Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 282


__ADS_3

Disaat Airy dan Laila asyik bercanda, Aminah dan Mayshita hadir mengetuk pintu dan mengacaukan candaan 21+ mereka.


"Assalamu'alaikum, Kak Aer! Yuhu, i'm cooming... " ucap Airy menggedor pintu sangat keras.


"Wa'alaikumsalam," belum juga Airy turun dari sofa membuka pintunya, Aminah sudah inisiatif masuk dan berteriak girang.


"Aku mau mengi... Lah, ngapain Kak Laki di mari?" tanya Aminah.


"Hey, kan Mas Adam perginya sama Bang Rai. Gimana, sih?" sahut Mayshita.


"Oh, iyoo!"


Aminah langsung duduk di antara keduanya, membuat Laila dan Airy kesal saja. Karena memang Airy sengaja mengundang Laila untuk membahas hal yang mantap-mantap. Apalagi soal testpack itu.


"Malam ini sangat indah, ya. Hehehe," ucap Aminah.


"Amin!!" teriak Airy dan Laila bersamaan.

__ADS_1


"Kak, ajari aku ini, dong. Kurang faham aku, Kak Airy kan jagonya tuh pelajaran Bahasa Indonesia," pinta Mayshita menyodorkan buku mapelnya.


Bukan hanya minta di ajari belajar, lelucon demi lelucon mereka lontarkan untuk penyedap kumpul malam itu. Di luar hujan tiada henti, angin berhembus sampai masuk ke rumah, dan merasuk ke dalam tulang. Airy selalu teringat akan Rafa, ia merasa tidak tenang. Padahal, biasanya Rafa sudah biasa tidur sendirian.


"Ah, Kak Aer mah nggak seru!" seru Aminah memecah kegundahan di hati Airy.


"Kalau khawatir, mending telfon adikmu yang ngganteng itu deh, Ry!" timpal Laila.


Terasa tatapan mencengkam dari Aminah dan Mayshita. Mendengar kata 'ganteng' dari mulut Laila, mereka berdua langsung memasang mana yang di sipitkan dan seolah-olah mengeluarkan laser warna merah.


"Hih,"


Tak terbesit dalam pikirannya untuk menelfon, Gu. Airy langsung kembali ke kamarnya dan menelfonnya. Jauh dari anak sedetik saja sudah membuatnya khawatir, Airy tak ingin apa nyang terjadi dengan Zahra, terjadi juga dengan, Rafa. Ia masih sedikit trauma dengan kejadian itu.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Kak?"


"Wa'alaikumsalam. Gu, apakah Rafa sedang bersamamu?" tanya Airy panik.

__ADS_1


"Iya, kak. Dia sedang makan mie, ada apa, ya? Kakak mau bicara, dengannya?


"Alhamdulillah, Wasyukurillah. Ndak usah, denger dia baik-baik saja, Kakak udah lega. Maksih, ya. Maaf ganggu waktunya, Wassalamu'alaikum!" Airy menutup telfonnya.


Tenang sudah perasaannya sekarang. Namun, sang suami belum juga memberikan kabar untuknya. Ia mengirim pesan kepada Adam agar segera memberinya kabar jika sudah tidak sibuk lagi. Airy keluar dari kamar, dan melihat saudara-saudaranya sedang bertengkar.


"Mana ada, aku mau tidur sama, Kak Aer. Titik!" seru Aminah sampai naik ke sofa.


"Tidak seperti itu, Kisanak!" pekik Laila.


"Boleh seperti itu!" jawab Aminah tak mau kalah.


"Hah, kalian bisa diam nggak, sih? Aku lagi ngerjain tugas ini!" sahut Mayshita melempar mereka menggunakan bantal kecil.


Dalam pikiran Airy, sempat bingung ketika ingin memisahkan Aminah dan Laila. Apa yang di rasakan Mayshita beberapa waktu lalu memang benar. Aminah ini selalu membuat onar di mana-mana. Dengan begitu kejam, Airy menarik kerah Aminah dan memasukkannya di kamar Zahra dulu.


"Kak Aer, Astaghfirullah hal'adzim! Aku bukan kucing, buka!" teriaknya.

__ADS_1


"May, masuk!" pinta Airy.


Mayhita memang sangat penurut dengan Airy, ia masuk dan mengajak Aminah untuk istirahat. Aminah masih saja teriak tidak terima, hingga akhirnya di bungkam oleh Mayshita menggunakan tisu. Sementara Aiey dan Laila melanjutkan perbincangan yang sempat direcohkan oleh Aminah, sebelumnya. Mereka juga bercerita di dalam kamar, seraya menunggu kabar dari para suaminya.


__ADS_2