
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Airy, kenapa tidak? Satu jam lalu, ia telah berjanji kepada Aisyah untuk merubah sikapnya yang kekanak-kanakan itu.
1 jam lalu,..
Aisyah dan Airy duduk berdua di belakang rumah sambil mencabuti bulu ayam, yang hendak Aisyah masak sahur nanti.
"Ry, yakin kamu udah mantap menikah?" tanya Aisyah.
"Jangan buat aku bimbang lagi Mi, aku sudah deg deg an ini mau nikah, ya kali lulus sekolah langsung nikah," jawab Airy sedikit melamun.
"Ami tanya ini kan karena Ami lihat, akhir-akhir ini kamu menjadi pendiam Nak. Cerita sama Ami lah, apa yang kamu fikirkan itu?" tanya Aisyah.
"Ndak lah Mi, aku cuma takut saja tidak bisa menjadi seorang istri seperti Ami dan Uti, maksut kan yang aku katakan? Dia seorang Ustad, bahkan lebih pintar dari Kakung pada masanya, sedangkan aku? Aku hanya anak badung, yang katanya cucu Ustad tapi kelakuannya minus." Jawab Airy dengan nada rendah.
__ADS_1
"Kamu ini istimewa Airy, hatimu tidak dimiliki oleh setiap wanita di keluarga kita. Ami, Uty, Tante Delia, Tante Clara, semua tidak memiliki hati yang tulus sepertimu. Kalian berdua pasti saling beruntung," tutur Aisyah.
Airy terus saja mengingat apa yang Aisyah katakan padanya, tidak ada seseorang yang sempurna dimuka bumi ini. Kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu Wata'ala, maka dari itu Allah menciptakan Adam dan Hawa, eh bukan! Adam dan Airy, dengan sifat yang berbeda supaya bisa melengkapi satu sama lain.
"Naudzubillah himindzalik, gini nih! Ini yang buat haramnya manusia jatuh cinta kepada yang bukan mahramnya, jadi bodoh! Yakin ini haram, Astaghfirullah, aku hanya boleh lemah di hadapan Allah dan orangtuaku saat ini. Iman sebagai muslimah harus kuat menahan nafsu terhadap lawan jenis yang bukan mahramnya." kata Airy menutupi dirinya menggunakan selimut.
Sahur, sahur, sahur....
"Kak Airy, sahur... Kak Airy sahur...." teriaknya.
Bukan kali pertama bagi Airy, Airy sangat di sayangi oleh beberapa anak-anak kecil dan para pemuda di desanya. Adam yang mendengar itu pun tersenyum, begitu sangat di sayangi, sampai sahurpun di panggil namanya.
Aisyah tidak tidur semalam karena memasak, ia juga masih lembur pekerjaan barunya, bisnis busana dengan Ceasy yang ada di Korea. Melihat Aisyah yang sedang sibuk memainkan laptopnya, Airy menghampirinya.
__ADS_1
"Lagi ngapain sih Mi? Udah siap gini, kenapa belum pada keluar?" tanya Airy.
"Mereka pasti dengar lah anak-anak bangunin sahur, kalau nggak ya kamu panggil saja. Mungkin Adam ndak enak kalau ndak di panggil. Semua sudah siap, Ami masih harus membereskan ini dulu." Ucap Aisyah.
"Jangan lupa istirahat Mi, jangan capek-capek ah. Papa juga masih tidur kah?" tanya Airy.
"Papa disini, Ami mu itu memang seperti itu, soal duit saja langsung cepet. Panggilin yang lain gih!" pinta Rifky.
Airy berlalu, Rifky mengecup mesra kening Aisyah. Walaupun sudah memiliki anak gadis dan perjaka, kemesraan mereka tidak akan pernah luntur. Airy mengetuk kamar Raihan, ia tidak tahu jika Adam tidur di kamar itu.
"Bang! Bang Rai, bangun sahur! Udah di bangunin juga sama anak-anak, bangun lah! Cepat! Makanan dingin nanti, aku malas angetinya!" ketukan Airy terlalu kuat.
Saat Adam keluar, Airy terkejut, sampai-sampai ia lompat mundur dan kakinya mengenai kaki meja. Airy tidak tahu jika yang keluar adalah Adam, Adam pun juga diam saja tidak menjawab saat Airy memanggil nama Raihan.
__ADS_1