Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 365


__ADS_3

"Yuma? Nama perempuan? Hahaha ketulah, 'kan? Kemarin saja pas aku duduk dengan Cindy, kamu ngetawain aku. Awas hati-hati, nanti jatuh cinta, haha...." ledek Yusuf.


"Durjana!" seru Falih.


"Eh serius, tapi dia cantik, loh. Hahaha, awas aja kalau pacaran, aku dan Hamdan langsung terbang ke Jepang nyunat kamu lagi," Yusuf tak henti-hentinya menggoda Falih.


"Sudah dulu, sekolah di sini berbeda. Masa sekolahnya sampai malam, sih? Mana sekolahnya horor banget lagi, haih. Assalamu'alaikum!" salam Falih menutup telponnya.


Setelah menelpon, Falih kembali ke kelasnya. Ia harus menyalin beberapa materi untuk dipelajari di rumah. Sementara itu, ketika Yusuf pulang sekolah, ia dihadang oleh Cindy yang hari itu tidak masuk sekolah lagi. Bukan hanya sekedar malu, Cindy juga merasa tak enak hati kepada Yusuf yang sudah membantunya, tapi tak membalas budinya.


"Apaan, sih? Tenang saja, aku bisa memaklumi itu. Kalau begitu, aku akan pulang dulu, ya. Aku masih ada janji dengan Kakakku," ucap Yusuf.


"Tunggu, aku besok senin sudah mulai masuk sekolah lagi. ulangan tengah semester , 'kan? Aku hanya...." lenguh Cindy dengan menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


"Kenapa? Masih memikirkan saat basket itu?" tanya Yusuf.


Cindy mengangguk. Kemudian, Yusuf mengatakan jika semua siswa sudah melupakan kejadian itu. Lalu Cindy bisa mengikuti ulangan tengah semester dengan nyaman dan tenang.


"Yusuf...."


"Hm?"


"Aku suka kepadamu, dan aku mencintaimu!" batin Cindy.


"Ada apa?" tanya Yusuf.


"Ah, tidak. Kamu pulang aja dulu, terima kasih sudah membantuku. Aku menghargai itu, dadah... sampai bertemu besok senin," ucap Cindy dengan melambaikan tangannya.


Meski tahu ada hal yang aneh dengan cindy, tapi Yusuf tidak ingin tahu apa itu. Baginya, berteman tetaplah selayaknya berteman saja. Yusuf juga tidak ingin mencampuri urusan Cindy terlalu dalam.


Mendengar kata pepatah 'witing tresno jalaran soko kulino', Yusuf tidak ingin itu terjadi, makanya ia selalu menjaga perasaan dan sikapnya dengan lawan jenis siapapun.


_-_-_


Waktu berjalan sangat cepat. Hari minggu saja terasa sangat singkat, dan hari senin juga datang dengan tergesa-gesa. Ujian tengah semester dilakukan untuk kelas 3 senin itu. Yusuf dan Hamdan puasa, mereka selalu berikhtiar dengan menjalankan puasa sunah.


Beberapa menit sebelum Ujian tengah semester di mulai. Seluruh siswa terlihat sibuk membaca, menghafal buku pelajarannya.

__ADS_1


"Kamu mau permen, Suf?" tanya Cindy.


"Tidak terima kasih, hari ini… insyaAllah aku puasa," tolak Yusuf dengan sopan.


"Oh, maaf. Kalau boleh tau, kamu puasa sampai hari apa?" tanya Cindy penasaran.


"InsyaAllah empat hari. Senin sampai kamis. Kenapa?" jawab Yusuf dan kembali bertanya.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin mentraktirmu makan saja. Tentu mengajak Fatur atau Jihan, aku tahu kau tidak mau makan berduaan saja denganku," kata Cindy.


Sebelum masuk ke kelas, beberapa siswi yang melintas di depan mereka menatapnya. Cindy tahu, pasti mereka menatap dirinya, tentang insiden noda darah waktu itu.


"Cindy, kamu tidak masuk sekolah beberapa hari. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Tyas dengan beberapa temannya.


"Tyas, apa kabar? aku juga ada acara, makanya aku tidak masuk sekolah kemarin," jawab cindy.


"Oh, aku kira karena waktu itu. Kami sudah melupakan masalah itu kok. Berterima kasihlah kepada Yusuf, dia yang telah berjasa membungkam semuanya," ucap Tyas tersenyum genit kepada Yusuf.


Sayangnya, belum sampai mendengar tentang bagaimana Yusuf menangani rumor itu, bel masuk berbunyi. seluruh siwa berbaris di depan kelas dan mulai berdoa. Setelah itu, baru mereka masuk ke kelas dan duduk di tempat yang sudah disediakan sesuai absen.


Semenjak saat itu, perasaan Cindy terhadap Yusuf semakin besar. Ia sampai melupakan jika dinding besar menghalangi cintanya. Yakni, keyakinan. Cindy semakin haus dengan cintanya itu.


"Ada apa kamu memanggilku ke sini?" tanya Fatur.


"Aku membawakanmu makanan. Tidak mungkin kita makan di depan Yusuf," jawab Cindy dengan arah pandangannya ke sana ke sini.


"Yakin cuma mau ngajak makan bareng? Pasti ada hal lain, bukan?" desak Fatur.


"Em, enggak ada. Aku cuma mau ngajak kamu makan siang bareng aja, suer…," ucap Cindy dengan mengangkat tangannya.


"Tapi, entah mengapa, diriku ini tidak bisa mempercayaimu, Sobat. Ada apakah gerangan?" Fatur terus mendesak agar Cindy mau mengungkapkan uneg-unegnya.


Sejenak, Cindy terdiam. Lalu, menghela nafas panjang, dan menyandarkan dirinya di bangku. Sementara Fatur sudah sibuk dengan makanan yang dibelikan oleh Cindy.


"Cepat katakan!" bentak Fatur seraya menyembur makannya.


"Hish, Fatur! Tunggu, dong. Aku bingung mau cerita mulai dari mananya," kesal Cindy.

__ADS_1


"Ya intinya saja," ujar Fatur. "Cepat, atau aku akan pergi sekarang?" imbuhnya.


"Aku suka dengan. Yusuf!" seru Cindy.


"Sama, aku juga berteman dengan Yusuf. Dia baik banget, soleh juga. Dampak baiklah buatku," lanjut Fatur, kali ini minum es teh plastiknya sampai habis.


"Bukan suka itu maksud aku. Aku tuh jatuh cinta dengan Yusuf. Peka nggak, sih, kamu tuh?" kesal Cindy.


Ungkapan itu membuat Fatur tersedak sampai wajahnya memerah. Tentu saja ia kaget mendengarnya. Bukan Fatur saja, Candra yang sedang menguping pun juga terkejut mendengar pengakuan yang seharusnya tidak ia dengar.


"Tunggu, tunggu. Kamu cinta sama Yusuf? Sejak kapan?" tanya Fatur masih tidak percaya.


"Sejak pertama aku bertemu dengannya. Ditambah lagi kita sebangku, tiap hari memandangnya. Lalu, perlakuannya kepadaku yang sangat istimewa juga, ah... aku harus bagaimana, Fat?" ungkap Cindy.


Candra pergi dengan mata yang berapi-api. Ia hendak menemui Yusuf dan mengajarnya. Tapi, scene ini kita tahan dulu. Fatur masih butuh penjelasan kepada Cindy tentang cintanya itu.


"Sumpah, kamu cari penyakit saja. Kalian berbeda, kenapa juga kamu jatuh cinta padanya, Cindy...." tanya Fatur geregetan.


"Memang kenapa kalau berbeda? Cinta juga tidak pernah salah Fatur. Aku juga tidak tahu kenapa aku mencintainya," kata Cindy mulai menangis.


"Dia pernah bilang kepadaku. Dia hanya akan menikah dengan perempuan yang seiman. Terus, dia juga tidak akan pacaran. Lebih baik, kamu jangan teruskan cinta konyol-mu itu, Cin," saran Fatur.


Cindy terdiam. Sungguh berat baginya untuk mengubur perasaannya. Karena semakin lama, perasaan itu sekian besar, jika terus dipendam, ia akan merasa tersakiti ketika melihat dan bertemu dengan Yusuf.


"Apa... seharusnya aku harus jadi mualaf? Supaya Yusuf mau melirikku?" tanya Cindy dengan tatapan kosong.


"Wah edan! Gila kamu, Cin. Aku dan Yusuf akan senang jika melihatmu menjadi mualaf, welcome baby. Tapi, Yusuf akan lebih suka wanita mualaf karena Tuhan, Allah. Bukan karena mengejar umatNya. Lebih baik, kamu segera pulang dan berpikir lagi, deh. Aku pergi dulu, takut lama-lama dekat dirimu,"


Fatur langsung lari terbirit-birit. Cindy semakin down, ia salah paham dengan yang diucapkan Fatur tentang Yusuf. Ia pun menangis dan memukul dinding sampai tangannya berdarah. Apakah akan ada kisah cinta diantara mereka? Lalu, apa yang akan dilakukan Candra? Berkelahi? Tentu, namanya juga laki.


Assalamu'alaikum....


Info ya kaka.


Kisah ini berakhir, akhir Desember jadi jangan bosen dulu hahaha maksa. Setelah itu, mau lanjut Jodoh Yara dulu.


Karena jujur, Author masih harus stok bab, biar s2 nya up banyak. Dan Jodoh Yara harus jalan. Nanti kalau udah siap terbit S2 nya... tak infoin lagi. Mohon dukungannya ya. Jangan lupa mampir di 'JODOH YARA'. banyak konflik dan insyaAllah mau bahas tentang keturunan Habib yang harus menikah dengan Syarifah juga. Jadi, author masih perlu bimbingan dari kakak-kakakku ini. Terima Kasih

__ADS_1


Wassalamu'alaikum.


__ADS_2