
"Mau kemana kita?" tanya Aminah masih ketus.
"Aku dan Nadia...."
"Heleh, mau pamer kalau mereka balikan? Huh, aku juga bisa pamer pasangan, tinggal aku hubungi temanku saja yang ada di sekolah ini," batin Aminah.
"Aminah, denger nggak, sih?" tanya Raditya memecah haluan negatif Aminah.
"Iya aku denger, kok. Bang Dit sama Nadia kenapa? Mau jadi bapak sambungnya? Sok sono nggak papa, aku juga akan ke Singapura kok setelah lulus, kita nggak akan ketemu lagi," kata Aminah sok tau.
"Jangan lupa undangannya, aku pasti datang kok dinikahan kalian nanti. Sekarang aku mau pulang dulu, Assalamu'alaikum!" Aminah sudah terlanjur kesal tingkat tinggi, setelah membuka pintu mobil, ia langsung mendapat taksi yang sudah dipesan oleh gurunya.
"Bu-bu-bukan begitu, Aminah... Aminah tunggu!" teriak Raditya. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, salah paham lagi,"
"Min! Wah, itu anak kalau usil suka keterlaluan!" seru guru yang pesan taksi itu.
Meski hatinya sedang kesal, Aminah juga heran kenapa dirinya tidak bisa menangis. Yang di rasakan bukan rasa sakit hati yang bisa membuatnya menangis, lebih dominan ke emosi sesaat saja. Taksinya melewati Mayshita yang sedang berjalan, Aminah meminta sang supir untuk berhenti dan menyuruh Mayshita untuk naik bersama dengannya.
"Kenapa… jadi naik taksi? Bukankah…"
"Diam! Aku sedang kesal, jadi lebih baik kamu diam!" sela Aminah memotong pertanyaan Mayshita.
"Itu kenapa kalau kamu bermain hati dengan lelaki. Aku sudah sering bilang ke kamu. Boleh kita mencintai seorang lelaki, tapi ada baiknya mencintai dalam ukuran yang wajar. Kalau kecewa seperti ini.. siapa yang rugi? Kamu sendiri, 'kan?" tutur Mayshita.
"Kamu belum pernah merasakan saja, jadi bisa ngomong seperti itu," ketus Aminah.
"Kamu tidak tahu, Aminah. Kalau aku juga sedang mencintai seseorang dalam diam. Dan itu tidak mungkin aku dapatkan sampai kapanpun." batin Mayshita.
Sesampainya di rumah, Aminah langsung membicarakan dirinya yang menyetujui untuk kuliah di Singapura, bertukar tempat dengan Sarah setelah lulus sekolah. Tentu saja Syakir dan Balqis terkejut, karena sebelumnya Aminah ngotot tidak akan pergi ke luar negri setelah lulus nanti.
"Kenapa tiba-tiba kamu setuju?" tanya Syakir.
__ADS_1
"Abi, aku lelah dengan hidupku di sini. Jadi, aku ingin suasana baru. Boleh, 'kan?" jawab Aminah dengan wajah yang masih di tekuk.
"Soal Raditya pasti. Dasar anak muda!" tebak Syakir.
"Hish, Abi sok tau ih. Siapa juga yang mikirin dia, dia itu udah ada yang punya sekarang. Jadi, jangan sebut namanya lagi. Aku mau tidur, jangan ganggu aku, oke? Assallamu'alaikum…." Aminah masuk ke kamarnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, kenapa dia aneh ya, Ma?" Syakir sang ayah yang pengertian saja langsung menebak.
Aminah memang sangat plin-plan. Isi hati dan pikirannya mudah sekali ditebak oleh orang lain. Sebenarnya, dia apa adanya, tapi karena memang sangat dimanja oleh orang tuanya, jadi sering terlihat kekanak-kanakan.
Beralih ke Yusuf yang masih saja di cemburui oleh Cindy. Bahkan sampai makan pun Yusuf mau disuapi oleh Mawar. Terlihat sangat mesra jika di mata Cindy, Jihan dan juga Fatur. Mawar juga terlihat manja dengan Yusuf, memang sekian dari kakak-kakaknya, Mawar lebih menyukai Yusuf karena Yusuf lah yang paling bisa berpikir secara dewasa.
"Berapa usiamu sekarang? sudah tak sepantasnya jika kita sedekat ini," ucap Yusuf.
"Huft, kenapa juga kita tumbuh besar secepat ini. Dah lah, makan sendiri!" seru Mawar meletakkan sendoknya.
"Hih, kenapa juga mereka mesra sekali, sih?" batin Cindy.
"Oh, jadi dia adiknya Falih. Adiknya dari Jepang, pantas saja cantik," Fatur mulai lagi.
"Tapi aku Jawa tulen, hanya kebetulan lahir dan besar di sana," jelas Mawar.
"Biasanya gitu. Kata orang tua jalan dulu, kalau kita tinggal di tempat baru dari yang lama, maka kita akan terlihat seperti orang dalam kota tersebut," Fatur mulai mendongeng.
"Kenapa begitu?" tanya Mawar.
"Iya, kenapa bisa begitu?" sahut Cindy.
"Apa ya? Katanya sih karena kita udah makan dan minum dari tanah kota itu. Jadi, otomatis kita terlihat seperti orang pribumi dari kota itu," lanjut Fatur.
Semuanya mengangguk, percaya dengan apa yang Fatur katakan. Sementara itu, Gua dan beberapa pelayanannya membawakan beberapa hidangan dan camilan untuk Yusuf dan teman-temannya.
__ADS_1
"Dimana Kakakmu?" tanya Gu.
"Oh, Oppa. Apa kabar? Kakakku sedang ke sekolahan, katanya rindu sekolah lamanya," jawab Mawar.
"Seien Sie vorsichtig mit dem Mädchen vor Ihnen. Er mag deinen Bruder sehr, also mach ihn nicht eifersüchtig." kata Gu kepada Mawar.
"Aku juga biasa bahasa itu, sagen Sie mir nicht so, ich habe nichts mit ihm zu tun!" seru Yusuf.
"Sorry, ayo semuanya dimakan. Rajin-rajin belajarnya ya, siapa bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku tinggal dulu," Gu meninggalkan meja kerja mereka.
Teman-temannya bengong mendengar bahasa yang Yusuf gunakan. Gu sengaja mengatakan itu menggunakan biasa asing, karena pasti ketiga teman Yusuf bisa berbahasa Inggris.
"Ka-kalian, tadi ngomong apa? Terus, itu bahasa mana?" tanya Jihan.
"Bahasa Jerman, tidak penting, kok. Kita lanjutkan belajar kita," jawab Yusuf berusaha membungkam Mawar.
"Serius, kalian kenapa pada pinter-pinter banget, sih? Aku heran deh dengan kalian?" tanya Fatur.
"Halah, kita juga punya batasan dalam berpikir. Kebetulan aja kali," jawab Yusuf.
Bahwa Jerman di atas, Gu mengatakan kepada Mawar jika Cindy menyukai Yusuf, dan menyuruhnya untuk tidak melekat kepada Yusuf takut Cindy cemburu. Lalu Yusuf menjawab, jika tidak ada hubungan yang seperti itu.
Karena selalu dibandingkan, Yusuf juga semakin menjauhi Cindy lagi. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin terjebak friendzone sebelum harapannya dapat diraih.
Tidak lama setelah itu, datanglah Falih dan Hamdan di restoran itu, suasana menjadi semakin ramai karena trio lestari kita sudah berkumpul. Rencana keluar negri juga sudah ada dalam benak mereka, pendidikan sangat penting untuk masa depan. Jika masih diberi kesehatan dan kesempatan, untuk apa berhenti mengenyam pendidikan.
Yusuf, tetap akan berangkat ke Korea bersama dengan Hamdan nantinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan biaya pendidikan yang sudah Rifky dan Aisyah siapkan di sana. Namun, ia juga masih harus melewati hati kerasnya Airy yang tidak memperbolehkan dirinya berangkat ke luar negri. Akankah Yusuf mendapat izin?
Sementara kegalauan Aminah juga semakin hari di rasakan karena Airy menerima Nadia tinggal di pesantren menempati rumah lama Syakir yang dulu sekali yang pernah di singgahi bersama dengan Zulaikha. Ia bersama anaknya di rawat baik oleh keluarga pesantren, sampai masalahnya bersama dengan suaminya selesai.
Hal itu tentu membuat Aminah semakin kesal, karena sewaktu-waktu, Nadia bisa merebut hati Raditya kembali. Padahal, Aminah hanya salah paham saja dengan hubungan semu dipikirannya tentang Raditya dan Nadia. Sampai berapa lama Aminah akan salah paham?
__ADS_1