Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bba. 81


__ADS_3

Melihat itu, Adam langsung mengejarnya masuk. Ia merasa bersalah kepadanya, jika Adam menahan diri untuk tidak langsung menikahinya, pasti Airy bisa ikut Raihan.


"Assalamu'alaikum, " salam Adam.


"Wa'alaikumsalam, Ustad," jawab Airy tersenyum.


Adam duduk di samping Airy dan membelai kepalanya.


"Maaf ya, gara-gara kamu menikah denganku, kamu jadi tidak bebas, aku jadi merasa bersalah." ucap Adam.


"Dimana salahnya? Ustad nggak bersalah kok, ini bukan masalah kebebasan Ustad, tapi aku sama Bang Rai itu nggak pernah terpisah jauh dengan waktu yang lama. Makanya aku belum siap aja." jawab Airy dengan senyuman.


"Jadi berhenti merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri, I'm oke honey, cuma masih belum siap aja jika Bang Rai jauh dari ku, itu saja. Aku bahagia menikah denganmu, aku bahagia menjadi istrimu, Terima kasih sudah mau menerimaku dengan semua kekuranganku yaa, " sambung Airy.


Mereka saling menatap dengan tatapan terdalam, saling mendekatkan wajah dan hendak berciuman, bibirnya sudah dekat, tetapi dengan tiba-tiba Raihan masuk tanpa mengetuk pintu dan salam.


"Aa sory, sory, maafkan aku yang masih menggunakan kebiasaan lama, lanjutkan! " kata Raihan membalikkan badannya dan menutup mata.


"Bang Rai, bisa nggak sih kalau masuk salam atau ketuk pintu dulu!! Mau ku sunat lagi hah! " teriak Airy.

__ADS_1


"Sstt, ada apa Bang Rai, " kata Adam tersenyum mendengar teriakan Airy.


"Aku bingung bicara sama Airy sih, hehehe. Tapi kalau la-lagi pada olahraga hehe, nanti aja nggak papa kok." kata Raihan gugup.


"Sekarang aja nggak papa, aku keluar dulu, masih nyaman ngobrol sama bapaknya Diaz," kata Adam beranjak dari tempat tidur.


"Bicara baik-baik dengannya ya, kalau perlu Abang bujuk dia supaya dia mau kuliah, " bisik Adam dengan menepuk bahu Raihan.


"Kalian bisik-bisik apa sih, hah!! Keluar sana kalau mau bisik-bisikan cinta, " guling melayang.


Adam kabur secepat kilat, sedang Raihan duduk di samping Airy yang masih ngambek itu. Raihan mencoba menenangkan Airy dan memberi pengertiannya.


"Ohhh Airy...... senyum dong," goda Raihan.


"Ck, ada apa! kalau mau pergi ya pergi aja sana, aku nggak akan nangis. " kata Airy dengan wajah yang akan menangis.


"Airy, Abang hanya 3 tahun disana, kamu ada pasport, bisa kunjungi aku disana, Suami mu juga pernah kesana, pasti akan jauh lebih gampang kita bertemu. " kata Raihan.


"Emang difikir aku anak sultan? Kesana juga butuh duit lah Bang! " kesal Airy.

__ADS_1


"Airy,.... "


Airy langsung memeluk Raihan, ia mengeluarkan semua air matanya untuk Abangnya itu. Bukan masalah ia juga ingin pergi kesana, tetapi mereka ini saudara kembar, ikatan batin mereka juga sangat kuat.


"Kamu berkunjung lah kesana ya, tapi ingat! Kamu juga harus kuliah, kejar cita-citamu. “ ucap Raihan.


Airy melepaskan pelukannya.


"Aku ini seorang istri Bang, aku nggak mau jadi beban buat suamiku, yang harus membiayai kuliahku," jelas Airy.


"Ya kalau kamu nggak mau jadi beban, kamu masuk kuliahnya cari beasiswa dong, buat apa kamu cerdas kalau nggak diasah otaknya, bodoh! " goda Raihan.


Airy melotot.


"Ami,.... Bang Rai ngatain aku bodoh, pergi! Pergi sana!" teriak Airy.


"Kamu udah gede masih teriak-teriak aja deh, emm nih ku sumpel pakai kaos kaki, " Raihan memungut kaos kaki yang sudah Airy pakai di samping kasurnya.


Peperangan kecil itu terjadi lagi, jika Raihan menyumpal mulut Airy menggunakan kaos kaki, Airy membekap hidung Raihan menggunakan tangan yang sudah di lap di keteknya. (kangen kakakku)

__ADS_1


__ADS_2