Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 192


__ADS_3

"Nih, pesanan dari, Bu Calista." ucap Hasan, memberikan sepucuk kertas bertuliskan pesanan Airy.


"Nasi Padang? Dan jenang sagu? Hm, selera orang kaya memang lucu, ya." sahut Adam.


"Bu Calista itu cantik, ya. Berhijab, sholehah, profesional, ramah, lucu lagi. Kalau jadi suaminya, pasti sangat beruntung," kata Hasan mengelus tangan, Adnan.


"Tangi, turumu kemiringen! (Bangun, tidurmu kemiringan)" seru Adam, menerima kertas dari Hasan.


"Kenapa aku merasa nggak suka saat Hasan memuji, Bu Calista. Dan kenapa juga, aku merasa akrab, padahal aku baru mengenalnya dua hari ini." batinnya.


Adam kembali bekerja. Setelah itu, ia pun membeli pesanan dari Airy. Hatinya mulai gelisah ketika Hasan memujinya. Lamunan Adam terpecah karena ada telfon dari Lulu.


"Iya, Lu? Ada apa?" tanya Adam.


Jangan lupa, nanti pulang dari kantor, kamu harus chek up. Aku ada pengobatan khusus untukmu.


"Iya, nanti aku ke rumah sakit, " jawabnya.


Pengobatan khusus? Ya, khusus sekali. Dua jam yang lalu, Hafiz berhasil bertemu dengan Lulu. Hafiz juga menanyakan semua yang di benarkan oleh Dokter itu. Dari mulai kalung yang terukir kan bahasa Arab, dan juga kaos terakhir yang Adam pakai sebelum ia di temukan oleh Lulu.

__ADS_1


2 jam lalu,


"Kalung ini, sengaja saya sembunyikan. Karena, niat saya mau cari keluarganya melalui kalung ini. Tapi Anda tau, saya seorang Dokter yang sibuk, jadi belum ada waktu." ungkapnya.


"Kalung ini, sengaja ia ukir istrinya. Hari di mana ia jatuh ke laut, ia akan berangkat dua hari lagi ke Bali untuk perjalanan bisnis. Sebelum itu, dia ingin memberikan hadiah ini, di atas batu besar, yah malah....,"


"Jangan di teruskan, saya tau perasaan anda. Kalau boleh tau, siapa Airy? Dia sering mengiau namanya, tapi dia mengingatnya. Siapa, apa hubungannya, dan bagaimana hubungan si Airy itu dengan Adnan, bisa jelaskan?" tanya Lulu.


"Dia istrinya, dan kenapa inisial ini huruf 'A'. Nama aslinya Adam, tapi kalau kamu masih belum terbiasa, kamu bisa memanggilnya dengan sebutan Adnan." jelas Hafiz.


Masih banyak kisah yang Hafiz ceritakan kepada, Lulu. Tapi Lulu, tidak mengizinkan Hafiz maupun Airy mengungkap siapa dirinya sebenarnya. Karena jika tiba-tiba, Lulu takut itu akan berakibat buruk kepada Adam.


Hafiz memang sudah mempersiapkan semuanya, ia membawa kotak berisikan barang milik Adam dan Airy. Bahkan, di sana Hafiz juga mengirimkan foto, di mana Adam sedang melangsungkan aqiqah nya Rafa.


Sore itu,


"Tuan putri mau pulang bareng, nggak?" tanya Raihan.


"Bang, aing bawa motor sendiri. Itu motor juga milik, Doni. Kalau aku balik barengan Abang, gimana vespanya," kilahnya.

__ADS_1


"Ck, tapi hati-hati, ya. Jangan ngebut. Ini Jakarta, rame di jalan. Assalamu'alaikum!" Airy mencium tangan Raihan.


"Wa'alaikum salam. Kalau sepi mah kuburan, Bang. Hati-hati di jalan, ya. Salam buat Rafa, Mama pulang lambat, ada tugas negara." ucap Airy berteriak.


Segera Airy menuju ke parkiran, menunggu Adam keluar beberapa menit lagi. Ia tak sabar ingin membawanya pulang dan bertemu dengan Rafa.


"Itu, dia. Pura-pura main HP, ah!" gumamnya.


"Assalamu'alaikum. Ibu, belum pulang?" tanya Adam.


"Eh, iya. Tadi sih mau bareng sama, Pak Raihan. Tapi malah beliau, pulang duluan. Boleh minta tolong, nggak?" Airy memberanikan diri.


"Murahan banget, aku. Bodo amat lah, sama suami sendiri ini, 'kan? Tetap mahramnya, dong. Semoga aja dia suamiku." batin Airy.


"Tapi, saya harus ke rumah sakit dulu, Bu. Takutnya kehabisan waktu, jika mengantar Ibu punya duluan. Maaf sekali," tutur Adam.


"Nggak papa, kita ke rumah sakit dulu. Setelah ini, kamu anterin saya pulang. Oke?"


Karena merasa tidak enak, Adam pun mengiyakan keinginan Airy. Mereka pun berangkat ke rumah sakit. Kali ini, mereka hanya diam saja, Airy masih menahan diri karena sudah berjanji dengan Raihan, untuk tidak bertindak sesuka hatinya, lagi.

__ADS_1


__ADS_2