Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 193


__ADS_3

Sore itu, Adam mengajak Airy ke rumah sakit untuk chek up. Airy pun bertemu lagi dengan Lulu. Lulu tak merasa heran jika Airy bersama dengan Adam. Karena ia sudah tahu siapa Airy sebenarnya.


"Ini, Bu Calista 'kan?" tanya Lulu.


"Assallamu'alaikum," salam Airy.


"Wa'alaikum sallam, kamu bisa masuk duluan, Adnan. Dokter sudah menunggumu. Sementara Bu Calista biar aku temani." ujar lulu.


Sementara Adam chek up, Lulu mengajak Airy ke taman rumah sakit untuk membicarakan hal penting tentang Adam. Airy awalnya hampir su'udzon kepada Lulu, namun rasa tidak percaya nya itu luntur saat Lulu mengatakan yang sebenarnya.


"Perkenalkan Airy. Nama saya Lulu, dua bulan yang lalu, saya menemukan seorang lelaki di pinggir pantai, di kampung daerah saya tinggal dulu. Lelaki itu adalah, Adnan. Nama yang saya berikan untuknya, karena sampai saat ini dia mengalami amnesia." ungkap Lulu.


"Jadi? Dia bener Mas Adam, suamiku?" tanya Airy, dengan air mata yang mula jatuh.

__ADS_1


Lulu mengangguk, ia juga menjelaskan tentang kalung yang masih ia genggam sampai ke tepi pantai.


"Dia juga terus saja menyebut namamu. Tapi sayang, dia tidak mengingat siapa dirimu. Saya sudah cari namamu di semua sosial media. Tak ada satu nama itu muncul sebagai orang Indonesia," lanjut Lulu.


"Nama itu, nama yang unik, yang orang tuaku berikan. Itu singkatan nama dari kedua orang tuaku. Aisyah dan Rifky, jadi Ai dan Ri. Tapi huruf belakang menggunakan 'y'. Aku sangat berterima kasih kepadamu, Dok. Jika tidak ada dirimu, mungkin Mas Adam, entahlah...," kembali air matanya menetes.


Lulu mengusap pundaknya. Kemudian memberi saran, jika ingin memulihkan ingatan Adam harus secara perlahan. Lulu juga menyarankan, kalau Airy harus berusaha lebih giat lagi, mengembalikan cinta yang pernah ada di dalam hati, Adam. Setelah selesai chek up, Adam pun mengantar Airy pulang. Sebelum itu, mereka mampir dulu makan di pinggir jalan, sambil mengobrol.


"Saya bahkan tidak menduga, jika orang seperti Ibu ini mau makan di pinggir jalan yang murahan ini." ujar Adam.


"Airy?"


"Iya, namaku Airy Calista Putri Handika, ibu muda dengan satu anak lelaki berusia dua tahun. Belum genap sih, tepi sebulan lagi dia berusia dua tahun." Jelasnya Airy.

__ADS_1


Mendengar nama yang tidak asing baginya, Adam merasakan jika Airy yang berada di sampingnya ini, adalah Airy yang selalu hadir dalam mimpinya. Selesai makan, mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu waktu maghrib. Mereka sudah sampai di komplek di mana Airy tinggal, vespa kesayangan Doni, mereka tinggal di pos satpam. Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seekor anjing besar mengejar mereka.


Mereka berlari sangat kencang bak atlit lari. Untung saja ada pohon yang berada di daerah taman komplek, Airy pun memanjat dengan entengnya meninggalkan Adam di bawah.


"Ayo naik cepat! Anjingnya sudah semakin dekat!" teriak Airy.


"Tapi saya tidak bisa manjat, Bu." teriak Adam juga.


"Udah ayo, pegang tanganku, ya. Nanti aku tarik," kata Airy meyakinkan Adam.


"Tapi kita bukan mahram, Bu? Dan ...,"


"Darurat! Buru!"

__ADS_1


Dengan reflek, Adam pun meraih tangan Airy. Dan mereka pun naik ke pohon dan nangkring bersama. Saling menatap dan tertawa. Hal kecil itu juga bisa membuat Adam mengingat akan masa lalunya dengan Airy yang saat itu di ajak nangkring di atas pohon, seminggu sebelum menikah.


__ADS_2