
Airy menepis tangan Hans dengan sekuat tenaga. Ia marah, tak ada seorang pun yang bisa menyentuh Airy kecuali suami dan keluarganya.
"Hey, kita ini hidup di jaman modern. Saling bersentuhan gini udah biasa kali." ucap Hans.
"Itu menurut, anda. Tapi bagi saya, sentuhan yang bukan mahram itu namanya pelecehan! Assalamu'alaikum!" kesal Airy.
Di belakang, Adam melamun sendirian. Sambil mengaduk teh manis untuk istrinya. Ia takut jika seseorang tahu, jika dirinya lah suaminya.
"Woy, kenapa sih? Kerja jangan nglamun, sob. Tuh, teh bakal mumpluk nek mbok udek terus (berbusa jika terus di aduk)" ucapan Hasan memecah lamunan, Adam.
"Siapa yang melamun sih. Cuma lagi kepikiran sesuatu saja, kok." jawab Adam dengan santai.
"Utang? Berapa sih utangmu? Kalau aku bisa bantu, nanti aku bantu cash bon deh sama Mbak Ani," usul Hasan.
"Astaghfirullah'alazim. Alhamdulillah aku ndak ada hutang piutang, cuma sedang kepikiran sesuatu saja, kok. Yo wis, aku mau antar teh ini keruangan, Bu Calista dulu." elak Adam.
__ADS_1
Hans masih saja mengejar Airy masuk ke ruangannya. Namun, semua itu di tolak mentah-mentah oleh Airy. Kebetulan sekali, Adam juga berada di antara mereka.
"Maaf ya, Pak Hans. Ruangan Pak Raihan ada lantai dua. Jadi kenapa anda mengikuti saya sampai kesini?" Airy masih bisa bersabar.
"Ya, saya masih ada urusan sama kamu. Lagian suamimu kan belum ketemu. Dan nggak tau, 'kan? Masih hidup atau enggak, atau bahkan sudah menikah dengan orang lain di luar sana," ucap Hans dengan begitu entengnya.
Plakkk....!
Tamparan keras di luncurkan ke pipi Hans. Adam tak sengaja melihat adegan itu pun menjadi pelampiasan Hans, ia memukul Adam begitu kuat, hingga teh istimewanya ungu Airy jatuh dan cangkirnya pecah.
"Kamu nggak papa, 'kan? Ayo ke ruanganku," ucap Airy mengelap wajah Adam yang saat itu terkena siraman teh panas.
"Cih, munafik! Kau tidak mau aku sentuh, tapi malah nyaman menyentuh laki-laki rendahan seperti ini. Dia hanya OB, apa bagusnya." sulut Hans.
"Dia, suamiku. Jelas? Permisi!" ucap Airy dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Karena kesal di kalahkan oleh seorang OB, menurutnya. Hans pun pergi, dan tidak jadi bertemu dengan Raihan. Ia juga akan membatalkan semua kerja samanya dengan perusahaan Handika saat itu juga.
"Kamu, nggak papa, 'kan? Aku akan panggil Nina untuk ambilkan kotak p3k." kata Airy sambil mengusap pipi sang suami.
"Sayang, tanganmu yang harus di basuh. Kenapa harus menampar orang, sih? Nggak baik itu. Lagipula, kenapa juga kamu bilang kalau aku ini suamimu ke, Pak Hans." ucap Adam.
"Kan, Mas Adam memang suamiku. Masa aku nggak akuin, sih? Capek tahu, menyembunyikan identitas terus. Biarin aja dia tahu, biar diem!" kekeh Airy.
Tak lama setelah itu, Raihan pun datang ke ruangan Airy dan memberitahukan jika Hans sudah memutuskan kontrak dengan perusahaannya. Raihan tidak ambil pusing, karena kontrak itu juga sisa beberapa bulan lagi. Di tambah, perusahaan tidak akan rugi karena pihak Hans yang memutuskannya, ia yang harus membayar denda.
"Terus?" tanya Airy sibuk mengoleskan obat ke tangan Adam yang melepuh.
"Ya udah, biarin aja." ucap Raihan.
"Lagian, selama bekerja sama dengan Pak Hans, tidak ada perkembangan apapun, malah nombok" papar Raihan.
__ADS_1
Namun di luar sana, Hans tidak terima dengan perlakuan yang Airy lakukan kepadanya. Ia akan membalas dendam, dan tetap berusaha mendapatkan Airy dengan cara apapun.