
Tiga jam berlalu, pelajaran telah usai, hari ini kebetulan tidak banyak tugas yang dosen berikan. Jadi seluruh mahasiswa bisa pulang lebih awal. Saat mereka keluar kampus, banyak orang yang bergerumunan di depan gedung dekat asrama.
"Edhrana , ma aldhy yhdth? (maaf, ada apa ramai-ramai?) " tanya Raihan kepada salah satu mahasiswa disana.
"Kanat hunak aimra'at 'aghmi ealayha 'amam mabnaa 'akhi alkhali" (Ada seorang wanita yang pingsan di depan gedung kosong akhy,)" jawabnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " salam lelaki itu langsung berlari menuju kerumunan.
"Dia bilang seorang wanita pingsan kan? " tanya Raditya.
"Di depan gedung kosong juga, " sahut Diaz.
"Wanita itu..!! " mereka bertiga langsung berlari ke kerumunan itu.
Berhasil mereka menerobos kerumunan itu, benar saja yang pingsan itu adalah wanita yang tengah menunggu Raihan, Raditya dan Diaz. Lalu Raihan meminta seseorang untuk membawanya ke rumah sakit, namun tidak ada satupun orang yang mau membantunya, karena wanita itu adalah seorang gelandang. Raditya pun kesal dengan tidak adanya rasa keprimanusiaan yang di pikiran semua orang di sana.
Wanita itu sudah pingsan, kenapa juga tidak ada yang mau menolongnya, hanya karena dia seorang gelandang. Diaz pun mencoba menghentikan sebuah taksi, untung saja Pak supir itu mau berhenti. Mereka bertiga segera membawa wanita itu ke rumah sakit. Sesampainya di sana sama wanita itu langsung diberi perawatan. Dokter itu bilang, kalau wanita itu mengalami dehidrasi yang berlebihan, kemungkinan wanita itu belum makan sama sekali sejak kemarin malam. Merasa bersalah karena membuatnya menunggu seharian penuh, Raihan, Raditya dan Diaz berencana untuk membelikan makanan untuk wanita itu.
Setelah wanita itu baik-baik saja, wanita itu kembali bertanya tentang dimana anaknya berada. Raditya belum tega mengatakannya, tetapi, wanita itu perlu tau dimana anaknya berada, bahkan kalau bisa, Raihan ingin membantu meringankan bebannya.
"Kayf halikm? (Bagaimana keadaanmu?) " tanya Raihan dengan lembut.
Wanita itu menyatukan tangannya, lalu menundukkan kepalanya. Raihan sangat bangga dengan wanita itu, ia masih tetap menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya. Wanita itu kembali menanyakan dimana anaknya.
"Abnak bikhayr , 'iinah fi alkhidmat alaijtimaeiat alan.( anakmu baik-baik saja, dia ada di dinas sosial saat ini) " jawab Raihan.
Mendengar kata dinas sosial, wanita itu tiba-tiba menangis, mereka bertiga semakin bingung. Raditya pun berusaha menenangkannya, wanita itu mungkin mau berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan Raihan. Tetapi, yang mampu menenangkan hatinya hanyalah Raditya.
__ADS_1
" 'Iihda 'in sha' allh taflak bikhayr hal turid muqabalatan tiflak sahihan? (tenanglah, insyaallah anakmu baik-baik saja, kau ingin bertemu dengan anakmu bukan?) " tanya Raditya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya berulang-ulang kali.
"Hsnana , sanakhudhuk 'iilaa hunak. tawaquf ean albaka' ..! (Baiklah, kami akan mengantarmu kesana. Berhentilah menangis..!) " pinta Raditya.
"Gila..!! Kita harus balik ke dinas sosial itu lagi? Kalian mau menghadapi nenek-nenek rempong yang ada disana itu? Kalian berdua aja, aku ogah.. !! " Ucap Diaz, ia tidak ingin masuk kedalam masalah wanita terlalu dalam. Sekalipun ia adalah seorang wanita dan seorang ibu, tetapi ini bukan di negaranya.
"Astagfirullah hal'adzim, Diaz kamu ndak boleh ngomong gitu, kata 'Gila' itu apa sih? Kamu orang muslim, cukup istighfar atau sebut innalillah, " kata Raihan.
"Innalillahi itu kalau dapat musibah..! Lagian, kamu mau dijadikan bahan hujatan sama si setan Argadana itu ha? Kamu itu sering kena hujatan, aku ndak bisa kamu dihujat seperti itu, aku sudah berjanji dengan kedua orangtuamu untuk selalu melindungimu, kamu juga harus hargai aku dong.. !! Bawa wanita itu kekantor polisi saja, biar dia sendiri yang ngurus dirinya sendiri.. !! "
Diaz meluapkan seluruh kekesalannya. Niatnya baik, ia tidak ingin Raihan dan Raditya mendapat masalah karena membantu wanita itu. Dengan sedikit pengertian dari Raditya dan Raihan, akhirnyaDiaz mau juga ikut mengantar wanita itu bertugas dengan anaknya. Selesai mengantar wanita itu, mereka bertiga pun lanjut untuk pulang.
Di rumah Adam, suasana masih malam, percakapan mereka belum selesai. Adam juga sudah menceritakan hal yang dialami oleh istri sahabatnya itu.
"Sebenarnya, istri sahabatku itu, dulu seorang wanita malam yang berhasil dia sadarin, udah ya ceritanya cukup sampai di sini, nggak enak ngomonginnya. " Tutur Adam.
"Kalau aku berniqab? Macam mana Ustad? Bagus nggak? Cocok nggak? " tanya Airy mengusel-usel dibahu Airy.
Adam terdiam.....
"Sayang, kamu perdalam lagi ilmu agama ya, jangan ingin berniqab, kalau mau terlihat baik, atau buat pantas-pantasan saja. Semua itu, harus dirubah dari hati, akhlaq, dan semuanya. Jika berniqab kalau hati masih ada rasa iri atau dengki? Ya mana bisa, berniqab kan tidak wajib, kamu jalani dulu yang sekarang ya, aku dukung jika kamu mau berniqab, Alhamdulillah sekali. Tapi lebih baik kamu tau dulu, bagaimana cara menjadi muslimah sejati," jelas Adam dengan membelai rambut Airy.
"Aku juga merasa belum pantas Ustad, aku kan anak nakal, mana ada berniqab suka manjat, ahh aku ini. " keluh Airy.
"Apapun keadaanmu, bagaimana sifatmu, kau adalah istriku yang sudah sepatutnya aku muliakan. Jadi makin cinta deh sama istri nakal ku ini. " kata Adam mencubit hidung Airy.
__ADS_1
"Apa? Cin-Cinta? Sejak kapan?" tanya Airy.
Suasana malah menjadi canggung, selama ini memang belum ada kata cinta diantara mereka. Mereka pun saling menatap lebih dalam, sebenarnya, rasa cinta itu juga sudah tumbuh dihati Airy, namun Airy belum bisa menyadarina.
"Arwa'ul qulub qolbuk, wa ajmalul kalaam himsuk, wa ahla maa fie hayaatie hubbuk." Ucap Adam dengan lancar.
Jantung Airy seakan ingin meledak ketika Adam mengatakan hal itu, ia tau artinya. Bahkan ia juga bisa berbahasa Arab, ia terus saja memandang wajah Adam tanpa berkata apapun.
"Yang artinya...... "
"Sttt, aku tau apa artinya... Apakah aku se istimewa itu di dalam hidupmu Ustad? " tanya Airy.
"Stop memanggilku Ustad, kau istriku, aku adalah suamimu, bisakah kau memanggil aku dengan panggilan lain? Panggilan itu terlalu banyak yang ucapkan Airy. " Kata Adam.
Airy menunduk, ia belum bisa melepas embel-embel Ustad itu, karena sudah terbiasa memanggil Adam dengan kata Ustad. Airy mendekat ke arah Adam, lalu ia memeluknya. Sambil berkata,
Hati yang paling menakjubkan adalah hatimu, suara yang paling indah adalah bisikanmu, dan hal termanis dalam hidupku adalah mencintaimu.
itu adalah arti dari ucapan Adam sebelumnya.
Adam pun membalas pelukan Airy itu tentunya. Mereka berpelukan pun terlihat sangat mesra, apa lagi, mereka saling menghembuskan nafas di telinga satu sama lain.
"Lalu, Ustad ingin aku memanggilmu dengan sebutan apa? " bisik Airy.
"Apapun, asal jangan sebut embel-embel itu, aku juga ingin diistimewakan oleh istriku sendiri, " jawab Adam semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku bingung mau memanggilmu bagaimana, bagaimana kalau aku panggil Abang? Karena sebutan Mas juga sudah dipakai oleh Rindi, hemm aku tak suka..!! " cemburu Airy semakin jelas, hanya ada yang memanggil suaminya Mas, ia sebenarnya tidak menyukai itu.
__ADS_1
Adam tersenyum, ia pun mengangkat tubuh Airy, dan kini ia memangkunya di atas tubuhnya. Posisi itu membuat Airy malu, karena ia bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di p*ntatnya.