Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 221


__ADS_3

Menunggu yang tidak pasti, Laila merasa jenuh. Ia pun hampir menghabiskan seluruh jajanan pinggir jalan di depan hotel tempat rapat, Raihan.


"Bakso, Mie Ayam, Siomay, sama Pentol udah habis. Kenapa Si Tengil ini belum keluar juga, ya. Semoga aja bisa menang tuh slender, eh blender, ah apa sih susah amat dah ah. Pokoknya itu lah!" gumam Laila sambil memakan Bakso yang sudah habis 2 mangkuk.


Terdengar ponsel miliknya berdering. Sang Ayah menelfonnya.


"Abi? Assalamu'alaikum," salam Laila.


"Wa'alaikum sallam warahmatullahi wabarakatuh. Ila, kamu ada di mana? Sedang apa? Apakah kamu akan terus menyusahkan Abi seperti ini? Kenapa kamu tidak mau melakukan perjodohan itu? Abi yakin dia akan menjadi imam yang baik untukmu,"


"Hahaha, Abi telfon Ila cuma mau bilang itu? Hah, Ila pikir Abi kangen sama Ila, ternyata Abi masih egois. Assalamu'alaikum,"


Laila menutup telfonnya, kemudian melanjutkan makan baksonya yang sedikit lagi habis. Ternyata, Raihan sudah ada di belakangnya, ia mendengar ketika Laila mengatakan Abi nya egois. Dan melihat Laila menyeka air matanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Raihan pura-pura tidak tahu.


"Wa'alaikumsalam, eh udah selesai?" tanya Laila.

__ADS_1


Raihan mengangguk,


"Gimana? Hasil rapatnya gimana?" tanya Laila penasaran.


"Alhamdulillah, saya menang, kini perusahan keluarga saya akan bekerja sama dengan banyak perusahan di negri ini," ungkap Raihan.


Saking senangnya, dengan reflek Laila memeluk Raihan dengan semangat. Sadar jika yang ia lakukan tidak benar, Laila langsung melepaskan pelukannya.


"Sorry," ucap Laila.


"Lain kali jangan, bukan mahram!" tegur Raihan.


"Baiklah, satu porsi bakso saja. Sekalian bungkusin 4 ya, Bang!" pesan Raihan.


"5, hehehe aku mau lagi, bolehkan?" sahut Laila.


Raihan mengangguk. Pesanan datang, dan Raihan pun makan bakso itu, ia baru pertama kali ini makan di pinggir jalan bersama wanita lain kecuali wanita di keluarganya. Sampai di ujung pembayaran, Raihan kaget. Ia harus membayar makanan Laila sebesar 300ribu.

__ADS_1


"Ya elah, cuma uang segitu mana banyak buat , lu!" kata Laila dengan menepuk lengan Raihan.


"Bukan masalah uangnya, ini habis segini, masuk ke perutmu aja?" tanya Raihan heran.


"Sebenernya, sih. Tadi ada, ada itu, ada... Ah nggak enak ngomongnya, ada anak kecil yang nangis minta bakso tapi emaknya nggak ada duit. Ya udah, gue pesenin deh, santai aja nanti gue ganti, kok!" jelas Laila.


Raihan mengetuk kening Laila menggunakan map nya. Ia pun segera membayar dan pulang ke rumah. Memberi tahu ke semua orang di rumah, kalau dirinya menang dalam tender itu.


Sampai di rumah, mereka berdua sudah di sambut Rafa yang berlari tak memakai celana. Hingga membuat Raihan tertawa, dan ternyata Raditya juga sudah sampai rumah.


"Assalamu'alaikum, ponakan kesayangan. Kok nggak pakai celana, sih. Sini, biar Om Abang yang pakai in,"


"Ada apa nih, senyum-senyum mulu, Han?" tanya Raditya.


"Airy, di mana?" tanya Raihan.


"Ck, sahabatmu ada di depan mata. Adik gak pernah luput dari matanya. Eh, mercon! Panggilin Airy, sana!" ketus Raditya.

__ADS_1


Memang dalam hatinya, Raihan ingin langsung memberitahukan keberhasilannya kepada Airy. Sementara itu, Hans sangat kesal karena di kalahkan dalam tender kali ini. Ia tetap akan balas dendam dengan Raihan, dengan cara menculik Airy dan membawanya kabur ke luar negri.


Apakah Hans bisa melancarkan aksinya? Bagaimana tanggapan Airy tentang keberhasilan Abangnya?


__ADS_2