
Siang itu, Raka menghampiri Airy di dekat parkiran kampus. Ternyata, Maureen jatuh cinta pada pandangan kepada Raka. Melihat Raka mendekati Airy, Maureen nampak sangat kesal.
"Assalamu'alaikum, Airy kamu pulang ya?" tanya Raka.
"Wa'alaikumsalam, iya. Ini lagi nunggu suami! Kenapa? " jawab Airy.
"Emm, nggak papa sih. Di jemput suami ya? Aku cuma mau bilang aja, sebaiknya kamu rahasiakan identitasmu di kampus, " ucap Raka dengan ragu-ragu.
"Kenapa gitu? Dia kan suamiku, bukan sebuah aib juga untukku kan? " tanya Airy.
"Iya sih, ya bagus itu. Tapi kan, pasti anak-anak di kampus, nyangka yang bukan-bukan gimana? " ucap Raka dengan tatapan dalam.
"Kalau itu mah terserah mereka mau berargumen seperti apa. Lagian...... " Kata-kata Airy terpotong dengan munculnya Maureen yang langsung memeluk lengan Raka.
Merasa tidak enak dengan Airy, Raka langsung menepis pelukan tangan Maureen tersebut.
"Kamu Raka kan? Emm aku boleh nebeng pulang nggak? Kebetulan aku nggak dijemput hari ini, please! " pintar Maureen.
Raka memandang Airy, berharap Airy tidak mengizinkan Raka membonceng Airy. Tapi Airy nya saja cuek, bahkan terkesan tidak peduli dengan mereka berdua.
"Kenapa menatapku? Bawa pulang sana nih ronggeng! Sepet mataku! " Ucap Airy memandang ke kanan kekiri menunggu Adam.
"Miskin! " ketus Maureen.
"Bodo! " jawab Airy.
"Airy, kenapa kamu nggak menahanku sih? Aku kan juga pengen mengantarmu pulang, kan kita tetangga desa! " ucap Raka dalam hati.
Maureen langsung menarik Raka, kebetulan Rindi sudah pulang terlebih dahulu. Karena ia ingin ke kantor pos, karena ibunya baru saja mengirim uang lewat kantor pos. Jaman sekarang? Kirim uang lewat kantor pos?.
__ADS_1
Sekitar 15 menit berlalu, Adam baru saja sampai di parkiran. Tatapan kesal terpampang diwajah Airy, ia sudah menunggu sangat lama, dengan santainya Adam memasang wajah tanpa dosa.
"Assallamuallaikum," salam Airy sambil mencium tangan Adam.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, maaf ya sayang. Aku telat, karena ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Maaf ya," ucap Adam sambil membelai kepala Airy.
"Emm, " jawab Airy.
Melihat sikap Airy, Adam hanya tersenyum dan tidak bertanya-tanya lagi. Ia tahu Airy sedang berada di zona kebete'an yang haqiqi. Bahkan, sepanjang jalan perjalan saja, yang biasanya ngomong tampa titik koma, kini Airy hanya diam saja. Sampai di dalam rumah, Adam langsung memeluk Airy dari belakang.
"Kenapa sih? Kesel banget gitu, lillahita'ala aja dong sayang, semangat ya, " ucap Adam mengusel-usel kepalanya di bahu Airy.
"Gimana aku nggak kesel Mas!! Aku masuk ke pertanian, satu kelas sama dua neraka yang bikin kesel terus aghhh ingin ku teriak!! " kesal Airy.
"Ingin kumenangis, inginku, inginku ahhhh kesalnya! "
Adam mencium lembut pipi Airy, bahkan ia juga ingin membuatkan minuman hangat untuk istrinya yang sedang kesal itu. Bahkan, dengan sabarnya Adam tetap memberikan senyuman untuk Airy, walaupun aslinya dirinya juga sedang diuji kesabaran.
"Lalu Raka? " tanya Adam.
"Raka? Siapa dia? Oh iya, dia yang waktu itu ketemu di alun-alun. Tau nggak, dia deketin aku Mas, ihh nggak nyaman aku. " jawab Airy terlalu jujur.
Disini Adam mulai merasa khawatir, lelaki itu mungkin juga oke dalam segi fisik. Seumuran juga dengan Airy, Adam takut, jika Airy bisa tertarik dengan lelaki lain.
"Naudzubillah himindzalik, Ya Allah, prasangka apa ini? Aku harus percaya kepada istriku sendiri. Aku yakin! Airy bisa menjaga setatus nya! " ucap Adam dalam hati.
Malam hari, saat berkumpul bersama dengan beberapa Ustad, Adam kepikiran dengan lelaki yang katanya mendekati istrinya itu. Ia sampai tidak konsen saat di ajak berdiskusi dengan sesama pendiri pesantren disana.
"Adam! Dam! Astaghfirullah, Adam! " bisik Ustad Zainal.
__ADS_1
Adam tidak mendengarnya.
"Stts, Adam! " teriak Ustad Zainal sampai mengagetkan semuanya.
"Iya Mas? " tanya Adam tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa sih? Kalau capek, lelah, lesu, sana istirahat. Diajak diskusi malah ngelamun! Udah sana balik kerumah! " kesal Ustad Zainal.
"Enggak kok, lagi pusing aja sedikit, " jawaban Adam membuat Ustad Zainal semakin kesal.
Setelah kumpulan bersama pendiri Pesantren selesai, Ustad Zainal dan Adam kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka berjalan bersama dan menceritakan banyak hal tentang apa yang terjadi di pesantren maupun di luar pesantren. Sadar bahwa Adam tidak mendengarkan apa yang ia katakan, Ustad Zaini pun menepuk bahu Adam dengan sangat keras.
" Astagfirullahal'adzim, sakit tahu Mas! Kan bisa negur pelan-pelan. Kenapa harus tepuk bahu keras kayak gini sih! " seru Adam.
" Ya sallam, kamu memangnya kenapa sih! Dari tadi loh, aku perhatikan kamu itu diam mulu, ngelamun mulu. Ada apa? Cerita dong sama Mas, kalau ada masalah itu cerita jangan dipendam sendiri. Emang ada masalah apa sih? " tanya Ustad Zainal.
"Mas, mungkin nggak sih kalau air itu bisa jatuh cinta sama orang lain?" tanya Adam.
"Astaghfirullahal"adzim, naudzubillahimindzalik, amit-amit jabang bayi. Mbok ya kalau ngomong itu dikontrol, difikir dulu lah, masa kamu doain istrimu jatuh cinta sama pria lain. Ya berdoa saja agar istrimu itu, makin cinta gitu sama kamu. Ya Allah Adam, pikiranmu loh ya! " Ustad Zainal malah kesal sendiri.
"Ya dia kan masih muda Mas, dia masih labil juga kan? Sedangkan aku ini kan udah tua, kita juga belum memiliki keturunan, pasti ya, hah Astaghfirullah, " kata Adam.
"Istighfar yang banyak, positif thinking aja sama istrimu. Kalaupun dia goyah, ya itu tugasmu buat mengingatkan, buat di jatuh cinta padamu gitu. Sabar ya, menikah dengan anak jaman now mungkin seperti itu, imbangi Dam, imbangi aja. Assalamu'alaikum! " Ustad Zainal masuk kerumahnya.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh. "
Saat Adam kembali, ternyata Airy sudah menyiapkan beberapa masakan untuknya. Bahkan ia juga susah payah belajar masak, agar bisa menyenangkan hati suaminya. Adam menajadi bersalah sudah berfikir yang tidak-tidak dengan Airy.
"Assalamu'alaikum, " salam Adam.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, udah pulang Mas? Pasti lapar? Aku masakin menu spesial buat Mas Adam, tapi masih tahap belajar sih heheh, hayuk! " Ajak Airy, ia langsung menggandeng lengan Adam dan menariknya ke dapur.
Merasa bersalah, Adam langsung memeluk Airy dengan sangat erat. Airy tidak tau kenapa, ia membalas pelukan itu, lalu menepuk-nepuk pundak Adam dengan lembut dengan berkata "sek sabar", nggak jelas banget kan Airy?