Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 198


__ADS_3

Pagi hari, Adam sudah menunggunya di ruang tamu. Dengan kaos berwarna biru muda serta mengenakan jaket jeans navy. Adam Pagi sudah siap mengantar istri dan anaknya untuk menikmati weekend bersama. Ada rasa gugup yang ia rasakan, takut jika perasaanya semakin mendalam.


“Abi!” suara panggilan Rafa melunturkan kegugupannya. Dalam hatinya, suara Rafa seperti matahari yang bisa mencairkan beku di hatinya.


Rafa terlihat sangat senang, ia juga memamerkan mainan barunya yang baru Hafiz belikan untuknya kepada sang Abi. Malihat senyum lebar terukir di wajah Rafa, Airy tidak ingin menundanya lagi. Adam harus tau kenyataan bahwa dirinya adalah Adam, suami dari Airy dan Abi nya, Rafa.


“Assallamu’alaikum,” salam Airy.


“Wa’alaikum sallam, Bu Calista.” Jawab Adam.


Senyum Airy luntur ketika Adam memanggil namanya dengan nama Calista. Hal itu membuktikan, bahwa dirinya adalah bos nya, bukan istrinya. Airy sudah tak tahan lagi dengan keadaan itu.


“Sudah siap, ‘kan? Langsung saja, yuk.” Airy menuntun Rafa dan mereka pun pergi bersama.


Semua kata yang sudah ia siapkan dengan rapi, serasa hilang semua ketika ingin mengucapkannya. Dalam hati Airy, “Apakah ini belum saatnya? Tapi kapan ya Allah, aku sudah tidak tega lagi melihat Rafa berpisah dengan Abi nya.”


Seharian penuh, mereka bermain dan menghabiskan waktu bersama. Sampai tiba waktunya Airy ingin mengungkapkan kebenarannya, seseorang datang mengacaukan segalanya. Lelaki yang mungkin juga seusia Adam datang menyapanya.

__ADS_1


“Airy, ya? Cucu dari Pak Sandy Handika, bukan?” tanya lelaki itu.


“Benar, siapa anda?” tanya Airy kembali.


“Perkenalkan, nama saya Hans. Saya cucu temannya Opa Sandy. Opa kamu.” Ucap lelaki yang mengaku namanya Hans itu.


“Oh, senang bisa berkenalan dengan, Anda.” Ucap Airy santai.


“Bisakah, kita bicara berdua, saja? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan tentang binis di antara perusahaan kita,”


Airy menggeleng kepalanya dengan pelan. Memberi Adam kode, agar dirinya tidak pergi, dan tetap bersamanya. Tapi, kode itu tak di mengerti oleh Adam, kemudian Adam pun pergi membawa Rafa bersamanya.


“Maaf, bisa kita duduk di sana saja?” ajak Hans.


Sebenarnya Airy merasa tidak nyaman jika duduk berdua saja dengan lelaki asing. Meskipun di ibukota hal itu sudah lumrah, tapi Airy berbeda, ia menutup hati ketika dirinya sudah menjadi seorang istri.


“Ada masalah apa ya dengan bisnis di antara kedua perusahaan?” tanya Airy dengan wajah datar.

__ADS_1


“Ah, lebih baik kita santai sedikit. Dulu, kita sempat mau di jodohin waktu kecil oleh Opa Sandy, loh. Kamu ingat, nggak?” tanya Hans basi-basi.


“Enggak!” jawab Airy singkat.


“Kita juga pernah ke…”


“Sebelumnya mohon maaf, ya. Yang mau di jodohin itu bukan kita. Tapi Anda dan Naira. Cucu dari Opa Abang.  Dan saya, sekarang juga sudah menikah. Jadi, kalau bukan bahas bisnis, lebih baik kita tidak saling mengenal,”


“Ah iya, mengenai bisnis. Itu bukan dengan saya, melainkan Pak Raihan. Permisi. Assallamu’alaikum.”


Airy berlalu pergi, Hans menyukai sifat cuek yang di miliki Airy. Ia juga tertarik kepada Airy, bahkan ia juga tahu tentang musibah yang di alami oleh Airy, tentang hilangnya sang suami. Dengan tergesa-gesa, Airy menghampiri Adam dengan emosi. Sehingga ia lupa jika dirinya harus menyampaikan kebenaran kepada Adam dengan hati-hati.


“Kenapa tadi malah pergi! Bukannya aku sudah memberi tanda, agar kamu tidak meninggalkanku dengan lelaki lain?” kesal Airy.


“Bukannya tadi Pak Hans ingin bicara dengan, Bu Calista ya? Makanya saya menyingkir dulu.” Jawab Adam.


“Bu Calista, Calista, Calista terus. Sudah berapa kali aku katakan! Panggil aku Airy!”

__ADS_1


Airy hilang kendali, ia terus mengatakan hal yang seharusnya tiak boleh di katakana menggunakan emosi. Mungkin telinga Adam mampu mendengar kenyataan itu, namun ingatan dan otak Adam belum siap, bisa berakibat fatal. Hal itu sudah di peringatkan oleh Lulu, Raihan dan Hafiz sebelumnya.


__ADS_2