
Mita membalikkan badannya. Rupanya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan orang Yusuf, karena dirinya juga tidak mengenali Yusuf itu siapa.
"Kamu, siapa? Apa maksudmu mengatai aku sebagai wanita yang licik?" tanya Mita.
"Hah, kau mengaku mencintai, Raihan. Tapi kamu tidak mengenaliku. Lalu, untuk apa aku menjelaskan siapa diriku ini?" jawab Yusuf.
"Mungkin, memang sebaiknya kita tidak perlu banyak bicara. Aku hanya ingin mengatakan, agar dirimu mempersiapkan diri dengan se… baik mungkin untuk menghadiri panggilan dari pengadilan negeri. Dengan kasus, kejahatan berencana membuat Raihan dan istrinya kecelakaan." tegas Yusuf.
"Maksud kamu apa?" Mita mulai panik.
"Bedebah! Kerjaan kalian tidak berguna, Raihan dan istrinya masih sehat sampai sekarang, malam minggu di alun-alun, hampir tengah malam. Mobil putih, dengan nopol sekian! Hm?" Ungkap Yusuf.
Perlahan Mita mundur dan ingin kabur. Sayang, lengannya berhasil Yusuf tahan. Senyum kecut Yusuf membuat Mita semakin ketakutan.
"Mau kemana?" tanya Yusuf.
"Melarikan diri? Stt, bagaimana jika kamu menjadi pacarku saja, aku jamin kamu akan melihat Raihan setiap hari," Yusuf masih bersikap lembut kepada Mita.
Tentu saja Mita semakin marah. Ia bahkan berteriak kepada Yusuf. "Mana mungkin. Siapa kamu, apa maksudmu itu? Menjauhlah dariku!" bentaknya.
"Uh, marah? Aku serius, aku ingin kau menjadi pacarku. Aku juga sangat mencintaimu, bisakah kau berbaik hati memberikan hatimu untukku?" desis Yusuf dengan santai.
__ADS_1
"Sebenarnya, siapa sih kamu? Kenapa kamu datang dengan semua kebenaran itu, lalu memintaku untuk menjadi pacarmu. Siapa kamu!" Mita teriak-teriak seperti orang yang kurang waras.
"Kak Mita yang cantik, baik hati, tapi kelakuannya minus, please terima aku jadi brondongmu, ya. Siapa tahu... kita berjodoh tahun depan, lalu kita menikah setelah aku lulus sekolah. Bagaimana Kakak Mita yang cantik?" Yusuf masih menggunakan bahasa yang lembut.
"Pergi! Pergi sejauh mungkin dan jangan ganggu aku. Cintaku hanya satu, hanya untuk Raihan, kamu tidak berhak mendapatkan cintaku!" teriak Mita lagi.
"Auh, sakit hati ini. Kakak cantik kenapa menyakitiku, aku masih 17 tahun dan belum pernah patah hati yang sesakit ini di tolak wanita yang aku cintai, huh!" decak Yusuf.
"Kamu ini siapa? Kenapa kamu mengusikku?" Mita semakin histeris dengan menutup kedua telinganya.
"Itu yang di rasakan Laila sekarang, paham?" ucap Yusuf menyentuh kening Mita dengan jempolnya, dengan senyuman yang semakin membuat Mita ketakutan.
"Baik, anda sebaiknya juga ikut bersama kami untuk melakukan administrasi," kata salah satu dari lelaki berpakaian serba putih itu.
"Mobil saya berada di belakang kalian, saya tunggu di mobil, ya." ucap Yusuf begitu keren.
Sebelum pergi, Yusuf melambaikan tangannya kepada Mita. Bisa di bayangkan berapa memberontaknya Mita waktu itu. Masuklah Yusuf ke mobil berwarna hitam, ternyata ia sedang bersama Clara, pengacara keluarga sekaligus Tantenya.
Clara memuji bakat akting keponakannya itu, tapi Yusuf tidak sehingga itu bisa mempermainkan perasaan wanita. Karena Yusuf selalu memperistimewakan seorang wanita.
"Astaghfirullah, aku berdosa banget dengannya. Tapi, itu juga bisa menjadi pelajaran untuknya. Bagaimana rasanya di kejar oleh seseorang yang tak ia inginkan, dia terus saja mengusik rumah tangga kakakku," ucap Yusuf sambil melepas jaketnya.
__ADS_1
"Tapi kenapa di bawa ke rumah sakit jiwa? Seharusnya kita bawa ke kantor polisi, Suf!" Clara heran dengan keponakannya yang satu itu.
"Aku hanya merasa mentalnya terganggu, sebaiknya bawa dia periksa dulu. Jika dia sehat, baru kita bawa ke rumah sakit jiwa," jawab Yusuf dengan santai.
Plok.. Plok... Plok...
Clara mengagumi Yusuf yang berani mengambil keputusan sebesar itu hanya demi menegakkan kebenaran.
"Luar biasa, kau bisa menjadi pengacara handal jika seperti ini," ucap Clara dengan menepuk-nepuk bahu Yusuf.
"Bukan cita-citaku," jawab Yusuf dengan pintar.
"Jadi artis?" lanjut Clara.
Yusuf hanya menggelengkan kepala.
"Terus? kau mau jadi apa?" tanya Clara.
"Kita lihat saja nanti, sebaiknya kita ikuti ambulance itu sekarang," pinta Yusuf.
Mereka pun membawa Mita ke rumah sakit jiwa untuk melakukan pemeriksaan. Sebelumnya, Yusuf sudah meminta persetujuan dengan keluarga Mita untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Dengan bukti kejahatannya, Yusuf meminta keluarga Mita untuk berlapang dada jika Yusuf ingin melaporkan putri mereka, kalau memang Mita sehat wal'afiat. Diam tapi nyata, itulah Yusuf.
__ADS_1