
Malam itu, Adam sudah sampai rumah. Tapi sayang, Airy dan seisi rumah sudah tidur, karena pulangnya kemalaman. Mereka harus mengganti ban dulu di tengah jalan karena bocor. Berkali-kali Adam mengetuk pintu, tapi tak kunjung Airy atau Yusuf bukakan.
"Apa mereka sudah tidur, ya? Tapi baru jam 10 an, biasanya juga mereka jam segini belum tidur." gumam Adam.
Karena tidak ada yang membukakan pintu, dan Adam tidak ingin mengganggu istirahat orang yang ada di rumah, ia pun tidur di kursi yang ada di teras. Untung saja, kemana-mana dia selalu membawa sarung jika bepergian jauh. Jadi, ia bisa menyelimuti dirinya menggunakan sarung yang sebenarnya udah sedikit bau asam.
Subuh, ketika Yusuf hendak pergi ke masjid. Ia terkejut melihat Adam yang tertidur di kursi teras. Ia segera membangunkan Airy, dan meminta Adam untuk masuk ke rumah.
"Astaghfirullah hal'adzim, Mas Adam." ucap Yusuf kaget.
"Kapan pulang, sih? Mas Adam, bangun Mas. Masuk dulu, tidak di dalam gih, Mas.. Mas Adam," Yusuf membangunkan Adam.
"Jam berapa ini?" tanya Adam masih berusaha mengumpulkan nyawa.
"Subuh, ini aku mau ke masjid. Mas Adam sholat aja di rumah. Sepertinya Kak Airy sedang tidak enak badan, soalnya sejak kemarin dia bilangnya pusing terus," jawab Yusuf.
"Aku ke masjid dulu, ya. Nggak dapat paling depan aku nanti, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Adam ingin sekali sholat jama'ah di masjid, tapi ia harus mandi dulu karena sejak kemarin sore belum mandi. Tak langsung membangunkan sang istri, segera masuk ke kamar mandi, ganti baju dan sholat di ruang tengah. Mendengar suara Adam yang sedang mengaji, Airy terbangun. Ia terus memastikan jika suara orang yang mengaji itu adalah suaminya.
Berjalan secara perlahan, melihat dengan jelas, mengucek matanya berkali-kali. Betapa senangnya ia, melihat sang suami sudah tampan dengan baju koko dan peci dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Segera Airy membangunkan Rafa untuk sholat bersamanya. Ketika bertemu, mereka hanya saling senyum, tak perlu memandang terlalu lama, Airy langsung menunaikan ibadahnya agar bisa bermesraan dengan sang suami.
"Abi? Ye Abi sudah pulang!" ucap Rafa kegirangan, ia baru saja selesai wudhu.
__ADS_1
Salim, memeluk Adam sebentar, kemudian menyusul Airy sholat. Sesekali melirik ke arah Adam, memastikan kalau Abi nya benar-benar sudah kembali. Selesai sholat, Rafa juga mengaji dengan Adam, kemudian Airy mengambil kejutan yang hendak ia berikan kepada Adam dan Rafa.
"Ini, apa?" tanya Adam menerima sebuah kotak kecil panjang yang isinya tes kehamilan.
Tak lupa mengucap basmalah sebelum membuka kota itu. Kemudian, ia membukanya secara perlahan, dan ternganga setelah melihat dua harus biru dan hasil usg ketika bersama Laila dua hari lalu.
"Sayang.. Ini?" Adam masih tak percaya.
"Rafa akan memiliki adek, Alhamdulillah,"
Pengakuan Airy membuat Adam dan Rafa menjadi terdiam sepi, mereka saling bertatapan, tak la setelah itu, dua lelaki hebat dalam hidup Airy itu memeluknya dengan penuh perasaan. Mencium kedua pipi, kanan dari Adam dan kiri untuk Rafa.
Betapa girangnya Rafa, saking girangnya, ia mau ke pesantren untuk memberitahu kepada tante-tante dan om-om nya berita bahagia itu. Sementara Adam, masih saja memeluk Airy, dan mencium kening sang istri dengan penuh cinta.
"Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a." Mata Adam sampai berkaca-kaca mengucapkan lafadz itu.
"Terima kasih, kamu sudah mau mengandung anak keduaku," bisik Adam.
"Hey, anak kita. Siapa yang hamil, justru aku mau protes ini," ketus Airy
"Protes kenapa? Ada masalahkan ketika mengurus Rafa sendirian?" goda Adam.
"Huh, bukan! Kenapa Mas hamilin aku di waktu yang tidak tepat. Aku belum siap melahirkan lagi, amit-amit Ya Allah maafkan mulutku yang tak tau diuntung ini,"
Mendengar protesan itu, Adam hanya tertawa dan memeluk kembali sang istri. Tak lupa mengecup kening Airy.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Di rumah Raihan, berbeda kejadiannya. Raihan bisa tidur di dalam rumah semalam karena Laila masih terjaga sedang bermain game. Subuh mereka di adalah dengan pertengkaran kecil tentang Laila yang belum setor harapan.
"Udah dua hari, loh! Masa iya kamu belum hafal, ngapain aja selama aku pergi?" tanya Raihan.
"Kemarin aku udah hafal, tapi entah kenapa semua ilang di ingatan, beneran!" jawab Laila pasti.
"Ya sudah, sekarang hafalin lagi dan cepat setorin ke aku, ya. Tak tunggu, hafalin yang bener jangan main-main, nanti aku ikut dosa juga," tutur Raihan masih sabar.
Sambil di tinggal bongkar tas, Laila menghafal sudah pendek yang memang di wajibkan untuk di hafalkan. Untung masih pagi, dan ada beberapa Laila sudah menghafalkan sejak kemarin, jadi tak butuh waktu lama, ia bisa setor pagi itu juga kepada suaminya.
Setiap rumah tangga memiliki cara sendiri untuk membangun keharmonisan dan mempertahankan hubungan. Namun, sejak menikah dengan Laila, Raihan terlihat lebih penyabar dari sebelumnya. Begitu pun Adam, yang dulu pendiam, sedikit galak, begitu menikah menjadi lelaki yang lembut, lunak dan romantis.
-_-_-_-_-
Di pesantren, Gu dan kedua adiknya, Falih dan Hamdan selesai mengaji. Kerusuhan Falih memang tiada obat, ada aja yang ia lakukan untuk membentuk sebuah cerita di setiap harinya.
Selesai mengaji, Falih meminta izin kepada Gu untuk meminjamkannya motor lagi. Tentu saja Gu menolaknya, beberapa waktu lalu motornya sudah di rusakkan oleh ketiga perusuh itu.
"Ndan, ngomong, dong!" bisik Falih meminta bantuan kepada Hamdan.
"Kak... " baru saja menyebut kak sudah Gu potong pembicaraannya.
"Apa? Nggak ada, hari ini Kakak mau ke kampus, dah sana!" Gu mengusir mereka.
"Ayolah, Kak!" desak Falih.
Upaya untuk merayu malah membuat Falih dan Hamdan terkena hukuman lagi. Hukuman, hukuman dan hukuman. Mereka tak ada rasa jera sedikitpun tentang hukuman itu. Falih dan Hamdan ini sangat usil dan sering membuat kakak-kakaknya kesal, padahal dulu bapak-bapaknya terlihat sangat anteng-anteng saja.
__ADS_1