Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 97


__ADS_3

Bahkan sampai rumah pun Airy masih diam saja. Bahkan, sampai Adam menegurnya saja ia tidak mendengarkan.


"Airy, Airy, Assalamu'alaikum..! " sapa Adam.


"Hemm..? "


"Kenapa sih? Dari tadi kok diam saja. Ada masalah apa? Atau lagi mikirin apa? " tanya Adam.


"Ceritanya nanti saja di dalam rumah. Masuk dulu yuk, mau bersih-bersih dulu, setelah ini sholat Isyak. Jangan lupa motor masukin dulu! " Kata Airy panjang kali lebar.


"Ada apa ya? " Gumam Adam heran.


Setelah selesai bersih-bersih diri, Adam dan Airy sholat Isyak berjama'ah, karena maghrib tadi Airy tidak setor. Maka setoran setelah sholat Isyak jadi double.


" Shadaqallahul 'adzim, subuh ulangi ya, masih ada kesalahan tadi." Ucap Adam.


"Siap wes, ahhh lelah hayati abang, hayuk istirahat Ustad..! " ajak Airy naik ke atas kasur.


Setelah melipat sajadah dan menaruh Al-Qur'an, Adam juga merebahkan badannya ke kasur. Ia bahkan langsung memeluk Airy, yang dipeluk bikin heran, hanya diam seperti patung saja.


"Ck, Laillahaillah, kamu kenapa sih? Sejak tadi loh bengong mulu. Ada apa? " tanya Adam mengetuk keningnya.


Tapi Airy masih diam saja, hanya melirik ke arah Adam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ia hanya menaik turunkan alisnya, Adam yang gemas itupun memeluknya dengan erat.


"Jika kau ingin cepat menjadi duda, tak seperti ini cara membekapku, ini malah akan menyiksaku, lepaskan..!! " kesal Airy.


"Ya habisnya sejak tadi diem aja sih, ada apa sih sayang. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati ya cerita dong." tutur Adam dengan membelai rambut Airy yang tergerai.


"Itu si istri temen Ustad itu, berniqab sejak dulu kah? " tanya Airy.

__ADS_1


"Cuma mau nanya ini? Ini yang membuat istriku dari tadi diam saja? " tanya Adam.


Airy menganggukan kepalanya dengan perlahan.


"Astaghfirullah, sebenarnya dia itu... Ahh aku ndak mau ngumbar aib orang, " kata Adam.


"Kan ceritanya sama aku, ya nggak ngumbar lah. Ceritain dong, aku penasaran aja. Apakah dia berniqab sejak dulu, apa setelah menikah giyu," Airy masih ngeyel.


"Lha emang kenapa? Kamu mau berniqab juga? Hemm Alhamdulillah dong kalau gitu, tapi, wong disuruh pakai rok atau gamis aja kamu masih banyak alesan, emm mau berniqab juga? " goda Adam.


"Doain istri itu yang baik-baik, katanya Ustad, harus bisa dong menasehati istrinya sendiri, " kata Airy mulai kesal.


"Tiap hari kan udah diingetin, kamunya aja yang jahat sama aku, " goda Adam dengan berpura-pura merajuk.


"Ehh, jangan merajuk dong. Ayo ceritain itu, siapa tau aja kan aku bisa seperti dia." Airy langsung memeluk Adam dengan manja.


Saat itu, Raihan, Raditya dan Diaz, siap-siap untuk menimba ilmu. Saat mereka sudah keluar dari asrama, seseorang perempuan yang kemarin malam meminta bantuan kepada mereka pun menghampiri nya lagi.


Wanita itu terus menarik lengan baju Raditya, hingga mereka bertiga menjadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan ada seorang mahasiswa dari Indonesia juga yang tidak menyukai Raihan pun menghinanya.


"Hey anak miskin, siapa dia? Apakah dia wanita yang kau nodai hahahaha, " namanya Dana, ia dari satu negara juga dengan Raihan.


Ketika Diaz hendak membalas hujatan Dana, Raihan mencegahnya. Ia tidak suka keributan, makanya, selagi itu tidak merugikan diri sendiri, Raihan tidak ingin mencari masalah lain.


"Assalamu'alaikum, ma alkhata'a? " tanya Raditya kepada wanita itu.


Entah apa yang dikatakan wanita itu, tetapi Raihan dan Raditya menerka jika wanita itu tidak bisa berbicara. Ia terus saja menggunakan bahasa isyarat. Wanita itu terus menanyakan bayinya menggunakan bahasa isyarat.


"Aku rasa dia bertanya tentang anaknya deh, " kata Raihan menepuk bahu Raditya.

__ADS_1


" tus'al ean makan taflak? (Kau bertanya tentang dimana bayimu?) " tanya Raihan kepada wanita itu.


Wanita itu mengangguk sambil menangis. Kini mereka bertiga tau apa yang wanita itu inginkan. Dengan keterbatasan komunikasi, karena wanita itu tidak bisa bicara, Raihan memberi sedikit pengertian, untuk menunggunya sampai mereka selesai belajar. Dengan raut wajah sedih, wanita itu pun emng anggukkan kepalanya, lalu menunggu mereka di depan sebuah gedung yang ada di sebelah asrama. Raihan bisa melihat wanita itu dari kelasnya, ia masih duduk disana menunggunya selsai belajar.


"Lama-lama aku kasihan dengan wanita itu, sebenarnya dia ada masalah apa ya? Haih, mana anaknya kita taruh ke dinas sosial pula," Bisik Raditya.


"Kita jahat nggak sih kalau kek gini Rai? Rai, Raihan..!! Heh, " Raditya memecah lamunan Raihan, yang sedari tadi tertuju oleh wanita itu.


"Kenapa sih? Ditanya juga, diem bae! "


"Entah kenapa, saat aku lihat wanita itu, aku keinget sama wanita-wanita tangguh ku dirumah. Kek Ami sama Airy gitu," kata Raihan dengan mata berkaca-kaca.


"Wah, edan koe, mosok di bandingkan sama Kak Ais dan Airy sih. Jangan ngaco kamu Rai, " sahut Diaz.


Raihan kembali melihat wanita itu, untung saja Raihan masih tetap bisa fokus untuk belajar. Setelah selesai belajar, mereka pun pergi untuk makan siang. Lagi-lagi Dana membuat keributan dengan menghujat Raihan.


"Heh miskin..!! Lu pasti makan enak baru disini kan? Gue tau kalau lu masuk kampus ini dengan beasiswa, dasar miskin lu.. !! Pergi sana yang jauh dari depan gue, malu-malu in negara aja kuliah pakai beasiswa..!! " hujat Dana.


Raihan, Raditya dan Diaz berdiri, mereka pindah tanpa memperdulikan ocehan Dana dan teman-temannya. Merasa tidak di hargai, Dana pun mendorong Raihan, untung saja Raihan bisa menjaga keseimbangan, makananya tidak tumpah.


"Saya tanya sama kamu, yang malu-malu ini negara kita siapa kalau kayak gini hah? Beasiswa!! Kamu mempermasalahkan saya yang masuk menggunakan jalur beasiswa kan? Diaz, jelasin..!! " ucap Raihan santai.


"Asal Lu tau ya, Adik gue ini, masuk dengan jalur beasiswa prestasi, bahkan dia mampu mengalahkan Pribumi yang paling pintar disini. Dan soal setatus dia..!! Hati-hati, mulut lu aja bisa dibeli sama dia, pergi sana lu..!! " Puas Diaz membuat malu Dana di depan teman-temannya.


Tapi sayang, teman-teman Dana tidak semua mengerti bahasa yang digunakan bicara Diaz. Itu malah membuat Dana semakin menjadi-jadi, ia semakin bringas dan ingin membuat Raihan keluar dari kampus itu. Betapa kerasnya peraturan di Kairo, sedikit membuat masalah, hukumannya akan sangat berat.


"Wes kesel nggonku ngomong, malah bolone do ra iso bohosone awak dewe hahha, disitu kadang saya merasa sedih..! (Sudah capek buatku ngomong, malah temanya pada nggak bisa bahasanya kita hahah) " ucap Diaz.


Raihan dan Raditya menggelengkan kepala mendengar ucapan Diaz, mereka pun melanjutkan makan siangnya. Setelah selesai istirahat, mereka kembali belajar, Lagi-lagi Raihan melihat dari balik jendela, wanita itu masih disana, ia mulai khawatir karena pasti wanita itu belum makan sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2