Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 349


__ADS_3

"Huh, sepi banget tanpa, Yusuf. Makan saja menjadi tak berselera, Ham!" seru Falih hanya dengan mengaduk-aduk makanannya.


"Makan tinggal makan, nggak usah ngeluh. Meski kita tak bersama di sekolah, kan kita masih bisa bertemu di rumah? Cepat makan! Kalau bekalnya tidak habis, Kak Ros kita akan marah nanti," hardik Hamdan sambil mengunyah makanan.


"Heh, waton nyapluk wae!" tegur Falih dengan mengetuk tangan Hamdan yang makan tidak diawali doa. "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia mengucapkan setidaknya Bismillah." imbuhnya.


"Hehe selak luwe aku, Lih. Makanya aku langsung ngap. Bismillahi awwalahu wa aakhirotu," ucap Hamdan karena lupa membaca doa.


-_-_-


Istirahat kedua, Yusuf menghabiskan waktu di kelas dengan membaca buku. Entah apa yang ia baca, tapi membuat seluruh siswi di kelas menatapnya dan enggan keluar dari kelas.


"Kalian tumben banget nggak keluar? Biasanya juga jam istirahat kedua, kelas kosong karena kalian pada ghibahin guru olahraga?" tanya Fatur, si ketua kelas.


"Brisik! Diem ngapa, siapa bilang kita suka ghibah?" elak Jihan, sang bendahara kelas.


"Aku mau ke perpus, kamu mau ikut nggak?" tanya Cindy kepada Yusuf.


Yusuf menggeleng seraya berkata, "Enggak deh, aku di kelas saja." Lalu, Cindy pun keluar bersama dengan siswi lainnya. Fatur dan Jihan menghampiri dirinya, Yusuf terkejut ketika Fatur tiba-tiba mendekat dan sangat dekat wajahnya dengan wajah Yusuf yang masih tertutup buku.


"Anak baru," sapa Fatur.


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu ngagetin saja!" seru Yusuf. "Ada apa?" tanya Yusuf.


"Nanti jalan, yuk. Ya, itung-itung biar akrab gitu. Santai saja, aku bukan dampak buruk, kok." lanjut Fatur.


Persahabatan mulai di bangun antara Yusuf dan Fatur. Mereka juga saling bertukar nomor. Usai pelajaran selesai, Yusuf langsung pulang, ia menolak ajakan Fatur untuk nongkrong terlebih dahulu. Waktunya akan ia gunakan untuk ke restoran bersama dengan Gu.


Saat keluar gerbang, angkot baru saja lewat. Ia naik angkot dengan tergesa-gesa. Sesampainya di gang masuk rumahnya, terlihat Falih dan Hamdan juga baru saja turun dari angkot.


"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baru pulang juga, Suf?" tanya Falih.


"Iya, nih. Kalian tumben pulang cepat?"

__ADS_1


Sambil berjalan, mereka membicarakan hal di sekolahnya masing-masing. Meski begitu, antara mereka memang tidak ada hal yang di rahasiakan, Yusuf juga menceritakan teman-teman barunya di sekolahnya. Terutama Cindy teman sebangkunya.


"Cindy? Cewek?" tanya Hamdan.


Yusuf mengangguk.


"Kamu sebangku dengan cewek, Suf? Hih, na'udzubillah… kan bukan mahramannya," sahut Falih.


"Iya aku tahu. Tapi guru itu memintaku duduk dengan Cindy. Dan bangku kita terpisah, kok. Lagipula, yah


.. nggak bisa nolak juga, sih." jelas Yusuf.


"Awas, nanti tidak jatuh cinta!" seru Hamdan.


"Aku berdoa kepada Allah, meminta agar diberikan jodoh ketika aku sudah bisa membahagiakan keluarga dulu, dan itu harus seiman," ucap Yusuf.


Tiba-tiba, Hamdan menghentikan langkah mereka. Ia juga memberikan Yusuf dan Falih surat kecil berwarna biru, dengan tulisan menggunakan hangul.


'네 형제! 올해를 잘 활용할 수 있을까요?'


"Wae?" tanya mereka lagi.


"Hamdan, watashitachi ni unzari shite imasen ka?" tanya si Jepang Falih.


"Haih, kalian ini wah! Ngomong yang jelas dan benar dong, ini di Jawa, Jogja. Kalian harusnya pakai bahasa daerah, kalau enggak ya bahasa Indonesia, aku ra mudeng, ngab!" seru Yusuf berjalan mendahului mereka.


Sementara Falih dan Hamdan saling debat menggunakan bahasa mereka, Yusuf berlari menjauh dari mereka. Sebenarnya Yusuf tahu apa yang mereka katakan, tapi ia pura-pura tidak tahu dan tak mendengarkan itu semua.


Bahkan sampai dalam rumah pun Falih dan Hamdan masih ribut dengan perkaranya sendiri. Mereka sampai tak menghiraukan Yusuf yang ada di depannya. Yusuf tak tahan dengan pertengkaran merek pun sampai menggebrak meja sampai tangganya terluka.


"Cukup!"


"Kalian pikir... dengan menggunakan bahasa Korea dan Jepang, aku tak akan tahu arti dan maksud kalian, hah?"


"Di dalam kertasnya si Hamdan, kamu berkata jika kamu ingin kita memanfaatkan waktu satu tahun ini, bukan? Memangnya kau mau kemana?"

__ADS_1


"Dan kamu Falih, siapa yang bosan denganmu? Kalian bertengkar dan ingin kembali ke negara masing-masing karena aku, 'kan? Karena aku pindah sekolah, bukan? Baiklah, besok aku akan kembali ke sekolah lama lagi!"


"Kenapa kalian gak pahami aku, sih? Aku harus belajar mandiri, aku harus irit uang warisan orang tuaku untuk masa depan. Tolong mengertilah!" tukas Yusuf masuk ke dalam kamar.


Falih dan Hamdan hanya diam saja. Di rumah itu, Yusuf dan Gu memilih kamar sendiri-sendiri, sedangkan Falih dan Hamdan tidur di dalam satu kamar. Yusuf tak bermaksud marah mereka, ia hanya saja kecewa jika saudaranya akan pergi setahun lagi karena dirinya pindah sekolah. Nyatanya bukan seperti itu, memang sejak awal, Falih dan Hamdan hanya akan sekolah dan mengaji saja di Jogja.


Sore itu, Yusuf merenungi semuanya. Memang tak seharusnya ia marah kepada mereka. Yusuf menghela nafas panjang dan membuka album lama. Mereka bersama-sama sejak kelas 1 Tsanawiyah.


"Aku seharusnya tidak egois. Mereka ke sini memang hanya untuk belajar, bukannya ingin menetap di sini. Kartu keluarga mereka saja masih di negaranya masing-masing. Lalu, Hamdan juga nantinya masih harus wajib militer di sana, sedangkan Falih...."


"Allahumma inni as'aluka nafsan bika muthma innah, tu'minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi 'atho ika,"


"Aku harus minta maaf kepada mereka. Pasti mereka sedih." gumam Yusuf sendirian di kamarnya.


Yusuf keluar kamar hendak mandi dan akan menunaikan sholat ashar di masjid. Jika ingin ke kemarin mandi, tentu saja ia akan melewati dapur lebih dulu. Terlihat Yusuf dan Hamdan saat itu makan berdua dengan piring kosong di sampingnya.


"Hey, Pak. Mau ke mana?" tanya Hamdan.


"Mandi, mau ke masjid. Sudah hampir waktunya, bukan?" jawab Yusuf.


"Makanlah dulu, kita sudah siapkan piring untukmu. Masih ada waktu ini, ayo makanlah!" seru Falih.


Melihat saudaranya yang sudah biasa saja, Yusuf jadi tak sungkan lagi untuk duduk bersama keduanya makan bersama. Sungguh persaudaraan yang sederhana, saling mengerti dan memahami.


"Em, soal yang tadi, aku...." lirih Yusuf.


"Jangan di bahas. Kami tahu, kami membahas salah waktu, lain kali saja ya kita bahasnya," sahut Hamdan.


"Bukan gitu, aku yang salah. Aku lupa jika kalian kemari memang hanya untuk sekolah dan mengaji. Aku hargai keputusan kalian. Kita manfaatkan waktu dalam setahun ini sebaik-baiknya." kata Yusuf. "Pagi sekolah, lalu sorenya kita have fun bareng, bagaiman?" usul Yusuf.


"Setuju!"


Mereka pun melanjutkan makannya yang baru saja di kirim dari rumah sang kakak, Airy. Bercanda lagi, dan segera mandi lalu ke masjid untuk ashar berjamaah.


Doa itu, agar hati kita tenang ya kakak-kakak. Bisa di amalkan setelah dzikir sholat sebanyak mungkin, dan sedikitnya 3 kali dengan 1 nafas.

__ADS_1


__ADS_2