak cukup jika dipakai untuk beberapa keluarga dan anak-anak lainnya. Keny datang dan memeriksa denyut nadi Airy.
"Kamu harus makan Airy, kasihan bayimu nak. Makan ya, sedikit saja, setelah ini minum susunya, " ucap Keny khawatir.
Airy menggelengkan kepalanya,
"Ayolah Airy, atau Om Abang yang suapin kamu iya? Sini Bang, biar Om Abang yang suapi tuan putri kita. " Kata Akbar meminta piring itu dari tangan Raihan.
Airy masih tidak mau untuk makan, ia masih belum bisa terima jika Ami nya meninggalkanya dan tidak akan pernah hadir lagi dalam setiap harinya. Bukan hanya Adam, Raihan, Keny, dan Akbar saja yang membujuknya untuk makan. Bahkan seluruh keluarga juga membujuknya agar kandungannya baik-baik saja. Karena hanya Airy lah yang belum tahu jika kandungannya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Sayang, makan ya. Demi anak kita? " tutur Adam.
"Suaminya aja nggak digubris, gimana kita, " keluh Akbar.
"Airy, makan dong. " bujuk Keny lagi, semua sangat khawatir jika Airy akan jatuh sakit. Memang diantara Raihan, Airy dan Yusuf, hanya dengan Airy lah Aisyah sangat dekat. Bertengkar berdua, seru-seruan bersama, bahkan saling menyamakan style baju mereka.
Akhirnya, dengan segenap jiwa raga keluarga membujuk Airy untuk makan. Hanya Rifky lah yang bisa membujuknya. Karena ia juga sangat dekat dengan Airy. Berbeda dengan Raihan, walaupun Raihan juga dekat dengan Airy, tapi Raihan sudah nyantri setelah lulus SD.
Semua orang lega, kini Rifky meminta Adam untuk menemani Airy tidur di kamar milik almarhum Ami nya dulu. Tak banyak berubah dari kamarnya itu, karena dulu Ceasy juga tidak pernah renovasi kamar Aisyah.
__ADS_1
"Tidur ya, Mas akan temani kamu disini." Ucap Adam sembilan menyelimuti tubuh Airy.
"Ami, " terdengar suara Airy yang masih gemetar menyebut Aminya.
"Istighfar sayang, ikhlasin saja ya. Ami bakal sedih jika kamu seperti ini. Ini sama saja memberatkan Ami, lebih baik, kita doakan saja ya, doa dari anak yang sholehah, akan meringankan beban dosa nya di akhirat sana. Sekarang istirahat, bobok yang cantik, jaga calon anak kita, ayo berdoa! " ucap Adam sambil mengusap-usap kepala Airy.
Setelah berdoa untuk tidur, Adam bersholawat lirih untuk Airy, dengan dekapan hangat dari sang suami, Airy pun tertidur dengan lelap. Bahkan dalam mimpinya, ia bertemu dengan Aisyah, yang saat itu tersenyum kepadanya, tetapi tidak mengatakan sepatah katapun.
Mimpi itu, menandakan bahwa Aisyah pergi karena memang sudah waktunya, dan dia nampak tersenyum sekaligus mengusap-usap perutnya sendiri, lalu menunjuk ke perut Airy. Airy tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Aisyah, tapi ia yakin jika ada kaitannya dengan anak yang sedang Airy kandung.
Pagi hari setelah sholat subuh, Airy duduk termenung di depan rumah Ruchan. Hatinya terasa hampa, sepi, bahkan juga ia masih merasa sedih atas meninggalnya Aisyah, Adam pun menghampirinya.
" Assalamualaikum ya Zawjati, pagi-pagi sudah ngelamun aja. Kenapa? Apakah kau memikirkanku? " goda Adam.
Mendengar godaan dari Adam, Airy pun tersenyum, ia sangat beruntung memiliki suami seperti Adam. Suami yang sangat sabar menerima segala kekurangannya dan bahkan sangat baik kepadanya. Airy sangat bahagia dengan pilihan Ami dan Papanya Itu.
" Ami memang tidak salah memilihkanmu untukku Mas, makasih ya telah sabar merawatku sejak kemarin. " ucap Airy membelai wajah Adam.
"Ehemm, masih pagi, udah belai-belaian aja sih! Dasar bumil sama ustad bucin, " Akbar lewat begitu saja sambil membawa segelas kopi yang baru Fatim buatkan.
"Kamu tunggu disini ya, aku akan buatkan sarapan untukmu dulu, jangan kemana-mana, " kata Adam menggenggam tangan Airy.
"Jangan dong, harusnya aku yang melayani suami. Biar aku saja ya, Mas Adam duduk saja sama yang lain," sahut Airy.
__ADS_1
Tetapi Adam tidak ingin jika Airy masuk ke dapur, karena ia tahu jika ibu hamil itu pasti akan sangat sensitif dengan bau bumbu dapur. Tiga hari yang lalu Aisyah pernah mengatakan itu kepada Adam di rumahnya.
Bukan tipe pendiam, setelah Adam masuk ke dapur, Airy pun berjalan-jalan ke pesantren. Guna menghibur dirinya, agar tidak larut dalam kesedihan yang terus mendalam. Melihat ada pohon yang lumayan rendah untuknya, ia pun memanjat ke atas pohon dan menikmati udara dari atas.
"Hmmm, udara nya sangat sejuk. Ami, aku janji akan merawat anakku dengan baik, seperti dirimu yang sudah membesarkan aku, Abang dan Yusuf. Aku juga akan menjaga Papa dengan sepenuh hati, menghormati suamiku seperti yang pernah engkau katakan Mi, aku sangat merindukanmu! " Gumam Airy yang duduk di atas dahan pohon.
Di dapur, Adam malah di goda oleh keluarga Airy, di sana ada Fatim, Balqis dan Clara yang sedang membantu memasak juga. Bukan hanya mereka bertiga, disana juga ada Leah, yang salut dengan kasih sayang yang diberikan untuk Airy dari Adam.
"Loh Adam mau masak? " tanya Fatim.
"Hehe iya tante, Airy kan harus banyak makan, biar kandungannya kuat. Tadi dia minta telur ceplok di kecapin hehe, " jawab Adam malu-malu.
"Sini biar tante yang gorengin, Airy memang sangat suka sama telur ceplok! " sahut Balqis hendak meminta telur yang ada di tangan Adam.
"Eh, ndak usah tante, saya bisa masak kok. Biarkan saya saja yang masak untuk istri saya. " jawab Adam gugup.
"Wooo, istri Qis. Lupa kalau putri nakal kita udah di miliki sama seorang suami. Pasti Ais bangga, memiliki menantu seperti Adam. Yo wis sana goreng telurnya dulu. Nanti yang ada Airy kabur ke atas pohon! " goda Leah.
"Mama ah, emang Airy apaan kabur diatas pohon! " ucap Fatim.
"Eh bener loh, ingat saat Airy kecil. Minta telur ceplok sama Ais, saat ditinggal kedapur dia ngilang loh, pas dicariin udah nangkring aja di pohon, " sahut Leah.
Ingatkan demi ingatan manis Aisyah bersama keluarga selalu diingat oleh mereka. Aisyah adalah sosok wanita yang bisa menjadi panutan bagi keluarga dan saudara-saudaranya. Anak yang sholehah, cerdas, dewasa, dan kakak yang bisa menjadi panutan, juga Puteri pesantren pertama yang paling ditakuti di keluarganya. Nama Aisyah dan kenangan Aisyah selalu terkenang dalam hati masing-masing orang di keluarga besar itu.
__ADS_1