
“Mama, tadi Om Abang bilang, Mama di hukum. Benarkah? Siapa yang berani menghukum Mamaku, biar Rafa menghukumnya, Ma. Ayo, katakan!” pertanyaan polos dari Rafa membuat Airy tertawa.
“Kau ingin Mama mengatakan, apa? Mama gelud sama Tante bawel, jadi di hukum sama Nenek Iqis,” jawaban Zahra malah membuat malu Airy.
“Oh, pantas. Lain kali, Mamaku yang cantik ini, jangan berkelahi lagi, ya. Itu tidak baik,” saran Rafa.
“Lah?”
Airy melongo mendengar anaknya menasehatinya. Adam hanya tertawa, lalu menyuruh Rafa dan Zahra untuk segera mandi dan sarapan.
“Kebo nyusu gudel, anak kita udah mau gede. Jadi, Sayangku ini harus bisa jaga sikap agar tidak menjadi contoh bagi mereka, ya.” Goda Adam dengan menarik pipi Airy kanan kiri.
Adam pun mengajak Airy ke dapur untuk membuat sarapan. Kemesraan mereka pun terjadi saat itu, lagi-lagi Yusuf mendatangkan jangkrik di antara mereka. Ia masuk saja tanpa mengetuk pintu dulu, meski mengucapkan dengan suara yang lirih.
Kebetulan, kamar mandi umum ada di belakang dapur, Yusuf yang terpaksa menerobos masuk karena sudah tak tahan ingin buang air pun menjadi canggung.
“Hallo. Oh, salah. Assallamu’alaikum, aku cuma numpang pipis saja, kok. Kalian lanjutkan saja olah raga-nya, anggap saja aku hanya angin lalu, permisi,” ucap Yusuf dengan berjalanan layaknya spiderman.
__ADS_1
Dengan nafas memburu, Adam kembali mencium Airy. Kali ini, ia mencium pipinya saja, kemudian berlalu, “Kamu masak sendiri, ya. Mas mau ke kamar dulu, mau siap-siap.” Kecupan itu juga untuk keningnya juga.
Padahal, ia tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi, Yusuf merasa takut ingin keluar, “Pasti Kak Airy masih ada di dapur. Uhh canggung banget, kali ini memang aku yang salah,” gerutunya. Yusuf masih mondar mandir di kamar mandi, masih menyiapkan alasan yang tepat karena sudah masuk tanpa mengetuk pintu.
“Tapi kalau di pikir lagi, harusnya Kak Airy dan Mas Adam mesra-mesraan di kamar, kenapa harus di dapur. Aghh otakku ternodai!” gerutunya lagi.
“Bismillahirrohmanirrohim, Kak Airy kalau marah udah seperti Uty, panjang kali lebar. Jadi, aku harus pintar menggunakan alasan yang tepat,” Yusuf masih bingung.
Benar saja, Airy masih ada di dapur. Mungkin sengaja menunggu perimintaan maaf dari adiknya yang mulai dewasa iu. Melihat Yusuf keluar, Airy segera menyuruhnya untuk duduk dan sarapan.
“Alhamdulillah, masih aman terkendali.” Batin Yusuf.
Suara Airy mulai terdengar, mendarat di telinga Yusuf seperti sambaran petir yang sangat keras. Untung saja jawaban dari pertanyaan Airy sudah di siapkan matang-matang olehnya. Ia bisa menjawab tanpa gugup.
“Tadi aku nggak lihat apapun kok, Kak. Beneran,” kilah Yusuf.
“Yakin? Berbohong itu dosa, loh. Kalau Kakak mengetahui kau berbohong, jangan harap kau bisa lolos dariku. Kakak akan memberimu hukuman!"
__ADS_1
"Jawab serang! Kenapa tidak mengetuk pintu dan mengucapkan salam ketika masuk rumah, hah?”
“Kau bukan anak kecil lagi, Yusuf, adiku tersayang sik paling bagus dewe (Yang paling genteng sendiri)”
Jurus pertanyaan emak-emak sudah muncul dari mulut Airy. Yusuf pun menjawab, “Kamar mandi di pakai, Bang Rai. Yang satunya bimpet. Maka-nya aku lari ke sini, ya maaf udah kebelet pipis, jadi nggak sempat mau ketuk pintu.” Jelas Yusuf.
“Tapi aku ucap salam, kok!” imbuhnya.
“Nggak kedengeran, Paijo. Jangan ulangi lain kali, makan cepat dan segera berangkat sekolah!” seru Airy memberikan bekal makan siang untuk, Yusuf.
Meskipun sudah kelasa 2 ‘Aliyah, Yusuf masih suka membawa bekal makan siang yang di siapkan oleh Kakaknya, kemudian uang sakunya ia sering bagikan kepada orang yang membutuhkan. Rafa dan Zahra pun ikut sarapan juga, suasana semakin hangat ketika Adam juga bergabung.
“Nasi gorengnya, mana?” tanya Rafa.
“Di makan sama, Lek Yusuf.” Jawab Airy.
“Kita musuhan!” seru Rafa, duduk di kursi ruang tengah.
__ADS_1
Membujuk Rafa ini sangat sederhana, dengan mengajaknya nangkring di pohon aja sudah bisa memaafkan orang yang bersalah.
Waktu demi waktu terus berputar, hari berganti hari, seminggu berlalu, kini keluarga besar tengah mengadakan pertemuan keluarga lagi dengan keluarga, Laila. Apakah ada kabar baik di antara mereka berdua? Atau malah akan sebaliknya.