
Melihat Adam masuk, Airy memberi senyuman manis kepadanya.
"Assallamu'alaikum semua, ini Airy, nasi padang pesananmu" Kata Adam memberikan nasi padang itu kepada Diaz.
"Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh."
"Terima kasih ya Ustad, baik deh," ucap Airy.
"Soal perjodohan itu, enaknya kamu mau bagaimana Airy, jika ini berdampak bagi ketenangan di pesantren, apa sebaiknya kita batalkan saja," Adam mengatakan itu dengan berat hati, karena dalam hatinya, ia tidak ingin perjodohan itu sampai batal.
"Enak aja! Jangan dong, kita nikah aja secepatnya!" Tegas Airy.
"Airy!" Raihan dan Diaz menatap Airy dengan penuh keheranan.
Bukan Airy jika tidak membuat kejutan, tetapi pernikahan bukanlah suatu hal untuk main-main, harus benar-benar ditentukan oleh dua keluarga. Kesiapan yang matang, serta kemantapan kedua belah pihak. Airy berusaha meyakinkan Raihan, Diaz dan Adam, sambil makan disuapi Raihan, ia mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
"Sama ampelanya Bang, emm. Jadi gini loh Bro! Ustad Raihan dan aku akan menikah setelah lebaran, tunangan dihari pernikahan Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa, kan etelah lebaran aku lulus sekolah, dan setelah itu, aku bisa menikah dong. Gimana menurut kalian? Ayo Bang, pakai sambel juga!" Airy ini walaupun membahas nya sambil makan, tetapi ia sangat serius dengan apa myang ia katakan.
__ADS_1
"Ha?"
"Kenapa? Kalau kalian nggak setuju ya udah, setelah lulus aku akan ke Jepang nyusul Om Abang dan kuliah disana, otomatis perjodohan gagal," Kata Airy sambil mengayunkan kakinya.
"Jangan! Eh maksut saya, saya setuju dengan apa yang Airy katakan, nanti sepulang dari sini, saya akan mecoba berbicara dengan Kyai besar dan Ustad Zainal." Kali ini Adam bicara dengan sangat cepat tanpa gugup, mendengar Airy ingin membatalkan perjodohan itu, ia menjadi sangat gelisah.
"Astaghfirullah hal'adzim, agresif banget sih," Lirikan Diaz sangat lucu saat itu, hingga membuat Airy tertawa terbahak-bahak.
Mendengar Airy tertawa seperti itu, Raihan refleks langsung menarik pipi Airy, mengigatkan bahwa seorang muslimah tidak baik jika tertawa hingga terbahak-bahak seperti itu. Malam itu, Adam dan Diaz kembali kepesantren, sedangkan Raihan harus menunggu Airy, karena Airy harus infus terlebih dahulu dan menginap untuk satu malam.
Di perjalanan, Diaz tidak henti-hentinya menceritakan tentang tingkah usilnya Airy saat kecil hingga remaja, apa lagi kenakalannya itu tidak jauh-jauh dari berkelahi. Diaz memang tidak seakrab kelihatannya, tetapi orang tua mereka selalu menjaga komunikasi antar keluarga.
Mendengar sifat Airy kecil, membuat Adam semakin penasaran dengannya. Adam semakin mantap dengan perjodohan itu, lalu segera membawa pergi jauh Airy untuk kuliah dimana yang ia inginkan. Sesampainya dirumah, Adam duduk di sofa ruang tamu, ia bingung ingin memulai percakapannya dengan Abi dan Kakaknya dari mana.
-_-_-_-_-
Setelah sholat subuh, Rindi mencari-cari dimana Airy berada, dengar kabar bahwa Airy belum pulang dari rumah sakit, Rindi meraa bersalah dengannya, karena Nadia yang kesal menyalahkan Rindi atas pingsannya Airy terus-menerus.
__ADS_1
"Maafkan aku Airy, tapi kita memang ditakdirkan untuk saingan, bukan menjalin persahabatan!" Dalam lubuk hatinya memang ia merasa bersalah, tetapi, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan santriwati lainnya.
Melihat Adam yang mondar mandir di depan pintu kamarnya membuat Ustad Zainal pusing sendiri, ia menegur Adam dan mengajaknya bicara, sambil menunggu Kyai besar pulang dari masjid, Adam meceritakan keadaan Airy saat dirumah sakit. Tak ada yang Adam tutupi, ia menceritakan kekonyolan yang Airy lakukan di rumah sakit, Ustad Zainal sampai tertawa-tawa, tak selang berapa lama Kyai besar pulang.
"Assallamu'alaikum warrahmatullahi wabbarokatuh," Salam KYai besar.
"Wa'alaikum sallam warrohmatullahi wabbarokatuh, sini Bi ayo duduk, ada hal yang ingin anak kesayangan Abi ini katakan, monggo," Ustad Zainal mempersilahkan Kyai besar duduk.
"Ada apa Adam? Kok terlihat seperti orang bahagia sih hahaha," Dagel Kyai besar.
"Inin mimik wajah bingung Bi, bukan bahagia. Sejak kapan Abi jadi konyol gini, ketularan sama Ustad Ruchan sih," kesal Adam dengan mulut manyunnya.
"Hehe ada apa sih Dam? Bilang dong, Mas tuh udah sejak semalem lihat kamu seperti tidak tenang gitu, setelah Airy pingsan," Tanya Ustad Zainal ingin tahu.
Ini kali pertama Adam merasa gugup saat ingin bicara dengan seseorang, apalagi dengan Abi dan Kakaknya sendiri. Dirinya sangat biasa jika bicara di depan orang-orang penting, dan rasanya seperti adem di pantai, berbeda dengan saat ini. Dirinya seperti sedang berada di ujung jurang yang dalam dan dingin. Tetapi, ia harus mengutarakan apa yang Airy katakan semalam, tentang rencana tunangannya.
"Apa! Tunangan?" Kyai besar dan Ustad Zainal sempat kaget mendengar keinginan Adam tersebut.
__ADS_1
Adam berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, perjodohannya telah membuat Rindi hendak mengakhiri hidupnya. Karena, seperti yang semua orang tahu, kalau Rindi mencintai Adam sejak dulu. Adam berusaha meyakinkan Abi dan Kakaknya jika pertunagannya ingin ia adakan setelah ijab Qobul Ustad Zainal selesai, lalu menikah 2 bulan setelah itu, karena jika ingin ta'aruf, tidak boleh ditunda lama-lama sampai ke jenjang pernikahan.