Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 304


__ADS_3

"Ada salam dari suster Mentari. Katanya, pasien yang bernama Raihan Kenzo begitu rupawan. Pret!" kata Laila kesal.


"Cemburu? Haha, kamu bisa cemburu? Bagus, bagus!" nampak Raihan senang melihat istrinya cemburu kepada para suster itu.


"Siapa yang cemburu? Lagian, cemburu itu kan wajar bagi suami istri. Huft, makan sendiri!" kesal Laila tak berujung.


"Maaf, deh. Tapi tanganku kan masih sakit, masa iya sih nggak mau nyuapin? Aisyah, istri Rosullullah...." belum juga Raihan menyelesaikan ucapanya, Laila sudah menyodorkan suapan kepada Raihan dengan bibir yang masih maju bakal dikuncir 12.


Kemesraan itu di saksikan oleh Mita yang sedang mengintip. Semakin ia kesal, ia semakin gila. Cilo memergokinya sedang menggerutu lagi, kemudian mengajaknya untuk masuk menjenguk Raihan.


"Assallamu'alaikum," salam Cilo.


"Wa'alaikumsallam, Cilo, Mita. Tau dari mana kalian?" jawab sekaligus Raihan bertanya.


"Nggak sengaja tadi aku bertemu dengan istrimu. Aku ada pemeriksaan hari ini, hehe biasa…." jelas Cilo.


"Hansel, kamu kenapa?" tentu saja Mita bersandiwara, membuat Cilo muak dengan tingkahnya.


"Aku dan istriku kecelakaan semalam. Kamu tahu dari Cilo, kah?" tanya Raihan.


"Tidak, aku merasa… aku harus kesini saja. Eh, tak tahunya kamu berada di sini, hmm rasaku tak pernah lepas tentangmu," kata Mita dengan nada yang lemah lembut.


"Huekk, ya Allah dia berdusta." batin Laila.


"Entah kenapa aku tak suka aja nih wanita ada di sini. Pasti dia akan berbuat sesuatu. Paham bener sama wanita model begini, aku. Geram kali, pengen kujambak rambut dia yang di lurusin itu." sambung Laila dengan tangan mengepal.

__ADS_1


Cilo dan Mita lumayan lama di sana, mereka juga membicarakan banyak hal juga. Terlebih lagi maslah mereka ketika masih di Jerman. Itu sungguh membuat Laila merasa tersingkir.


"Bang, mau Jus? Kalau mau, aku belikan sebentar, kebetulan kan ada teman Abang di sini, jadi nggak papa kalau aku tinggal, 'kan?" tanya Laila.


"Tapi… aku nggak mau di tinggal kamu, bagaimana kalau minta orang rumah saja yang bawakan? Katanya, Aminah mah kesini soalnya," Raihan juga tidak mau di tinggalkan, semenjak rasa itu timbul, Raihan yang sebelumnya tegas saja bisa manja seperti itu.


"Bagaimana kalau perginya denganku? Kebetulan, aku mau beli sesuatu juga di kantin. Bagaimana Laila? Bersediakah kamu pergi bersamaku, ya itung-itung lebih ngakrabkan diri, gitu…." usul Mita yang memiliki tuuan lain.


"Hish, mengakrabkan apa? Setan!" Batin Laila mengangguk dengan senyum kecut di wajahnya.


Laila meminta izin sekali lagi kepada Raihan, awalnya Raihan tak mengizinkan. Tapi, karena ada tujuan lain dari Laila, apa boleh buat? Raihan pun terpaksa mengizinkan Laila pergi bersama Mita.


Di perjalanan menuju kantin, Laila dan Mita masih saja saling diam. Masing-masing mengumpat dalam hati. Laila ingin sekali langsung memukul Mita sampai pingsan, sebaliknya Mita juga ingin mencekik Laila sampai berpindah alam. Tapi mereka sadar, jika mereka sedang berada di rumah sakit.


"Kenap, sih? Kamu menikahi Hansel-ku?" tanya Mita memecah keheningan.


"Tapi aku mencintainya," kata Mita berterus terang.


"Emang gue pikirin?" jawab Laila.


"Ya harus, aku harus jadi istrinya dan dia harus menjadi milikku!" desis Mita.


"Bodo amat!" jawab Laila.


Kesal karena Laila terus menjawab curahan hatinya, Mita pun mengehentikan langkah Laila dan mendorongnya sedikit lebih keras. Tubuhnya terbentur di dinding, dengan cekatan laila bisa menahan diri agar tidak terjatuh ke bawah, itu bisa membahayakan janinnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Allah masih sayang dengan calon bayiku." kata Laila dalam hati.


"Hansel milikku! Sebaiknya, kau ceraikan saja dia. Kau masih muda, pasti bisa mendapatkan brondong Koreamu itu dengan mudah!" bisik Mita.


"Raihan, bukan Hansel. Koreamu? Maksudnya Koreanya gue gitu? Yang mana, sih?" tanya Laila sok lugu.


"Nih," Mita menunjukkan foto Laila yang saat itu bersama dengan Gu.


Laila menahan tawa, karena Gu adalah adik iparnya. Mita menahan tak tahu menahu soal keluarga besar Raihan. Itu bisa Laila manfaatkan untuk membodohi Mita.


"Lagian, aku selama tiga tahun memanggilnya dengan nama Hansel. Aku sudah sangat dekat dulu di Jerman. Bahkan, kami selalu habiskan sarapan berdua, sore jalan-jalan berdua, kamu tau apa?" Mita masih saja berusaha.


"Heh, selama tiga tahun juga, gue memanggilnya dengan nama Raihan. Mau apa, lu?" Laila tentu tidak mau kalah.


"Hish, kok njawab, sih? Aku sejak SD sudah mengenalnya selama enam tahun, jadi dia milikku. Cepat ceraikan dia!" Mita mulai emosi.


"Haha, gokil."


"Fiks, elu gila! Gila pakai banget," tunjuk Laila ke wajah Mita.


"Gue, sebelum lahir, nama gue udah di hembuskan menjadi jodoh Raihan, apa lu?" jawab laila dengan tawa yang membuat Mita semakin kesal.


"Kok, gitu?" protes Mita.


"Ya emang gitu…" jawab Laila.

__ADS_1


Tiba-tiba Mita menampar Laila dengan keras. bahkan tangan Mita sampai tergambar di pipi Laila yang mulus itu. Tak terima di tampar, Laila memukul pipi dan hidung Mita tak tanggung-tanggung sampai Mita mimisan. Merasa kalah di tenaga, Mita pun kabur sambil menangis juga kesal.


"Woy! Dasar bocah!" teriak Laila dengan tangan yang masih mengepal.


__ADS_2