
Sementara di pesantren, Aminah tengah sibuk dengan Raditya yang menanyakan keadaannya. Sementara Falih, sedang membantu keluarga besar untuk menyambut kepulangan 3 bayi perempuan itu.
"Maaf, tapi Ibuku masih saja keras kepala. Dia tetap ingin kamu menikah dengan Mas Rasid," ucap Raditya.
"Sebenarnya, aku ingin menolak perjodohan itu dan pergi ke Singapura, Bang. Em, aku bingung mau ngomongnya bagaimana," kata Aminah sedikit gugup.
"Jadi, kamu mau ninggalin aku? Kamu mau berhenti?" tanya Raditya.
"Bukan seperti itu, Bang. Kita jalani saja seperti ini," jawab Aminah.
"Minah, hubungan kita ini sudah jarak jauh. Mau sejauh apa lagi? Jika kamu masih di Jogja, aku masih bisa mengunjungimu dalam dua kali seminggu. Tapi di Singapura?" protes Raditya.
Aminah sendiri juga bingung harus bagaimana. Menentang seorang ibu bukan jalan yang baik. Tapi menerima perjodohan dengan Rasid juga bukanlah jalan terbaik.
"Baiklah, masih ada waktu satu tahun. Kita gunakan waktu kita sebaik mungkin agar bisa mendapat restu dari Ibumu, Bang!" seru Aminah.
"InsayAllah dan Bismillahirrahmanirrahim, semoga jodoh ada di takdir kita," ucap Raditya.
Mereka pun mengganti topiknya dengan membahas kelahiran 3 bayi perempuan itu. Raditya berencana akan datang ketika nanti acara pemberian nama dan menemui Aminah nanti.
_-_-_
Di rumah sakit, Yusuf menjenguk Laila terlebih dahulu. Masih dalam jam besuk, jadi banyak sekali orang di rumah sakit itu. Melihat Raihan yang sedang menimang-nimang anaknya, Yusuf menjadi bahagia melihatnya. Sudah lama ia tak melihat senyum yang begitu ceria di bibir Kakaknya.
"Assallamu'alaikum," salam Yusuf.
"Wa'alaikumsallam, eh ada Lek Ucup sama Lek Dandan, sini masuk!" jawab Raihan mempersilahkan mereka masuk.
Sebelum ke rumah sakit, Yusuf dan Hamdan membeli makanan dan beberapa kebutuhan lainnya untuk kedua kakaknya yang baru saja melahirkan. Yusuf dan Hamdan tahu betul apa yang diperlukan pascabayar melahirkan, semua ilmu itu ia dapat dari internet.
"Wah, bawa apa itu?" tanya Raihan.
"Jajan, sih. Ini buat Bang Raihan sama Kak Laila, yang ini nanti buat Kak Airy dan Mas Adam. Makan gih selagi anget, biar baby nya kita yang urus," ucap Yusuf.
Selagi Raihan dan Laila makan, Yusuf dan Hamdan bergantian menggendong bayi kecil itu. Mereka melihat-lihat seluruh wajah bayi itu, kemudian mengatakan orang tuanya. Kembali melihat bayi, lalu melihat ke arah Raihan dan Laila lagi.
"Apakah, kita memikirkan hal yang sama?" tanya Hamdan.
__ADS_1
"Kenapa matanya sipit, ya? Di keluarga kita yang sipit hanya kamu dan Kak Gu saja, deh?" heran Yusuf.
"Hooh, dan sekilas nih anak mengingatkan aku dengan Kak Gu, bener nggak?" Hamdan kembali melihat dengan seksama bayi perempuan berambut lebat itu.
Setelah puas melihat bayi Raihan dan Laila, kini mereka ke kamar sebelah. Di mana Airy dan bayi kembarnya istirahat. Terlihat Airy sedang bermain game, bayi kembarnya sedang tidur dan Adam sedang membaca sebuah kitab.
"Assalamu'alaikum, bayi kembarku...." salam Yusuf langsung mencubit pipi Airy.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Yusuf!"
"Aw! Sakit, tau! Galak banget, sih?" jerit lirih Yusuf karena tangannya digigit oleh Airy.
"Jangan sentuh pipi, Kakak. Nggak tau apa? Pipi Kakak ini capek buat ngejan, jangan dicubit, dong!" kesal Airy.
"Huh, nggak jadi lucu kalau gitu. Ulu-ulu, sini bayi kembarku," ucap Yusuf menjadi manja melihat keponakan kembarnya.
"Mas Adam, kenapa dengan istrimu? Sepertinya tanduknya muncul dua kali lipat dari sebelumnya. Dia semakin galak saja," bisik Hamdan dengan melirik ke arah Airy.
Kembali heran melihat mata sipit bayi kembar Airy. Karena mata keluarga pesantren tidak se sipit itu. Sekilas, menurut Yusuf dan Hamdan, ketiga bayi iyu sangat mirip denhan Gu.
Ketika Yusuf dan Hamdan sibuk dengan bayi kembar, Adam dan Raihan keluar dan duduk di kursi penunggu. Mereka juga mengatakan jika apa yang dikatakan Yusuf itu benar, bayinya mirip dengan Gu.
"Assallamu'alaikum," salam Raihan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Adam.
"Apakah, Ustad memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Raihan.
"Aku sungguh tercengang," jawab Adam.
"Bukan hanya itu, serasa ingatanku ingin lepas dan sudah tak ingin bekerja di kepalaku. Apakah aku harus memecatnya?" racau Raihan.
"MasyaAllah, jangan lupa beri pesangon, kasihan anak istrinya," usul Adam semakin tidak jelas.
"Oke." tukas Raihan.
__ADS_1
Kembali mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Ternyata, mereka mengumpat kepada Gu, karena bayinya mirip dengannya.
"Kata temenku, anak perempuan itu akan mirip dengan Ayahnya. Kenapa ini, malah mirip dengan pamannya?" gerutu Raihan. "Mana garisnya juga jauh pula, imbuhnya.
"Namanya juga bayi, pasti wajahnya akan berubah-ubah sampai umur tiga bulan, kita bersabar saja dulu," jelas Adam. "Ayo kita sholat ashar, biarkan Yusuf dan Hamdan menemani mereka." ajaknya.
Sedang senang-senangnya memiliki bayi, ujian kembali masuk di rumah tangga keduanya. Bayi Airy semuanya memiliki tanda lahir di bagian lengannya, dan berwarna merah. Ketika Adam dan Raihan ke mushola, Hamdan menjaga Laila dan Yusuf menjaga Airy.
Sampai datang salah satu suster jahat yang selalu memperjual belikan bayi baru lahir di rumah sakit tempat ia menyamar. Dengan dalih ingin memandikan sang bayi, suster itu mengambil salah satu bayi Airy dan langsung lari begitu saja.
Yusuf yang sadar jika tidak ada yang beres, ia langsung mengejar suster palsu itu dan berteriak memanggil Hamdan.
"Ada apa?" tanya Hamdan.
"Suster itu, mengambil bayi Kak Airy. Ayo kita kejar!"
Airy masih tenang saja, ia tidak akan panik karena takut akan mempengaruhi emosinya, dan mengabaikan bayi yang satunya. Laila dengan mendekap bayinya, datang ke ruangan Airy dan berusaha menghiburnya.
"Airy, kamu …?" lirih Laila.
"Kenapa harus anakku? Kenapa harus makhluk kecil yang tidak berdaya yang ia ambil. Dia perempuan juga, apakah dia tak memiliki hati nurani?" tanya Airy menahan air matanya.
"Kita serahkan semuanya kepada Allah, dan percayakan kepada adik kita, semoga saja mereka berhasil merebut bayi itu kembali." harap Laila.
Beruntung, takdir masih berpihak kepada Airy. Suster yang membawa bayinya itu menabrak Adam. Sadar jika itu bayinya, karena waktu itu lengan si bayi terlihat, Adam langsung menahannya. Terdengar Yusuf berteriak untuk menangkap suster itu, Raihan menjadi panik dan langsung merebut bayi itu.
"Ini, ini anaknya Airy. Kamu mau bawa dia kemana?" Raihan menyulut.
Suster itu hanya diam saja, tanpa terlihat ketakutan. Hanya menghela nafas dan berusaha menutupi wajahnya. Pihak keamanan membawanya ke posnya bersama dengan Hamdan dan Raihan. Sementara Adam dan Yusuf kembali ke ruang Airy.
"Tolong, kamu pinjamkan sajadah di mushola ya. Mas tak sholat di ruangan saja. Takut hal seperti ini terjadi lagi, pasti Kakakmu juga sedang tidak baik-baik saja sekarang," pinta Adam.
"Iya, Mas. Lebih baik segara bawa bayi ini ke Kak Airy. Aku takut jika Kak Airy kenapa-kenapa," usul Yusuf.
"Assallamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
__ADS_1
Adam membawa bayinya kembali, terlihat Airy hanya menunduk dan memeluk bayi yang satunya dengan erat. Terlihat tangan Airy bergetar hebat. Dengan lembut, Adam mengucapkan salam dan menggenggam tangan Airy.