
Sehari sebelum pernikahan, ada kabar duka di pesantren. Entah mengapa bumi pun turut berduka, gerimis melanda pesantren. Kyai Besar telah di panggil oleh Sang Maha Kuasa setelah sholat subuh, seluruh santri dan pengawas di pesantren berduka atas meninggalnya Kyai Besar.
Karena orangtua Airy tdan Raihan tidak bisa datang, maka Kakung dan Uti nya lah yang datang ke pesantren Al-Ikhlas untuk berbela sungkawa. Mereka sampai pagi hari jam delapan, melihat Utinya datang, seharian Airy nempel terus dengan Leah.
"Uti, kasihan ya Ustad Zainal dan Ustad Adam, nggak ada kabar apapun, nggak ada sakit apapun, tiba-tiba Kyai besar meninggal, pasti shok banget, aku pun juga kaget loh Uti." kata Airy dengan menempelkan wajahnya di lengan Leah.
"Uti dan Kakung juga pernah di posisi mereka Airy, saat Uti menjadi pengantin baru, Papa Uti, buyutmu meninggal karena serangan jantung, sedangkan buyutmu dari Kakung, beliau juga tiba-tiba meninggal. Mereka yang meninggal secara mendadak itu, tergolong orang-orang baik," tutur Leah.
"Masya Allah, bagus dong kalau benar, kalau hanya dongeng Uti aku ora gumun (tidak heran)," jawab Airy.
__ADS_1
"Ey," kata Leah mencubit pipi Airy.
"Nyuwun pangapunten Uti hehe, jadi besok nikahanku dan Ustad Adam nggak ada kehadiran sosok orangtua dari pihak laku-laki dong Uti." Kata Airy.
Didepan Leah, Airy ini bersikap manja dan polos, berbeda dengan orangtuanya sendiri. Airy merasa Aminya terlalu tegas denganya, tetapi dari ketegasan Aisyah, Airy bisa belajar banyak hal yang tidak Airy dapat dari Uti nya.
"Doakan saja yang baik untuk Kyai ya. Karena, setelah kematian, atau meninggal, semua amal baiknya sudah terputus, kecuali tiga perkara. Kamu tau kan?" tanya Leah.
Adapun tiga pekara itu adalah, Shadaqah jariyah, yaitu sesuatu yang terus-menerus manfaatnya, seperti wakaf tanah, buku-buku, lembaga-lembaga pendidikan. Yang kedua adalah, ilmu yang bermanfaat, seperti mengajarkan sesuatu kepada orang lain atau murid, mengarang buku, dan lain sebagainya. Lalu, doa anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya, taat dan bermanfaat bagi orang tuanya, agama, dan negara.
__ADS_1
Semua peziarah juga datang dan pergi setiap saat, nampak kesedihan ada dalam diri Adam, ia duduk termenung di depan jenazah Abinya. Belum lama melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, memberikan luka dalam bagi hatinya sendiri.
"Yang ia inginkan adalah melihatmu menikah dengan Airy Dam, wujudkan itu apapun yang terjadi. Besok acara pernikahanmu, tadi Mas sudah bahas dengan Ustad Ruchan dan Nenek Airy, mereka hanya butuh ijab qobul saja sudah cukup. Yang penting sah dalam agama dan di mata negara," bisik Ustad Zainal.
Adam mengangguk.
"Terima kasih Abi, Abi sudah memperkenalkanku jodoh seperti Airy. Dia gadis yang perlu di perjuangkan, aku akan menjaganya, mencintainya, dan tidak akan pernah membuat dia tersakiti, seperti yang Abi mau. Insyaallah." Ucap Adam dalam hati.
Karena hari semaikin siang, dan jenazah sudah selesai sholatkan. Ini yang membuat hati para anak, dan para santri merasa hancur hatinya. Seorang Guru, Kyai dan tempat untuk memperdalam ilmu agama, kini telah kembali kepada sang Khalik.
__ADS_1
"Sekilas aku melihat air mata Ustad Adam, tapi kenapa aku yang sakit ya. Seperti nyesek gitu, nggak tau aku dengan rasa ini Ya Allah," kata Airy dalam hati.
Semua santri putra dan para Ustad ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhir Kyai besar di pemakaman keluarga milik pesantren. Sedangkan yang santri putri, sedang mempersiapkan, persiapan untuk tahlilan nanti malam.