Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 161


__ADS_3

Sari terus mengancam, jika terbukti dirinya hamil, ia akan meminta pertanggung jawaban Adam untuk segera menikahinya.


Plakkk.....


Tamparan keras untuk Sari dari Hafiz. Hafiz yakin, jika apa yang terjadi bukanlah yang sebenarnya. Hafiz tau bagaimana otak Sari itu, ia akan selidiki hal itu, jika suasana hati Airy sudah stabil.


"Kita lihat dalam waktu satu bulan ke depan. Ayo Adam, Airy, Rindi! Masuk mobil!" geram Hafiz.


Airy hanya terdiam saat berada di mobil. Namun, ia memalingkan wajahnya dari Adam. Perasaannya kini campur aduk, antara ingin menangis, ingin marah juga. Ia terus merenungi dan berpikir, semua itu tidak akan terjadi kalau dirinya tidak memaksa suaminya pergi bersama Sari.


"Astaghfirullah hal'adzim, Allahuma inni a'udzubika min jahlil balaa i wa darkisy syaqai wa suu il qadlai wa syamatatil a'dai." Ucap Airy lirih.


Adam mendengar doa Airy, ia pun berniat menggenggam tangan istrinya itu, namun di urungkan. Ia masih merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan dengan Sari.

__ADS_1


"Aw, Mas Adam! Perut aku sakit banget," tiba-tiba Airy mengeluh kesakitan pada perutnya.


Hafiz, Adam dan Rindi menjadi panik. Mungkinkah Airy akan melahirkan, Adam pun meminta Hafiz untuk putar balik ke rumah sakit terdekat. Adam membimbing Airy untuk terus beristighfar, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk kelancaran istrinya saat hendak melahirkan.


Akhirnya, mereka pun tiba di rumah sakit. Seluruh tenaga medis yang sedang tugas langsung membawa Airy masuk ke IGD. Airy tidak masuk sendirian, ia bersama Adam berjuang untuk kelahiran anak pertama mereka. Sakit yang dirasakan ketika melahirkan, tak lagi dapat dirasakan oleh Airy. Karena sakitnya melihat suami berhubungan badan dengan Sari, masih menyelimuti hati dan perasaannya. Tak ada air mata, tak ada lagi teriakan layaknya seorang melahirkan. Airy hanya menggenggam tangan Adam dengan sangat erat.


Tak lama setelah itu, suara tangisan anak pertama dari Airy dan Adam pun terdengar sangat keras. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang sehat, gemuk dan juga aktif itu sudah lahir. Tetapi, setelah melahirkan anak lelakinya , Airy jatuh pingsan. Adam mulai panik, salah satu perawat menyuruh Adam untuk mengadzani bayinya terlebih dahulu. Kemudian, dokter beserta perawat lainnya sedang menangani Airy.


"Sudah kamu adzani anakmu?" tanya Hafiz.


"Alhamdulillah hirrobbil 'alamin. Semoga jadi anak yang sho..... "


"Sholeh, anakku laki-laki Mas," sahut Adam.

__ADS_1


"Lalu, Airy?" sela Rindi.


"Dia pingsan, Dokter memintaku untuk keluar dulu," jelas Adam tertunduk lesu.


Adam menceritakan semuanya kepada Hafiz Apa yang terjadi kepadanya beberapa waktu lalu itu, semua ia lakukan di alam bawah sadarnya. Adam mengaku sangat menyesal telah melukai hati Airy. Bahkan untuk menatap istrinya saja, Adam merasa malu.


"Aku, aku melihat ada luka yang mendalam dari mata Airy, Mas. Aku tahu dia pasti terluka karena semua ini." Sesal Adam.


"Bahkan, setahu aku, orang melahirkan itu akan teriak, menangis dan mengeluh. Tetapi, tidak dengan istriku, dia hanya diam saja dan sesekali beristighfar, kemudian pingsan." Imbuhnya.


"Sabar Dam, Mas yakin kalau kamu dan Sari tidak melakukan apapun. Mas tahu betul, Sari itu orangnya seperti apa. Kita harus selidiki ini. Tapi ya untuk saat ini sebaiknya kamu terus membujuk Airy, agar dia tidak terlalu terluka dengan apa yang dia lihat malam ini." Terang Hafiz.


"Apalagi, dia baru saja melahirkan bukan? Serahkan semua kepada Allah Dam, kamu yang lebih tahu tentang itu." Sambungnya.

__ADS_1


Hafiz dan Rindi akan pulang terlebih dahulu, mereka juga akan memberitahukan kepada keluarga besar, bahwa Airy sudah melahirkan. Hafiz juga meminta Adam untuk terus bertasbih kepada Allah, supaya dia bisa menemukan solusinya sebelum keluarga mengetahui hal itu.


__ADS_2