
"Kamu memang baik hati. Barang-barang dapur juga kamu berikan kepada Tuan Park? Wah, aku suka dengan caramu," ucap Hamdan.
Mereka mengobrol sembari membeli peralatan dapur dan bahan makanan. Sebelumnya, Yusuf juga memberi sejumlah uang kepada kedua anak perempuan Tuan Park yang masih sangat kecil. Mereka baru pindah dari Thailand, dan sudah lama mengincar rumah Yusuf, saat Tuan Park belum menikah.
"Sudahlah, aku tidak akan miskin. Allah masih kaya, kok. Jika aku masih semangat mencari rezeki, pasti aku tidak akan kekurangan uang di sini, ada Allah dan tekad bersamaku," ucap Yusuf.
"Aku padamu, Cup. Ayo, sebaiknya kita cepat beli bahan makanannya. Jangan beli daging di sini, kalau mau beli daging, sebaiknya di toko khusus pangan Indonesia," timpal Hamdan.
"Kenapa? Nggak halal ya?" tanya Yusuf.
"Yah, kau taulah. Meski daging sapi atau ayam, cara penyembelihannya nggak sesuai syariat. Sama aja kan kita makan daging haram?" jelas Hamdan.
Mereka menghabiskan waktu seharian untuk mengisi kebutuhan rumah. Tak lupa, seperempat dari hasil penjualan rumah juga didonasikan untuk satu-satunya masjid di kota itu. Setelah puas berbelanja, mereka pun pulang dan mulai berbenah isi apartemen. Tak lama kemudian semua barangnya sampai. Terlihat Aminah juga datang langsung marah-marah tidak jelas karena ditinggal.
"Assalamu'alaikum!" salam Aminah, waktu itu memang pintu sedang terbuka, jadi ia bisa masuk dengan bebas.
"Wa'alaikumsallam, bibirnya biasa aja kali," jawab Yusuf menyentil bibir Aminah.
"Kalian berdua belanja nggak ngajak aku, kah? Jahat banget, sih?" tanya Aminah.
"Kamu tadi masih tidur. Kami berangkat setelah sholat subuh soalnya," jawab Hamdan.
"Kalian dzolim, aku juga pengen kali jalan-jalan. Aku juga nggak akan boros, kalian anggap aku ini apa?" kesal Aminah menduduki sofa yang baru saja selesai ditata.
"Aduh, apa ini keras-keras?" gumam aminah meraba dalam sofa itu.
Di temukan sebuah map coklat bertuliskan untuk kedua anak kembarku. Jelas sekali itu tulisan dari Rifky. Aminah langsung memberitahukan kepada Yusuf tentang map itu.
Assallamu'alaikum kedua anak kembarku. Pasti kalian sudah besar ya saat membaca surat ini? Papa cuma mau menyampaikan, Papa merasa Ami kalian akan memiliki anak lagi suatu hari nanti. Tolong jaga dia ya, Papa rasa juga Papa tidak bisa merawatnya sampai dewasa. Jika calon adik kalian nanti nakal, cubit saja pahanya. Sama seperti Ami kalian saat menghukum Papa dulu. Rasanya ingin sekali mendapat anal lelaki satu lagi. Agar Airy-ku menjadi ratu di rumah. Kalian juga jangan iri ya, jika rumah ini nanti akan menjadi hak calon adik kalian. Mau di jual ya nggak papa, asal adik kalian yang menjualnya. Eh, Papa terlalu menghayal ya? Padahal kalian juga masih umur setahun, sehat-sehat ya Kembarku -Papa
"Jadi, sejak awal memang aku ini diharapkan, tapi mereka juga tahu jika mereka ini tak bisa menungguku dewasa?" air mata Yusuf tertahan, ia tak mampu meneteskan air matanya lagi.
__ADS_1
"Semua sudah takdir, Cup. Rumah itu juga akhirnya terjual, 'kan? Untung saja, kamu membawa pulang sofa ini, jadi kamu tahu surat cinta dari Papamu, ini. Instingmu emang yahut, Cup!" sahut Hamdan mengusap-usap punggung Yusuf.
"Sabar, Cup. Kita jalani semuanya sama-sama di sini. Kita harus sukses, membahagiakan orang tua dan melukis masa depan, ayo tersenyumlah," timpal Aminah memeluk Yusuf.
"Kita udah gede, jangan suka meluk sembarangan gini, ah. Meski kita boleh bersentuhan, tapi itu rasanya geli tau!" tepis Yusuf melepaskan pelukan aminah.
Yusuf memotret surat itu dan mengirimkannya kepada kedua kakaknya. Mereka juga turut tersentuh dengan isi surat itu. Rumah yang Rifky beli juga sudah terjual, baik Airy maupun Raihan tak pernah mempermasalahkan itu.
_--_--_
Selama tiga hari mereka puas berlibur, saat ini merek akan masuk di tahun ajaran baru. Mereka harus masuk ke kelas bahasa lebih dulu selama setahun. Lalu jika sudah enam bulan, baru mereka bisa menambah jurusan yang ingin dituju. Sejak muda, Yusuf sudah terpikat dengan memasak, pertama ia akan masuk di jurusan Teknologi Pangan di Korea.
Sementara Hamdan akan mengambil jurusan kedokteran spesialis jantung. Lalu Aminah akan menjadi Dokter anak seperti Ami Aisyah, mereka bertiga sudah memikirkan masa depannya dengan matang.
"Ya, kamu jauh-jauh datang ke Korea hanya mau masak?" tanya Hamdan.
"Univ di kota ini sangat di rekomendasikan untukku dari sekolah. Kenapa? Memasak bukan hanya untuk kaum hawa, 'kan? Banyak chef terkenal di dunia ini kebanyakan lelaki, lagi pula dengan kerja keras, aku tidak akan miskin hanya karena memasak, bukan takabur, tapi lebih ke berpikir jernih aja, rezeki udah Allah yang atur," jawab Yusuf mantap.
"Enak banget dia, pasti nanti di dalam kelas itu banyak cewek-cewek. Heh, Yusuf dah mulai nakal ini, aku aduin Om Jamil ah, dia kan walinya... hahaha awas kau Yusuf, hihi, paling suka lihat Yusuf dihukum," gumam Hamdan dengan pikirannya yang jahil.
"Apakah, dia benar anak anda?" tanya Dekan.
"Iya, ini anak kami." jawab Jamil dengan menegakkan dadanya.
"Baiklah, isi formulir dan isi juga kartu rencana studi. Selain harus wajib masuk kuliah bahasa, kamu juga akan masuk jurusan sesuai dengan keinginanmu. Saya akan memeriksa resume kamu dulu," ucapnya.
"Wah, apakah kau tidak akan mengikuti ujian masuk khususbeasiswa? Kau sangat cerdas, jika iya, saya akan membantumu," imbuhnya dengan wajah bersinar.
Yoona dan Jamil hanya saling menatap, kemudian melihat Yusuf. Mendapat peluang untuk menghemat keuangan, Yusuf pun mengambil kesempatan itu. Yoona sangat bangga kepada Yusuf, mengingatkan akan Aisyah, sekitar dua puluh tahunan yang lalu juga seperti itu.
"Aisyah, aku melihat dirimu dari anakmu. Dia sama sepertimu, aku tau kamu melihat dari sana, kau bangga bukan? Bukan hanya sifat dewasanya, tapi Yusuf ini sangat pandai dalam segala hal, apakah dia sesempurna dirimu juga? Tapi, aku juga takut jika dia berumur pendek sepertimu, apakah aku bisa memintanya agar dia tak seperti dirimu?" batin Yoona.
__ADS_1
"Eomma, kenapa?" tanya Yusuf.
"Aku nggak nyangka, kalau aku memiliki anak sebesar dirimu. Aku bangga padamu," ucap Yoona dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Kau Ibuku di sini, apapun yang akan aku lakukan, aku akan berusaha membuatmu bangga kepadaku. Terima kasih sudah menganggap aku sebagai anakmu sendiri, eomma," kata 'Eomma' dari bibir Yusuf dapat membuat Yoona merinding.
Semuanya selesai, Yusuf akan mulai masuk kuliah esok hari, dan melakukan ujian masuk dua bulan setelahnya. Ketika ia membereskan dompetnya, kembali melihat liontin itu membuat Yusuf teringat dengan si mata biru. Kali ini, ia hanya tersenyum melihat liontin itu.
"Allahumma la sahla illa ma ja'altahu sahla, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahla." ucap Yusuf. "Hari ini, aku mulai belajar lagi, Bismillah!" imbuhnya dengan menata buku yang akan ia bawa.
Sudah menjadi peraturan Kabir, sarapan dan makan malam harus di rumahnya. Pagi itu, memang sangat riweh, karena Ceasy harus makan lebih tiga mangkok lagi setelah enam tahun hanya mengisi tiga mangkok. Terlihat Yumna dan Aminah membantu menyiapkan sarapan, dan Hamdan membantu merapikan rumah.
Bel berbunyi,
"Yumna, tolong kamu lihat siapa yang datang. Jangan-jangan dia Yusuf. Sudah waktunya sarapan soalnya," perintah Ceasy.
"Iya, Bu," jawab Yumna.
Yumna mengaktifkan layar lcd yang terhubung ke luar. Terlihat Yusuf melambaikan tangannya dan tersenyum, Yumna membukakan pintu dan memberitahu pin rumah itu. Agar nantinya tidak akan kesulitan lagi jika masuk ke rumah.
"Aku sudah memberimu pin rumah ini. Sekarang, ayo berikan aku pin rumahmu, Oppa!" seru Yumna.
"Tidak!"
"Pelit! Nggak Ham Oppa, nggak Yusuf Oppa semuanya pelit, kenapa, sih?" kesal Yumna.
"Hey, aku saja tidak tahu kode rumah itu. Kenapa kamu harus tau? Mereka pasti menyembunyikan sesuatu, itu mengapa kita tidak boleh masuk ke rumahnya," Aminah memang suka menjadi kompor bagi Yumna, begitu juga Yumna yang suka menjadi kompor untuk Aminah.
"Nah, itu kalian tau. Mereka tidak salah, alasan mereka merahasiakan kode pin rumahnya, untuk mencegah kalian masuk sembarangan ke rumah laki-laki," jelas Kabir.
"Tapi kan kita saudara, untuk apa seperti itu?" Yumna masih saja protes.
__ADS_1
"Mereka juga punya privasi, meski kalian saudara, ya tidak boleh masuk sembaranganlah. Harus tau batasan juga, mengerti?" kali ini nada Ceasy meninggi. Yumna pun bungkam dan tak perlu bertanya lagi.
Menunggu sarapan siap, Yusuf berdzikir serta menggenggam erat liontin itu tanpa sadar. Meski dirinya anak muda yang gaul, ia tetap tidak lupa dengan dzikir nya yang mampu menentramkan hati dan perasaannya. Namun, kali ini dia tanpa sadar juga menyebut si mata biru dalam dzikirnya.