
Tengah malam, group semakin ramai membicarakan siapa pemenang menjawab teka-teki dari Yusuf. Pemenangnya bernama Tyas, siswi kelas sebelah. Ia berhasil menjawab teka-teki yang diberikan Yusuf. Dalam hati Yusuf, sebenarnya ia tak mau melakukan itu. Tapi, semua itu ia lakukan agar tak lagi membicarakan masalah Cindy siang tadi.
………………………………
Pagi harinya di sekolah, Yusuf bersama Fatur menyapa Tyas untuk memberitahu traktiran akan dilakukan ketika jam istirahat pertama. Munculah Candra yang merasa dengki kepada Yusuf.
"Sok keren banget lu, Suf!" ucap Candra menyulut.
"Siapa?" tanya Yusuf. "Kita hidup di desa, pinggiran kota. Alangkah baiknya jika bahasanya juga di sesuaikan. Bisa, 'kan?" imbuhnya.
"Nggak usah sok suci, lu. Lu pikir, dengan lu anak pesantrenan, terus gue takut gitu? Haha, nilai lu sama gue aja cuma selisih 2 angka belakang. Nggak usah blagu!" seru Candra.
"Hash, nggak penting. Assalamu'alaikum!" Yusuf dan Fatur meninggalkan Candra begitu saja. Tentu membuat Candra semakin kesal terhadap Yusuf.
Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana perasaan Candra. Ia dulu selalu menduduki peringkat pertama, menjadi cowok paling populer sebelum Yusuf pindah sekolah. Kini, semua gelar itu berhasil digeser oleh Yusuf, meski tidak sengaja, tapi Candra tetap begitu membencinya.
Hari itu Cindy tidak masuk lagi, bukan karena malu atau lain sebagainya. Melainkan ada alasan lain mengapa dirinya tidak masuk sekolah. Jam istirahat pun tiba, usai pertandingan pertama sepak takraw, Tyas langsung menuju ke kantin. Di sana, Yusuf sudah menunggunya.
"Assalamu'alaikum. Maaf, kamu sudah menunggu lama?" sapa Tyas.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baru saja, kok. Oh, ya, ayo pesan. Hari ini, kamu mau makan apa saja, terserah kamu. Aku yang bayar...." jawab Yusuf begitu ramah.
"Makan siang bersamamu saja sudah menyenangkan. Kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan," tanya Tyas.
"Apa aja, aku bukan pemilih makanan, kok," jawab Yusuf mengeluarkan bekal dari Airy. Hari itu, Airy membuat bekal yang berisikan omelette dan sayur saja, karena kebetulan nasinya belum matang. Ngakak karena kesiangan.
Tyas memesan nasi rames dan beberapa camilan. Setelah makanan datang, Yusuf menawarkan bekalnya kepada Tyas. Sambil makan, Tyas terus saja melirik Yusuf. Seakan, ia masih belum percaya jika dirinya makan di kantin berdua dengan lelaki idaman.
"Kalau ada yang perlu ditanyakan, tanya saja nggak papa, kok. Jangan melirik terus seperti itu, kita makannya jadi nggak nyaman, bukan?" ujar Yusuf.
"Oh, maaf,"
__ADS_1
"Em, apakah... aku boleh bertanya yang sedikit sensitif dan pribadi?" tanya Tyas.
"Monggo," jawab Yusuf.
"Apakah, kamu dan Cindy pacaran?" tanya Tyas.
"Tidak,"
"Em, tapi yang aku lihat, kalian begitu dekat. Aku kira kalian pacaran," ujar Tyas melahap makanannya.
"Aku tidak pacaran, masih banyak yang harus aku pikirkan dari pada sekedar pacaran." ungkap Yusuf.
Pertanyaan lain juga ditanyakan oleh Tyas, kriteria idaman Yusuf juga terbuka untuk Tyas yang ternyata memang dimintai teman yang lainnya untuk tanya tentang itu. Yusuf menjelaskan, dia tidak ingin menuntut banyak hal untuk jodohnya nanti, seiman dan taqwa, menerima apa adanya saja sudah Alhamdulillah untuk Yusuf.
"Hanya itu? Seiman saja?" tanya Tyas kaget. "Misal Cindy mualaf, apakah kamu mau menikahinya?" imbuhnya.
"Haha, kamu berpikir terlalu jauh, Tyas. Aku bahkan belum memikirkan sampai ke sana," Yusuf menaikkan alisnya. "Itu masalah perasaan, aku akan menghargai jika mualaf nya karena Allah, bukan karena aku," jawab Yusuf santai.
"Cantik itu relatif, aku akan lebih suka jika gadis itu beriman, karena yang beriman akan tahu segala ketentuan sebagai seorang muslim. Apa larangan dan kewajibannya pasti akan dijalani. Tapi, beda lagi kalau yang namanya jodoh, mungkin bisa jadi jodohku masih umur 10 tahun, hahaha," tawa Yusuf membuat Tyas meleleh.
"Ternyata, jika dilihat dari dekat. Yusuf bukanlah orang yang dingin. Candra ini, memang suka ngada-ngada. Yusuf ini orang baik, mana mungkin mempermainkan perasaaan orang lain. Jika dia dekat dengan siapapun, karena murni berteman. Kalau yang di dekati baper, ya itu masalahnya sendiri, jadi makin suka dengannya." batin Tyas.
-_-_-_-
Bel pulang sekolah, Yusuf bergegas merapikan bukunya dan memasukannya ke tasnya. Ia ada janji kepada Gu untuk datang ke restorannya sepulang sekolah. Restoran lama Rifky juga masih berjalan dengan lancar dikelola Adam dan Raihan, jadi Yusuf dan Gu harus membuka restoran baru untuk usaha mereka, dengan tema berbeda tentunya.
"Main, yuk!" ajak Fatur.
"Main? Haha, dah sebesar ini mau main apa? Kelereng?" tanya Yusuf.
"Haha, bingung juga mau main apa. Gimana kalau kita ke toko buku, beli komik gitu," usul Fatur.
__ADS_1
"Aku mau ke resto milik Kakakku. Minggu saja kalau mau ke toko buku, bagaimana?" jawab Yusuf.
"Resto? Boleh ikutan nggak? Sesekali lah traktir aku," pinta Fatur sedikit manja.
"Hish, jijik ah. Kalau mau ikut ya ayo, tapi jangan nempel begini, dong." ucap Yusuf melepaskan rangkulan tangan Fatur di lengannya.
"Asha!" seru Fatur.
Mereka berdua bergegas ke parkiran dan segera memacu motornya masing-masing. Sementara itu, Candra menghampiri Tyas dan menanyakan kelemahan tetang Yusuf. Tyas sudah menjelaskan, jika Yusuf tak ada hubungan sama sekali dengan Cindy. Sejak awal sekolah, Candra memang menyukai Cindy, banyak juga yang mengidolakan dirinya di sekolah itu. Tapi sejak kehadiran Yusuf, Candra mulai tersaingi, ia dendam kepada Yusuf karena membuat perhatian semuanya di sekolah.
"Nggak mungkin, pasti Yusuf tetap memiliki kelemahan," sulut Candra.
"Candra, masih banyak yang mengidolakanmu. Kamu tak sepenuhnya dikalahkan oleh Yusuf, namamu masih mengharumkan sekolah ini, Bray. Santai saja," ucap Tyas mencoba meredam amarah Candra.
"Enggak, dia tidak boleh menggeser peringkatku," ujar Candra dengan mengepalkan tangannya.
"Candra, mending kamu fokus aja deh sama belajarmu. Siapa tahu, besok pas uts nilaimu paling tinggi di sekolah ini, hm? Jangan ganggu Yusuf kami, oke?" Tyas pun pergi.
_-_-_-_
Di jalan, Yusuf tak sengaja bertemu dengan Aminah. Aminah tengah berjalan sendirian di trotoar dengan wajah yang lesu. Yusuf memanggilnya, kemudian mengajaknya ke restoran bersamanya.
"Assalamu'alaikum," salam Aminah mendekat ke Yusuf yang saat itu berhenti di lampu merah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mau pulang?" tanya Yusuf.
"Heem, aku lelah banget. Kamu mau pulang juga, 'kan? Kamu manggil aku mau memberi tumpangan, 'kan? Terima kasih, my brother!" ucap Aminah menyandarkan kepalanya di bahu Yusuf.
Tentu saja membuat Fatur salah paham. Ia belum tahu jika Aminah dan Yusuf ini mahram se-air susu. Tapi tetap saja, banyak yang salah paham dengan mereka.
"Buset, nih cewek main nemplok aja. Mana Yusuf cuma diam saja lagi. Apakah dia pacarnya? Tapi, bukannya Yusuf nggak pacaran, ya? Haishh pusing pala barbie!" batin Fatur.
__ADS_1
Lampu hijau menyala, Fatur masih mengikuti Yusuf, karena Yusuf berjanji akan mentraktirnya makan di restoran itu. Ia juga penasaran hubungan antara Aminah dan Yusuf, karena saya Fatur bersilaturahmi ke rumah Airy, ia tidak bertemu dengan Aminah.