
"Ternyata, kalau lewat jalan ini, rumahmu dekat juga, ya." ujar Hafiz, yang saat itu mengantar Lulu pulang mengendarai motor.
"Kita berhenti dulu di sini, gimana kalau jajan wedang ronde dulu. Jarang-jarang loh ada penjual wedang ronde," ajaknya.
Mereka duduk manis di bawah pohon rindang, dengan memesan secangkir wedang ronde. Cuaca memang mendukung malam itu, Lulu merasa ada debaran-debaran yang ia rasakan ketika bersama dengan Hafiz.
"Terima kasih," ucap Hafiz.
"Untuk?" tanya Lulu.
"Kamu sudah merawat adikku dengan baik. Dan mengembalikan senyuman adik iparku, yang sebelum ini hilang." ucap Hafiz.
"Ah, itu sudah kewajibanku sebagai seorang, Dokter. Aku lihat, Mas ini perhatian sekali dengan Bu Calista. Aku jadi terharu melihat kasih sayang persaudaraan di antara kalian," kata Lulu dengan menggenggam erat ponselnya.
Hafiz pun menceritakan semua rasa yang ia miliki untuk, Airy. Lulu kaget mendengar pengakuan Hafiz itu.
__ADS_1
"Cinta itu tidak salah, yang salah itu adalah tempat, waktu dan kepada siapa kita mencintai. Aku pernah merasakan hal yang sama. Di posisi ini, pasti sangat sulit kita rasakan. Mencintai orang yang sudah memiliki pasangan, tentu bukan hal yang tabu." ucap Lulu.
"Perlahan, aku bisa melupakan semua itu, aku yakin jika kamu juga bisa melepaskan rasamu kepada, Airy. Karena kamu tidak mungkin juga merebutnya dari, Adam." imbuhnya.
"Ingin, aku ingin melupakan rasa ini. Tapi ini sangat sulit untukku, Lu." sahut Hafiz.
Cinta itu sulit untuk di lupakan, bahkan juga sulit untuk di lepas. Apalagi, cinta yang penempatannya salah. Tapi bagi Hafiz, melihat orang yang ia cintai bahagia, itu sudah cukup baginya.
Malamnya Airy dan Adam, setelah perpisahan. Kecanggungan di diri Adam masih ada, berbeda dengan Airy yang memang sejak awal sudah nempel terus seperti prangko.
"Dalem," jawab Adam dengan nada yang lembut.
"Waktu yang kita tunggu, akhirnya tiba juga. Aku bahagia, bisa berkumpul lagi denganmu, Mas." ucap Airy, sembari mencium tangan suaminya.
"Alhamdulillah, meskipun aku belum ingat semuanya. Tapi perasaanku ini tidak bisa berbohong, Airy." tutur Adam.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Sejak pertama pertemuan kita setelah perpisahan, aku jatuh cinta denganmu. Entah sejak kapan rasa itu muncul, aku juga tidak tahu. Tapi, sungguh aku sangat mencintaimu. Ketika Pak Hans datang, hati ini sangat sakit. Apalagi mendengar jika Pak Hans ingin mengajakmu menjalin hubungan. Aku takut sekali, jika harus kehilanganmu," tutur Adam dengan suara parau.
"Aku sangat mencintaimu, sangat, sangat. Aku harap, kamu mampu bersabar menunggu ingatanku pulih ya, Sayang?" lanjut Adam, seraya membelai pipi sangat istri.
Tak mampu menahan air matanya, Airy memeluk Adam dengan sangat erat. Tak ada keinginan untuknya mencintai lelaki lain kecuali Adam.
"Dengar, kamu nggak usah susah-susah untuk mengingat masa lalu lagi. Yang terpenting kita bisa berkumpul kembali. Aku nggak mau kamu teringat masa lalu yang tidak menyenangkan hatimu, terus membuatmu sakit lagi, Mas. Kamu tahu, jika kamu sakit aku juga merasakan sakit itu, Mas." jawab Airy
"Aku nggak bisa lihat kamu sakit lagi. Hanya ada kita bertiga sekarang, kita sambut masa depan dan memulainya dari awal. Oh, bukan bertiga, tapi berempat, masih ada Zahra. Aku sangat merindukannya, bisakah kita pulang setelah ini?" lanjut Airy.
Hati Airy sangat bijak, ia masih mengingat Zahra. Bagaimanapun juga, Airy lah yang merawat sejak bayi, dia juga yang membawanya pulang dari luar negri.
Malam itu? Apakah mereka akan mencetak dedek baru buat Rafa dan Zahra? secara yang kemarin nggak jadi😅
__ADS_1