Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 340


__ADS_3

"Ibu hanya mau Aminah menikah dengan Rasid. Sesuai dengan wasiat kakekmu. Tolong mengerti Ibu, Dit. Tolong...." Mohon Ibunya Raditya.


Aminah yang mendengar itupun langsung pamit, ia tak mungkin memaksa ibunya Raditya untuk saat ini. Ia juga ingin Raditya untuk tidak mengatakan tidak kepada Ibunya, karena Aminah tahu, Ibu adalah orang pertama yang harus di hormati setelah ayah. Dia yang mengandung dan melahirkan, jadi seorang Ibu tahu yang baik dan yang buruk bagi anaknya.


"Assalamu'alaikum, saya pulang dulu saja. Bang Dit, Mas Rasid, Ibu... huh... assalamu'alaikum...," pamit Aminah dengan menahan air matanya.


Rasid menyuruh Raditya agar mengantar Aminah, karena Raditya yang sudah membawanya ke rumah. Rasid tahu, jika Ibunya akan tenang ketika bersamanya.


"Bu, kita masuk ke kamar ya." ajak Rasid.


Sementara itu, Raditya mengejar Aminah dan mengantarkannya pulang. Mereka tidak menyangka jika semuanya akan kacau, dan mereka masih harus berjuang.


"Masih satu tahun lagi, kita masih banyak waktu. Jika memang Ibumu tidak merestui kita, aku yang akan pergi. Karena aku tidak mungkin menikah dengan kakak seseorang yang ada di hatiku," desis Aminah duduk di samping Raditya.


"Baiklah, hanya waktu yang akan menjawab. Sebaiknya kamu belajar lebih giat, biar lulus dengan nilai bagus nanti, oke? Aku akan menemanimu ke Singapura, siapa tahu aku bisa berbisnis juga di sana," kata Raditya dengan menghela nafas panjang.


"Jadi, kita pasrah nih sekarang?" tanya Aminah.


"Bukan menyerah, sih? Lebih tepatnya kita tunda lagi aja kisah kita, biarkan kamu sekolah lebih tenang dulu. Tapi, kita jalani saja seperti biasa. Jangan segera ambil keputusan dengan perjodohan ini, bagaimana?" usul Raditya.


"Setuju!" seru Aminah.

__ADS_1


"Main setuju aja. Memangnya kamu mengerti apa yang aku katakan?" tanya Raditya.


"Aku paham, kok. Kita ttm-an, 'kan? Biarkan perjodohan ini berjalan, tapi perlahan kita buktikan jika hubungan kita memang serius," celetuk Aminah.


"Cerdas!"


"Aminah... ayo, aku sudah lapar sekali. Sebaiknya kita jajan, Bang Dit." ajak Aminah.


Meski belum ada restu, tapi mereka juga tidak akan terburu-buru untuk mengambil tindakan. Mereka juga masih muda, lagipula Rasid juga pasti mengerti dengan situasi itu. Jadi, baik Aminah ataupun Raditya, mereka tidak ingin mengambil tindakan lebih lanjut yang akan merugikan diri sendiri.


Di sisi lain, Rasid masih menenangkan Ibunya. Ia bertanya kenapa Ibunya tidak merestui mereka saja dan mencari jodoh lain untuknya. Akan tetapi, Ibunya masih saja ngeyel dengan keputusannya. Rasid tidak mungkin menentang kehendak Ibunya. Jodoh tidak ada pada tangan Ibunya, namun Rasid tetap tidak ingin menikahi Aminah selagi Aminah masih memiliki hubungan dengan adiknya.


"Tapi kenapa, sih, Buk? Perjodohan itu kan tidak ditunjukan untuk siapa. Rasid dan Raditya itu sama-sama anak Ibu, loh. Nggak harus Rasid juga kan yang menjalani perjodohan itu?' tanya Rasid lagi.


"itu tidak masuk akal, Buk. Jangan karena aku dan Raditya beda bapak, jadi Ibu membedakan aku seperti ini. Aminah dan Raditya saling mencintai, kita harus dukung mereka, Bu." Rasid tidak ingin, jika Ibunya selalu membedakan kasih antara dirinya dan Raditya.


Tekad ibunya sudah bulat, tidak akan menjalankan perjodohan itu jika Aminah masih bersama dengan Raditya. Ke-duanya memang anak kandungnya, namun Rasid memang anak kesayangan yang lahir dari sosok lelaki idamannya dulu sebelum ada perceraian.


-oOo-


Di tempat lain, ini kali kedua keluarga Syifa datang ke rumah Raihan. Kali ini bertemu dengan Ruchan dan Leah, dan Syifa ikut serta dalam pertemuan itu. Laila merasa dikhianati oleh Syifa karena ia melanggar janjinya sendiri. Namun, Syifa masih menolak saat berada di tengah-tengah keluarga saat itu. Syifa juga menegaskan jika dirinya mungkin tidak akan lagi menikah dan fokus dengan anaknya.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya menolak poligami ini!" tegas Raihan.


"Tapi wasiat Hadi... namanya wasiat harus dijalankan loh nak, Raihan. Kamu jangan kabur dari wasiat itu," ucap bapak kandung dari Hadi.


"Tapi saya tidak bisa berbagi kasih dengan dua istri. Dan saya tidak ada niatan untuk berpoligami, saya mohon dengan sangat hormat, tolong jagan bahas ini lagi," tolak Raihan.


"Pak, Buk, Umi, Abi. Benar apa yang dikatakan Mas Raihan, saya pun tidak mau menikah lagi. Saya juga memahami keadaan istrinya juga, tolong jangan kita ungkit lagi masalah ini. Sebaiknya kita bersaudara saja," sahut Syifa tidak mau kalah.


"Kalian akan terbiasa jika nanti sudah bersama. Saya yakin itu, ayolah Nak Raihan... harus di pikir lagi, Syifa ini gadis yang sholehah, dia tidak mungkin akan mempermalukan keluarga nantinya," timpal bapaknya Syifa.


Tak terasa air mata Syifa menetes. Ia bagaikan bahan dagangan oleh keluarganya sendiri. Syifa sendiri juga merasa malu ketika keluarganya berbuat hal rendah memohon seperti itu. Ibarat, Syifa ingin tenggelam dalam lautan dalam dan tak ingin muncul di permukaan lagi. Laila dan Airy terus menatap Syifa yang sedari tadi tangannya tak berhenti dari getaran. Nampak sekali jika Syifa merasa tertekan akan itu.


"Maaf jika saya lancang, tapi alangkah baiknya. Jika bapak-bapak dan ibu-ibu ini melihat keadaan Mbak Syifa. Lihatlah! Tangannya bergetar hebat, dia gugup dan ketakutan. Apakah, kalian tahu artinya itu?" Airy merasa geram.


"Airy...," panggil Ruchan.


"Tidak! Aku nggak tahan melihat semua ini. Lihatlah dia, dia udah gemetaran, dia juga sudah menolak wasiat dari almarhum suaminya. Kenapa harus di paksa lagi, sih?" kesal Airy. "Lagian, bapak-bapak dan ibu-ibu ini harusnya mikir lagi dengan situasi ini. Lelaki yang hendak dijodohkan dengan anaknya itu sudah beristri dan istrinya lagi hamil muda. Kalian para Ibu juga pernah hamil, bukan?" lanjut Airy.


"Masa iddah-nya juga masih panjang, ini baru berjalan 2 bulan. kalian berilmu kenapa tidak menggunakan ilmu kalian? Masa iddah bagi istri yang cerai mati/meninggal, masa iddah-nya akan di jalani selama 4 bulan 10 hari. Selama masa iddah itu belum selesai, Mbak Syifa ini belum boleh menerima pinangan dari lelaki lain. Eh ini, kalian malah melamar suami dari wanita lain untuk di jadikan suaminya,"


"Terkadang, kebo nyusu gudel itu memang nyata!" tukasnya.

__ADS_1


Entah mengapa, Leah melihat ada sisi Aisyah di dalam diri Airy yang kini sudah mulai berpikir dewasa. Keluarga Syifa terdiam, mungkin cara Airy salah saat menyampaikan kekesalannya. Namun, apa yang di katakan Airy ada benarnya juga. Syifa harus menjalani masa iddah dan tidak boleh menerima pinangan dari lelaki manapun.


__ADS_2