Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 245


__ADS_3

Malam itu, Raihan tersenyum ceria. Bagaimana tidak, wanita yang dulu pernah ia sebut dalam doanya, kini akan menjadi istrinya.


"Laila,"


"Nggak ada yang berubah dirinya. Oh, ada! Hanya lu gue nya ilang," gumam Raihan.


Di bawah rembulan malam, Yusuf berjalan ke rumah Airy dengan santai. Sambil mengantar Rafa, yang sejak tadi ikut dengannya ke pesantren setelah pertemuan keluarga. Sampai di rumah, Rafa langsung minta Abinya untuk menemaninya tidur. Sementara Yusuf duduk di teras di temani Airy, sambil ngopi berdua.


"Kamu kenapa sejak tadi diam saja?" tanya Airy.


"Nggak papa, emang kenapa?" tanya Yusuf kembali.


"Malah nanya balik, 'kan Kakak tanya, Suf!" seru Airy.


"Aku merasa kesepian aja, aku juga merasa setelah ini aku akan sendirian," ucapan Yusuf buat Airy tercengang.


Plaakk.....


Tamparan kecil melayang di pipi Yusuf dari tangan Airy.


"Maksud kamu apa, sih? Siapa yang akan sendirian? Kakak ada di sini, Papa ada di rumah, Bang Rai juga masih di sini. Kamu ngomong apa?!" tangkas Airy.


"Maaf, aku hanya takut akan sendirian. Setelah kalian memiliki keluarga masing-masing, dan aku harus menjadi anak rantau untuk mengejar cita-cita," kata Yusuf.


"Aku memang sudah terbiasa jauh dari Kak Airy dan Bang Rai. Tapi, memang hati ini seperti ada yang beda, Kak. Aku merasa aku memang akan sendirian!" tungkasnya.


Airy meminta Yusuf untuk segera pulang dan istirahat. Dalam pikiran Airy, Yusuf pasti sedang pusing karena Abangnya akan menikah, namun pernikahan itu juga belum di tentukan kapannya. Karena itu baru rencana.

__ADS_1


"Kenapa, Yusuf?" tanya Adam keluar setelah Yusuf pulang.


"Nggak papa, masuk yuk udah malam!" seru Airy.


Yusuf duduk termenung sendirian di depan rumah. Ia masih terpikirkan dengan rasa yang membuatnya tak nyaman. Hatinya begitu sebak dan sesak. Membuatnya teringat akan Aminya, yang sejak dulu selalu ada untuknya.


"Ami, jika suatu saat nanti Papa nyusul Ami. Yusuf sama siapa? Yusuf nggak mungkin membebani Kak Airy dan Bang Rai," gumamnya.


Pagi hari setelah sholat subuh, Adam, Raihan, Yusuf, Hamdan, Falih, Aminah dan Mayshita melakukan hukum nanti yang di berikan oleh Rifky kepada meraka. Melantunkan Allahul Kaffi selama 45 menit yang di pantau oleh Gu.


Semua santri mulai berbisik, "Wah, ternyata hukuman itu tidak memandang siapa pun, ya. Ustad Adam dan Ustad Raihan saja di hukum, loh! Salah apa mereka?"


"Bahkan Aminah dan Mayshita saja juga iya. Aku kira, karena mereka putra putri pesantren, jadi jauh dari hukuman," timpal salah satu santri.


"Kecilkan suaramu, Astafirullah. Lebih baik kita kembali aja, masih ada jadwal ngaji pagi, loh!" sahut santri lain.


"Gu, Pak Dhe pulang dulu, ya. Ngantuk banget eh!" pamit Rifky kepada Gu.


"Iya Pak Dhe, tapi ngantuk sepagi ini? Lak Dhe kurang tidur semalam?" tanya Gu.


"Kurang aja, hehehe. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Gu.


Rifky pun kembali ke rumah. Sementara Yusuf masih harus setor hafalan kepada Adam di pesantren sebentar. Selesai setor hafalan, Yusuf pulang dengan tergesa-gesa, karena ada perasaan yang tidak enak.


"Yusuf! Bawa ini, sarapan Papa harus yang lembut-lembut, karena magh nya kemarin kumat, cepat! Udah jam segini, Papa harus segera sarapan," ucap Airy menghentikan langkah langkah Yusuf.

__ADS_1


Sampai di rumah, salam Yusuf tidak di jawab oleh, Papanya. Yusuf mengira, Papanya benar-benar tidur di pagi hari. Ia pun meletakkan sarapannya di meja dan berteriak, "Pa, sarapan dulu. Ini Kak Airy bawain bubur Ayam kesukaan Papa. Yusuf taruh di meja dulu, ya. Yusuf mau mandi!"


Tak ada sahutan dari Rifky, Yusuf yang belum curiga dengan situasi, langsung masuk ke kamar dan segera mandi. Ketika selesai, Yusuf masih melihat mangkuk bubur itu masih di meja dan belum ke sentuh sama sekali.


"Papa belum sarapan? Tumben tidur di pagi hari, biasanya Papa paling anti tidur di pagi hari," gumam Yusuf.


Melihat kejanggalan itu, Yusuf pun memberanikan diri untuk masuk ke kamar Papanya. Selama ini, ia jarang sekali masuk ke kamar orang tuannya, karena itu tidak baik. Ia mulai mengetuk pintu, memanggil Papanya. Tak ada sahutan, kemudian membuka pintu, terlihat Rifky terbaring telentang di atas kasur.


Perlahan, Yusuf mendekat dan mencoba membangunkan. Tak ada respon dari Rifky, kembali ia bangunkan, tapi sama! Rifky tidak meresponnya. Dengan tangan gemetar, Yusuf memeriksa nadi dan nafas Rifky, dan.......


"Benarkan, aku akan sendirian!"


Yusuf mengenal nafas dan berusaha tetap tenang. Airy matanya tertahan masih terbendung di matanya. Kemudian, menelfon Keny, "Assalamu'alaikum, Om, bisa kesini sekarang. Papa...... "


Tak lama setelah itu, Keny, selalu adik kandung Rifky pun datang. Ia langsung masuk ke kamar Rifky yang mana Yusuf masih ada di sampingnya.


"Assalamu'alaikum, Suf! Kak Iky kenapa? Biar aku periksa!" ucap Keny.


Yusuf hanya terdiam mematung melihat Papanya di periksa oleh Keny. Perasaannya campur aduk. Mimpi kemarin malam tentang giginya yang copot, ternyata menjadi kenyataan. Rifky meninggal dunia.


"Kak, Kak Iky! Kita harus segera membawa ke rumah sakit," ucap Keny mengangkat Rifky membawanya keluar.


"Om Keny duluan, segera bawa Papa ke rumah sakit. Yusuf panggil Kak Airy, Mas Adam dan Bang Rai dulu!" kata Yusuf berlari menuju pesantren.


Segera Keny membawa Rifky ke rumah sakit, sementara Yusuf bergegas ke pesantren memanggil kakak-kakaknya.


Maaf gantung, ada acara sebentar. Nanti sore aku sambung. Tak nangis dulu aku.

__ADS_1


__ADS_2