
Di kantin,
"Hey, Mbak Nina, Mbak Ani. Tau nggak, kalau si Adnan, sedang jatuh cintrong, hahaha." goda Hasan.
"Oh, ya? Sama siapa, Nan?" tanya Nina.
"Sama Bu Calista, Mbak. Mimpinya di siang bolong dia, Mbak. Orang udah bersuami kok di cinta, yo ra?" ledek Hasan.
"Mending sama aku aja, Nan. Aku masih single loh, nih si Ani juga masih sendiri. Jangan mengharap tidak mungkin. Biarpun suaminya belum ada kabar, tapi Bu Calista itu orangnya setia." jelas Nina.
Adam hanya tersenyum manis saja, saat ia mendengar bahwa istrinya begitu setia padanya, itu suatu hal yang membuatnya bahagia. Dari kejauhan, Airy nampak cemburu, Adam bisa sedekat itu dengan Nina dan Ani.
"Adnan, tolong keruang saya, ya!" teriaknya.
"Ah, iya Bu."
"Aku permisi dulu, ya. Assalamu'alaikum." pamit Adam.
"Kenapa tuh si Adnan? Kok di panggil sama, Bu Calista?" sahut Ani.
__ADS_1
"Nggak tau juga sih." sahut Hasan.
Sementara Nina, Ani dan Hasan menggosipkan Adnan dan Airy. Adam masih bingung kenapa istrinya memanggilnya ke kantor. Bahkan, Airy juga membuka dan menutup pintu dengan kasar.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Adam menyentuh bahu Airy.
" Don't touch me**! " kesal Airy.
"Haduh, bahasa asingnya udah keluar. Pasti ngambek. Kenapa sih?" tanya Adam lagi.
"Aku nggak suka Mas Adam akrab banget sama Nina seperti itu. Mana di goda juga senyum-senyum aja lagi, seneng banget keknya di goda Nina yang masih seger, muda dan banyak bakat itu?" keluh Airy.
Nampaknya Airy cemburu dengan Nina. Melihat Airy yang membelakanginya, Adam pun memeluknya dari belakang, membisikkan suatu yang buat Airy makin kesal kepadanya.
"Ih, kok gitu sih! Mas Adam keluar! Sana samperin Nina, aku males ketemu sama Mas Adam!" kesal Airy.
"Hahaha, kamu juga ngapain cemburu sama Nina, Sayang. Aku hanya mencintamu, nggak ada wanita lain, ingat saat aku mengatakan kepada Sari waktu itu? Aku mengatakan, bahwa kamulah satu-satunya, wanita yang aku cintai." tutur Adam.
"Iya manusiawi 'kan Mas. Aku manusia biasa, aku mencintaimu, makanya aku memiliki rasa cemburu. Tunggu! Sari? Kamu....?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku sudah ingat semuanya. Jadi, percaya padaku. Hanya kamu satu-satunya, wanita yang ada di hatiku," ucap Adam memeluk Airy.
"Tetep aja aku cemburu, kamu bilang Nina seksi, cantik, mulus. Aku kan juga gitu kalau di kamar!" kesal Airy.
Gruk... grukkk....
Suara perut Airy terdengar sangat jelas. Suasana yang sebelumnya romantis nan tegang itu berubah menjadi humoris. Adam tertawa mendengar isi perut Airy. Ia pun menyuruh istri untuk menunggunya, karena dia ingin membelikan makanan untuknya.
"Jangan lama-lama, aku takut." ucap Airy manja.
"Takut aku sama Nina lagi?" goda Adam.
"Ih, takut kangen," lanjut Airy.
Karena gemas dengan istrinya, Adam pun mendekat ke Airy, kemudian mencium keningnya, dan mengecup lembut bibir Airy. Bukan hanya kecupan bibir saja, bahkan Adam juga mencium leher istrinya dengan begitu bergairah.
"Mas, ini di kantor." desah Airy.
"Cuma mau hukum kamu aja, kok. Ya kali kita melakukan di sini. Berdosa jika tidak memakai penutup, Assalamu'alaikum, .Ya Zawjati."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, zawji." jawab Airy.
Tak terasa, air matanya menetas. Airy sangat bahagia ketika ingatan suaminya kembali lagi. Ia sangat rindu ketika sang suami memanggilnya dengan sebutan 'zawjati'. Lalu, dirinya membalas dengan sebutan 'zawji'. Menurutnya, itulah panggilan sayang, yang jarang di katakan oleh pasangan zaman sekarang.