Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 301


__ADS_3

Malam minggu, memang epik untuk kaum muda mudi bersama menghabiskan waktu malam berdua. Udara yang segar, cuaca cerah, Laila dan Raihan memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan ke Kota.


"Wedang ronde nya seger banget, hangat tubuh ini. Haih, kenapa baru sekarang Abang ajak aku keluarnya," ucap Laila, menyeruput wedang ronde.


"Kan waktu itu pernah, gimana, sih?" jawab Raihan.


"Waktu itu? Abang, wanita juga butuh cuci mata malam hari, Abang sering-sering lah ngajak aku keluar begini, oke?" usul Laila kembali menyeruput wedang ronde-nya.


"Ya kalau Abang lagi nggak bisa, kamu ngajak saja Aminah dan Mayshita. Kalau malas debat dengan Aminah, kamu bisa ajak ke empat adik lelakimu," saran Raihan.


"Abang, Sayang ... Jangan biasakan wanitamu untuk melakukan apapun tanpa dirimu. Karena, jika wanitamu ini sudah bisa melakukan apapun tanpa dirimu, yang ada nanti Abang menyesal sendiri!" tegas Laila.


"Iya, Abang tau...," ucap Raihan.


Malam mereka habiskan bercanda ria di alun-alun hingga tengah malam tiba. Terlihat dari kejauhan, Mita menguntit mereka dan menelan api cemburu yang berkobar di hatinya.


"Hish, aku mengejarnya sejak sekolah dasar hingga sekarang, kenapa yang menjadi istrinya dia, sih? Kenapa bukan, aku?" kesal Mita memukul-mukul pohon yang ia gunakan untuk bersembunyi.


"Aku harus cari cara, biar mereka itu berpisah. Tapi, bagaimana? Sedangkan wanita itu sudah mengakar di hati Raihan." Kata Mita.


Tak ada cara lain yang Mita gunakan selain mencelakai keduanya. Rem motor milik Raihan sudah ia sabotase, Mita juga menyuruh orang untuk mengganggu Raihan ketika di jalan nanti, agar tak bisa mengerem dengan tepat. itu prediksi Mita, Raihan dan Laila pasti akan jatuh.


"Jika Raihan tak bisa menjadi milikku, orang lain juga tak boleh memilikinya!" Mita terus saja menggerutu tentang hatinya.

__ADS_1


Tepat tengah malam, Raihan mengajak Laila untuk segera pulang. Karena esok hari, Raihan ada jadwal temu dengan teman Syakir di balai desa. Laila mengiyakannya, karena dia sendiri juga sudah mengantuk.


Di jalan, ketika Raihan dan Laila asyik mengobrol, datanglah dua orang dengan satu motor mengacau di samping Raihan. Awalnya, Raihan sudah mengendarai dengan pelan, karena Laila ketakutan, ia pun melajukan kecepatan motornya. Hingga tepat di lampu lalu lintas yang memang sudah menyala warna kuning, Raihan menerobos begitu saja, tanpa ia sadari ada truck melintas juga di sana. Beruntung truck itu tidak kencang jalannya.


Tetap saja kecelakaan tak bisa di hindari. Baik Raihan dan Laila terkapar di jalanan, lalu kedua motor itu pergi tanpa membantu Raihan dan Laila. Memantau dari jauh, Mita menangis sesenggukan melihat Raihan mengeluarkan banyak darah. "Maafkan aku, Raihan."


Mungkin memang sudah takdir. Gu, Hamdan, Falih dan Yusuf melintas di jalan itu. Mereka pulang dari acara sekolah, saat itu Gu yang mengantar mereka. Melihat kerumunan serta adanya mobil ambulance, mereka turun dari mobilnya. Bergegas melihat siapa yang kecelakaan itu.


"Katanya sih ada dua korban, tapi kok ambulance-nya baru datang satu. Sebaiknya kita memberikan tumpangan bagi korbannya, bagaimana?" usul Yusuf.


Mereka menerobos kerumunan orang-orang. Mata mereka terbuka lebar, "Astaghfirullah hal'adzim. Abang!" teriakan Yusuf mengalihkan pandangan semua orang.


Menurut medis, memang orang kecelakaan apalagi terjatuh tak sadarkan diri, tidak boleh langsung di tolong. Yusuf hanya diam saja, mulutnya terkunci tak bisa berteriak lagi. Bahkan, air matanya saja tak bisa keluar.


Tangannya gemetar, bukan hanya Yusuf saja, Falih, Gu dan Hamdan juga ikut tercengang dengan musibah yang menimpa Abang dan Kakaknya. Segera Gu memberitahukan kepada keluarga atas kemalangan yang telah terjadi.


"Yusuf, di mana Bang Rai? di mana, dia?"


"Jawab, aku, Suf!" teriak Laila.


Sontak Yusuf langsung memeluk Laila, ia hanya berpikir jika Laila itu adalah kakaknya. Meski memang tak boleh bersentuhan, Yusuf memeluk Laila dan laila pun menangis di pelukan Yusuf.


"Suf," panggil Gu.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Yusuf serasa melepas pelukannya.


"Maaf, aku hanya melihat kaka Airy dalam tubuh Kak Laila. Maafkan aku," Yusuf langsung menghindar. Ia berlari sampai beberapa tiang lampu kota.


Gu menjelaskan kepada Laila, jika Raihan memang harus di bawa lebih dulu dari pada Laila. Ia juga mendapat kabar dari Hamdan, jika Raihan baik-baik saja, hanya ada beberapa luka robek di bagian lengannya.


Laila pingsan mendengar itu, segara petugas rumah sakit membawa Laila ke rumah sakit. Di susul oleh Yusuf dan Gu mengendarai mobilnya.


"Ami, Papa, semua telah engkau ambil Ya Allah. Jangan Engkau ambil pula Abangku, dia satu-satunya pelita dalam kegelapanku." hatinya.


"Istighfar, Suf. Kata Hamdan juga 'kan Abang sudah sadar, kita hanya bisa berserah kepada Allah," tutur Gu dengan menepuk-nepuk bahu Yusuf.


"Aku takut, Hyeong." Jawab Yusuf. Terkadang memang Yusuf memanggil Gu dengan sebutan itu. Padahal, ia terapkan jika mereka sedang bercanda.


"Astaghfirullah, maaf Kak!" lanjutnya.


"Aku hanya takut jika aku kehilangan Bang Rai. Cukup saat ini, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku,"


"Selama ini, aku tak bermaksud untuk menjauhinya. Tapi memang kami tidak akrab. Meskipun begitu, aku tak rela jika aku harus kehilangannya, Kak."


"Kalian memang ada untukku. Kak Airy juga sudah sebagai ibu sambung buatku, tapi Bang Rai, dia cahaya dalam hidupku. Itu mengapa aku ingin dirinya sejak dulu," tukasnya.


Ketegangan itu telah pudar ketika Hamdan mengirimkan sebuah video yang ternyata Raihan sudah sadar dan bisa tersenyum sambil melambaikan tangannya ke kamera. Tentu saja Yusuf bisa bernafas dengan lega. Ia mengucapkan beribu-ribu syukur kepada Allah SWT.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Gu dan Yusuf segara masuk. Tapi, Yusuf akan menyusulnya karena ia mendapat telfon dari Leah. Baru saja kelar berbicara dengan Leah, Gu mendengar seorang wanita yeng membicarakan kecelakaan tentang Abang dan Kakaknya. Tak lain wanita itu, adalah Mita.


Gantung.........


__ADS_2