Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 156


__ADS_3

Benar saja, saat pengen jajan, ia melihat Hafiz sedang bersama Sari di pinggir jalan. Mereka terlihat sedang bertengkar, terlihat gerak gerik mereka yang setiap berbicara terlihat ngotot.


"Itu kan Kak Ale dan Sari?" ucap Airy.


"Mana? Oh, biarin saja lah. Kita mau makan di mana nih?" sahut Rindi acuh tak acuh.


Airy dan Rindi duduk di sebuah tempat makan bakso, dari kejauhan, Sari dan Hafiz melihat mereka berdua, lalu menghampiri nya. Semoga niat buruk Sari bisa di cegah oleh Hafiz dan Rindi.


Bruakkkk...... !!!


Meja makan di di gebrak oleh Sari, tentu saja membuat semua orang yang ada di dalam kaget. Hafiz pun meminta maaf, dan menyuruh Sari untuk duduk.


"Kalian berdua ngapain sih kesini? Ganggu aja deh, kita lagi mau menikmati bakso yang ajib ini rasanya, gih pergi!" Seru Airy.


"Heh, yang di lihat Adam itu apa sih darimu, kaya juga aku, cantikan juga cantik aku, aku yang menemaninya sampai dia lulus sekolah. Kenapa kamu yang jadi pendamping nya, jangan karena kamu hamil anaknya, terus kamu sok kayak gini deh." Tegas Sari.

__ADS_1


"Moon maap nih ye Maemun. Ingat kata Sa'idatina Aisyah, janganlah kau berbangga diri dengan ke cantikan mu, hingga dirimu di kejar jutaan lelaki. Itu bukanlah suatu kemuliaan sayang, pergi!" Pungkas Airy.


"Sari sebaiknya kamu pergi dari sini! Jangan lagi kamu ganggu kehidupan rumah tangga Adam dan Airy. Pergi atau aku ... " Ancam Hafiz.


Sari pergi begitu saja, entah ancaman apa yang Hafiz lontarkan. Akhirnya Sari keluar, begitu juga dengan Airy yang menyuruh Hafiz keluar juga.


"Kak Ale ngapain masih disini?" tanya Airy.


"Mau gabung makan, boleh dong."


"Mas Hafiz, kenapa sih Mas Hafiz nggak bungkam saja Sari itu. Kenapa dia di biarkan masih berkeliaran di sekitar kita?" kesal Rindi.


"Selagi dia nggak bikin ulah, lebih baik kita jangan mengusiknya." Jawab Hafiz.


"Kak Ale ada masa lalu apa dengan Sari?" tanya Airy tanpa di pikir dulu.

__ADS_1


Antara polos dan susah untuk menahan bibir, Airy terlalu bar-bar menanyakan hal itu kepada Hafiz, tentu saja itu membuat Hafiz tidak nyaman. Masa lalu mereka berdua, hanya mereka berdua yang tahu. Atau hanya beberapa orang yang mengetahuinya. Rindi pun mencubit pinggang Airy.


"Aw, sakit tau! Emang salah aku nanya gitu? Dari pada aku su'udzon ye kan?" Lagi-lagi tak mulut Airy tak ada rem.


"Aku ada masa lalu buruk, saat itu ku lakukan dengan Sari. Itu kenapa aku pergi dari pesantren, setelah itu aku nggak bisa cerita lagi. Maaf ya Airy," jelas Hafiz dengan lembut.


"Oh," jawab Airy singkat.


"Kok Ma Hafiz bisa lembut gini nih cara bicaranya. Apa yang di bicarakan Sari itu benar, bahwa Mas Hafiz ada rasa dengan Airy. Astaghfirullah hal'adzim, ini nggak boleh terjadi." Batin Rindi.


Terlihat sangat jelas jika Hafiz memang memiliki rasa kepada Airy. Di tambah lagi, panggilan 'Kak Ale' membuat mereka terlihat sangat akrab. Dengan pelan, Rindi akan memperingatkan Airy untuk mengubah panggilan Hafiz, lalu sedikit menjauh darinya juga.


"Ada apa dengan jantung ini! Berdetak sangat cepat ketika ada di depan Airy. Itu membuatku sangat tidak nyaman, Ya Allah, kenapa rasaku ini seperti ini. Dia adik ipar ku, istri adik kesayanganku. Salah! Rasa ini salah! " Hafiz mulai tidak tenang.


Merasa canggung, Hafiz membungkus baksonya. Kemudian pamit untuk pulang terlebih dahulu. Menarik nafas panjang dan mengucap istighfar, Hafiz harus bisa menjaga hati untuk tidak menyakiti perasaan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2