
"Lah, bukannya tadi gue beli kue putu? Jatuh di mana, ya?" gumam Laila.
Di kantor.
"Alhamdulillah, udah sampai kantor lagi. Ini kresek apa, ya?" ucap Raihan, membuka kresek itu.
"Lah, kapan aku beli kue putu? Kan kue putu ku yang ini. Ini punya siapa, dong?" gumam Raihan.
Ternyata, Raihan tidak sengaja mengambil kresek yang berisikan kue putu milik, Laila. Di kosan, Laila marah-marah karena kue putu nya hilang.
"Nih pastinya si cowok nyebelin tadi. Dia yang ambil kue putu gue, kurang asyem. aku akan cari dia, walaupun aku harus ngejar sampai lubang hidung kuda Nil!" kesal Laila.
Sudah sekitar 1 jam, Laila menunggu kedatangan Raihan di tempat yang sama ketika mereka bertabrakan sebelumnya. Hampir ingin putus asa karena Raihan juga tak kunjung datang. Untung saja waktu itu ada Airy yang menyapanya.
"Assalamu'alaikum, Laila. La, kamu ngapain di sini? Tempat ini kan jauh dari kosan kamu, ada keperluan apa, sih?" tanya Airy.
"Waalaikumsalam, lu disini juga? Tunggu... kulihat tadi lu keluar dari gedung itu. Lu kerja di sana? Itu kan....? Hah?" ucap Laila menganga.
__ADS_1
Kemudian, Laila tepuk tangan dengan kencang, "Gue baru ngeh, nama belakang lu Handika, 'kan? Lu cucu pemilik perusahan itu? Wuih, gue bakal jadi Sus nye anak orang tajir nih, mantap. Gaji gue nanti di banyakin, ya." imbuhnya.
"Nggak jelas banget, sih. Kamu ngapain kesini?" tanya Airy.
Laila pun menceritakan kejadian beberapa waktu lalu, ketika dirinya bertabrakan dengan seorang lelaki. Airy mendengar dengan seksama. Ia jadi kepikiran, sebelum itu dirinya juga diberi Raihan 1 porsi kue putu. Dan cerita antara Laila dan Raihan itu hampir mirip, bertabrakan, kehilangan putu di versi Laila dan tidak sengaja mengambil kue putu orang lain, versi Raihan.
Dari sini, Airy bisa menebak jika mereka berdualah yang menjadi peran utama dalam tabrakan yang direncanakan oleh Allah itu.
"Ini yang nambrak, kamu?" tanya Airy menunjukkan foto, Raihan.
"Bosku, Direktur di perusahan itu," jawab Airy.
"Pan itu perusahan punya, elu. Gimana sih, kok gue bingung, yak." ujar Laila.
Airy mengaku kalau yang mengelola perusahaannya memang, Raihan. Dan dirinya hanya bekerja menjadi anak buahnya. Ini semakin seru! Karena Airy memiliki rencana lain untuk mengerjai dua orang tersebut. Dia tidak akan mengatakan kepada Laila, jika Raihan adalah Abangnya. Sebaliknya juga, ia tidak akan mengatakan kepada Raihan jika Laila itu adalah sahabatnya.
"Haha, aku akan lihat pertunjukkan indah besok." batin Airy.
__ADS_1
"Kalau dia bos lu, ya udah deh. Gue nggak akan nuntut tuh kue putu. Ikhlas gue, kalau begitu, gue pulang dulu ya. Assalamu'alaikum!"
"Putu gue," Laila tertunduk lesuh, ia masih memikirkan kue putu itu.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati." jawab Airy.
Airy pun kembali ke kantor, karena dia keluar hanya ingin menunggu sang suami yang sedang membelikannya makanan. Ketika sampai di depan lobby, Hans pun datang yang dan buat ke hati Airy kesal.
"Siang, Bu Calista." sapa Hans.
"Siang juga, Pak Hans. Hm, mau ketemu Pak Raihan, ya? Beliau ada di ruangannya, permisi." jawab Airy sinis.
"Kenapa juga nih orang muncul mulu di kantor, bikin bete aja." gerutunya di dalam hati.
"Tunggu!" Hans menahan tangan Airy.
Ketika tangan Hans menyentuh tangan Airy, dari kejauhan Adam melihat semua itu. Ia merasa cemburu, tapi ia sadar saat ini mereka sedang berada di kantor. Tak sepantasnya urusan pribadi dibawa ke pekerjaan. Adam pun mengalah dengan masuk dari pintu samping dengan wajah kecewa.
__ADS_1