
"Mungkin sang fajar, dan sayap burung-burung patah. Baru pertama mencinta... sudah patah hati... Itulah... jiwa ini...." Aminah bersenandung dengan nada ngalor ngidul tak jelas sambil rebahan ria.
"Cek di Internet, bagaimana cara kakak orang yang disukai tidak menyukaimu... terus, terus apa ya? Hah, malah koyo wong gendeng aku ki," racau Aminah dengan kaki di letakkan di dinding, dan lebih tinggi dari kepala.
Balqis terus tertawa melihat tingkah anaknya yang tak jelas itu. Sesekali memotretnya, agar bisa dijadikan lelucon disaat Aminah marah padanya nanti. Bukan hanya memotret, Balqis juga merekam aksi dari Aminah yang terus saja menggibas-gibaskan jilbabnya ke kanan ke kiri.
Tok.. tok.. tok..
Pintu di ketuk oleh Balqis, suara langkahnya juga sudah didengar oleh Aminah sejak tadi. Jadi, Aminah tidak kaget ketika Mama-nya datang ke kamarnya.
"Udah ngrekam nya?" kesal Aminah.
"Kamu tau?" tanya Balqis.
"Hm, Mama ini kan Mamaku. Ya aku tau, lah!" jawab Aminah. "Sepertinya aku harus pindah sekolah deh seperti Yusuf…." lanjutnya.
"Nggak usah ngada-ngada. Memangnya kalau pindah sekolah bakal menyelesaikan masalah? Kan kamu orang yang kamu perjuangkan bukan dari sekolah yang sama," ucap Balqis sembari menata buku novel aminah yang berserakan.
"Haih, aku baru sadar. Gini amat jatuh cinta, benar kata Mayshita, cowok itu hanya akan membuat hari-hari kita semakin rumit," lenguh Aminah menghela nafas panjang.
Balqis menasehati Aminah untuk tidak larut dalam hal percintaan. Itu hanya akan membuat pendidikannya terganggu. Perjodohan itu, Balqis juga tak pernah menyetujuinya, itu semua dilakukan karena keinginan dari keluarga Zulaikha, almarhum sang Umi.
"Bagaimana kalau kamu keluar, cari udara segar. Jangan begini terus di kamar, Minah...." usul Balqis membelai rambut Aminah yang terurai.
"Hm, setuju. Aku akan jajan saja kalau gitu. Ide yang bagus, Ma. Aku pamit, assalamu'alaikum!" jika sudah mendengar hal makanan, Aminah memang tak bisa mengontrol dirinya. Baik sedang sedih maupun bahagia, isi perut nomor satu baginya.
-_-_-_-
__ADS_1
Setelah bersih-bersih dan mengisi perut, Yusuf bergegas ke rumah Airy. Ia berjalan ke rumah kakaknya, karena memang jaraknya dekat. Di depan gapura, Yusuf melihat Aminah yang sedang termenung duduk di depan gapura. Yusuf menghampirinya....
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf duduk di samping Aminah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aminah lesu.
"Kenapa manyun? Mana melamun lagi? Tambah jelek tau!" Yusuf menyentil hidung Aminah.
"Kamu pernah jatuh cinta nggak sih, Suf? Terus, bagaimana cara menyikapinya?" tanya Aminah.
"Jatuh cinta sih belum pernah. Tapi mengaggumi lawan jenis pernah. Kenapa? Masalah Mas Raditya?" begitu mudah Yusuf menebaknya.
Aminah mengangguk, ia mulai menceritakan semuanya kepada Yusuf. Menurut Yusuf, ada hal yang disembunyikan oleh Ibunya Raditya. Yusuf juga menduga jika ada tujuan dibalik dari perjodohan itu.
"Kenapa kamu bisa mikir gitu? Su'udzon kamu... nggak baik tau!" seru Aminah.
"Apa bedanya kamu dijodohkan dengan Mas Rasid dan Mas Raditya? Mereka sama-sama dari keluarga Ibunya, 'kan? Dan kenapa yang dijodohin itu kamu, bukan dari anaknya Pakde kamu gitu? Siapa, Pakde Solikin atau keluarga yang lain, kenapa harus kamu?" lanjutnya.
"Ada bedanya Ucup, yang ganteng, yang baik hati.. Kan Mas Rasid itu kakaknya, terus Bang Dit kan adiknya, mereka juga beda ayah tak sesuai dengan perjodohan. Karena yang harus di jodohkan atau yang harus menikah dengan keluarganya, anak pertama dari putri pesantren kakekku, yaitu putri dari Zulaikha, almarhumah Umiku...." jelas Aminah mbulet.
"Ah, wes, lah! Mbulet ra nggenah, aku malah melu mumet, Min. Angel, intine podo-podo di jodohne karo anakke, kok. Ndadak ruwet koyo bolah!" seru Yusuf mengetuk kening Aminah.
(Ah, dah, lah! Mbulet nggak jelas, aku malah ikutan pusing, Min. Susah, intinya sama-sama di jodohkan dengan anaknya, kok. Harus rumit seperti benang)
Yusuf mengajak Aminah ke rumah Airy. Siapa tahu,
melihat Ayanna dan Anthea, mood Aminah kembali bagus. Karena bayi lebar itu sekarang sedang lucu-lucunya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Airy, Yusuf langsung mengobrol panjang kali lebar bersama Adam di garasi. Awalnya Adam menawarkan motor gede untuknya, namun Yusuf tetap akan memilih matic sebagai alat transportasi ke sekolahnya.
"Kenapa? Bukannya malah enak pakai motor beginian, irit di bahan bakarnya?" tanya Adam.
"Enggak ah, yang ada nanti pada pengen bonceng, haha. Aku pilih yang ini saja, simple," jawab Yusuf.
"MasyaAllah, kamu itu ya. Sederhana, tapi siapa tau kalau isi kartu mu uangnya banyak...." goda Adam.
"Hm, mana ada. Semua itu hanya titipan, ayo ah kita masuk dulu," jawab Yusuf malu-malu.
Di rumah Raditya, ia sangat kesal kepada Ibunya yang ingin buru-buru menikahkan Rasid dengan Aminah. Sudah berulang kali jika dirinya menyukai Aminah, setidaknya jika Raditya tak bersama Aminah, ia berharap Kakaknya pun mengerti untuk tidak menikahi Aminah.
"Orang yang paham agama tidak mungkin mengungkapkan perasaan cintanya kepada lawan jenis, Adit!" seru Ibunya.
"Ibu yang baik, setidaknya jangan pernah membandingkan anaknya dengan anaknya yang lain. Apalagi, anaknya itu dilahirkan dari rahim yang sama," Raditya tak mau kalah.
"Raditya!"
"Untuk apa kamu belajar ke pesantren sekian lama, dan jauh ke Jerman kalau kepada Ibumu saja tidak hormat!" sulut Rasid.
"Lalu, bagaimana denganmu? Mas Rasid juga sekolah di sekolah favorit, kuliah diluar negri sampai s2. Begini kah cara mengajari adikmu bersikap kepada Ibu dan dirimu?" Raditya tak terkontrol lagi.
"Kamu memang sama seperti Ayahmu! Pergi dari rumah ini!" Ibunya Raditya mengatakan itu dengan menangis.
"Hah!" teriak Raditya.
"Ibu mengusirku? Ini rumah aku yang membelikan untuk Ibu, aku yang selama ini mengalah tak pernah mendapatkan kasih sayangmu sejak kecil, Bu. Dan sekarang... Ibu mengusirku dari rumahku sendiri? Bu... aku benar-benar merasa jika diriku ini anak tiri! Kenapa Ibu melakukan ini padaku, jika Ibu tak menginginkanku, kenapa Ibu melahirkanku!" Raditya sudah tak terkendali lagi, emosinya meluap ketika Ibunya hendak mengusirnya.
__ADS_1
Sebak, sakit dan luka itu bak kembali di siram menggunakan air garam dan air cuka. Ibunya langsung lemas di sofa, melihat itu, Rasid pun menarik Raditya ke teras, kemudian memukulnya.