
Tangan Airy masih bergetar, jantungnya berdetak sangat cepat, pipinya memerah. Ia baru tahu apa yang di sebut malam pertama itu. Ia terus saja memegang pipinya.
"Jika ku tahu apa itu malam pertama, aku tidak akan mempertanyakan itu. Lagian kenapa juga sih Ustad mencium kening ku dengan nafsu seperti itu, aku kan jadi takut!" seru Airy.
"Lagian, dia cukup bilang dan menjelaskan saja. Segala pakai praktik, aku kan.... hihhh geli lah, malu aku!" Airy terus saja menutupi tubuhnya menggunakan kedua tanganya.
Kebetulan Rindi juga lewat di bawah pohon itu, Rindu baru saja pulang dari mushola. Mendengar ada seseorang yang sedang menggerutu, Rindu mencari-cari arah suara itu. Melihat ada sesuatu diatasnya, Rindi langsung menutup matanya menggunakan kitab yang ia pegang.
"Qul a'uzu birabbil-falaq. Min syarri ma khalaq. Wa min syarri ghasiqin idza waqab. Wa min syarrin-naffasati fiil-'uqad. Wa min syarri hasidin idza hasad." ucap Rindi.
"Hey, di atas sini!" kata Airy sadar jika Rindi dibawahnya sedang mencarinya.
"Astaghfirullah hal'adzim Airy. Kamu ngapain sih malam-malam nangkring disitu, mana pakai gamis putih gitu, aku kan jadi kaget." kesal Rindi.
Airy turun dengan hati-hati,
"Assalamu'alaikum," salam Airy.
__ADS_1
"wa'alaikum sallam, kamu ngapain sih diatas sana!" tanya Rindi masih kesal.
"Ngadem lah, kamu nya aja yang penakut. Mana berdoa nya juga salah lagi, harusnya ayat kursi bukan Falaq." kata Airy.
"Apa bedanya, sama-sama mengusir syaiton!" Seru Rindi.
"Salah lah, Al Falaq itu artinya, katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki." jelas Airy.
"Ahh tetap sama saja pengusir setan." kata Rindi tak mau kalah.
"Bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Aku yakin, kamu dan Mas Adam itu pasangan yang cocok, ehh kamu mau kuliah atau enggak? Daftar bareng yuk!" tutur Rindi.
"Tetot.... keluar dari pembicaraan, aku masih ragu dengan masalah kuliah." jawab Airy.
"Kenapa ragu? Mas Adam pasti dukung kamu kok, ayolah!" Ajak Rindi menyakinkan hati Airy.
Disisi lain, Raihan bertemu dengan Adam di depan rumah Adam. Raihan menyampaikan apa yang Airy katakan sebelumnya. Itu membuat Adam merasa malu.
__ADS_1
"Emm itu lah, hehe kamu mau kemana Bang?" tanya Adam menahan malu.
"Wuih, Ustad panggil aku Abang ih. Jadi nggak enak aku dengernya," jawab Raihan.
"Kan kamu kakak dari istriku, walaupun kalian kembar, tapi kan lahirnya duluan kamu. Istriku panggil Abang, aku juga harus panggil Abang dong." jelas Adam.
"Benar juga sih, sambil jalan-jalan yuk, ada hal yang ingin aku katakan dengan Ustad." ajak Raihan.
Mereka pun membahas banyak hal mengenai Airy dan pesantren, terlebih dengan masa depan Airy. Raihan menyarankan jika Airy tetap melanjutkan pendidikannya, karena sayang saja orang secerdas Airy tidak mengasah otaknya.
"Aku juga sudah fikirkan itu Bang, menurut Abang, bagusnya bagaimana ini. Airy kekeh tidak mau melanjutkannya, aku yakin dia ragu karena biaya nya." Ucap Adam.
"Padahal aku juga punya cukup tabungan jika harus membiayayai kuliah Airy, tinggal Airy nya saja yang memutuskan." tungkasnya.
"Iya jangan dipaksakan, perlahan tapi pasti. Aku yakin dia hanya dilema setelah pernikahan ini. Ustad yang sabar ya," kata Raihan menepuk bahu Adam.
Perjalanan mereka berdua sampai di depan aula. Disana, juga masih ada Ustad Zainal dan beberapa Ustad lain sedang membahas malam takbiran.
__ADS_1