
Sarapan.
Rifky menyipitkan matanya, ia masih ingin tahu apa yang dilakukan oleh tuan putri nya itu dengan cctv garasi.
"Kenapa Papa melihat ku seperti itu? Cantik kan aku? Percaya!" Pekik Airy.
"Iya percaya, tuan putriku ini memang cantik hemm," jawab Rifky.
"Kalian jadi pulang hari ini?" Sambung nya.
"Iya Pa, selesai sarapan ini kita mau berangkat." Jawab Adam.
"CCTV kemarin buat apa?" tanya Rifky.
"Apaan? CCTV rusak juga! Minta ganti yang baru itu!" elak Airy.
"Sak karepmu lah, sak penake awakmu dewe!" Desis Rifky.
"Alhamdulillah." Ucap Airy.
__ADS_1
Setelah sarapan, Airy dan Adam pamit pulang ke kampung halaman. Tak banyak barang yang mereka bawa, hanya beberapa baju dan mobil yang Aisyah titipkan dulu. Mobil itu milik Airy, namun Airy tak pernah di perbolehkan untuk menyetir sendiri. Harus bersama Papa, Raihan, ataupun Adam.
"Aku tak tidur ya Mas. Entah kenapa pengen bobok cantik aku, tuh!" Celetuk Airy.
"Iya, bobok lah sayang. Nanti kalau sudah waktunya maem, Mas bangunin ya." Jawab Adam mengusap kepala Airy.
Perjalanan saat itu sangat mulus. Mereka sampai di rumah dengan selamat. Bahkan, Airy sama sekali tidak bangun ketika di perjalanan. Sementara Adam menurunkan kopernya, Airy segera masuk dan membawa masuk bungkusan rahasianya segera.
"Maupun di umpetin juga tau aku, kalau itu CCTV. Istriku ini, ada-ada saja tingkahnya." Gumam Adam.
Entah capek atau tidak, Adam langsung berangkat ke perkebunan. Hari itu, ia akan memulai usaha nya lagi dari awal. Kemungkinan, ia akan membuka cabang dari restoran mertuanya.
"Cie yang di ajak usaha sama mertua. Cie, cie," goda Airy.
"Bisa buat masa depan dedek kecil kita." balas Adam menggoda Airy.
"Ih bisik-bisik. Geli tau!" Ucap Airy mengigit telinga Adam.
Sebagai lelaki normal, gigitan itu membuat Adam tergoda. Secepat kilat, ia membawa istrinya ke kamar. Ketika ia m*elumat bibir mungil istrinya, jari yang sebelumnya nakal menyelinap di lembah cinta tiba-tiba terhenti.
__ADS_1
"Kok berhenti?" lirih Airy.
"Lupa kalau ada dedek bayinya di dalam sini. Tahan, sebulan lagi janinnya kuat. Harus tahan!" Adam mengusap-usap perut Airy.
"Oh, emang nggak boleh ya, melakukan itu dulu di saat hamil?" tanya Airy.
"Tutur Bidan sih boleh, tapi nunggu usia kandungannya 4 bulan sayang. Kan ini awal kehamilan, trimester pertama masih rentan." Jelas Adam menoel hidung Airy.
"Oh ya? Kok Mas lebih tau sih, di bandingkan denganku yang hamil?" tanya Airy.
"Kan Mas suami siaga. Harus tau dong seputar kehamilan, hehe. Ya sudah, kamu istirahat dulu ya, Mas mau ke rumah Mas Zainal dulu."
"Aku di tinggal nih? Ikut dong," pinta Airy manja.
"Bumil harus istirahat, baru pulang perjalanan panjang. Ndak boleh capek-capek. Bersih-bersih, ganti baju, sholat dzuhur, baru bobok, mengerti? Nurut ya!" Tutur Adam lembut.
"Emm, baiklah! Aku mandi dulu, cepat pulang ya, aku cepet kangen soalnya," goda Airy.
"Iya, Assalamu'alaikum." Ucap Adam, seraya mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Airy semngat.
Adam segera bergegas menuju rumah Ustad Zainal dengan beberapa oleh-oleh yang ia bawa dari Jogja. Kebetulan, Ustad Zainal baru saja keluar dari pintu dan berpapasan dengannya. Mereka mulai mengobrol perihal siapa dalang di balik hancurnya usaha miliknya.