Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 364


__ADS_3

Di sisi lain, Falih sedang belajar di kamarnya. Sambil menjaga Mawar yang sedang sakit, ia tetap tidak menyerah dengan pelajaran baru yang ia dapat dari sekolah barunya di Jepang.


"Bahasanya semakin sulit dimengerti. Apakah karena aku lama tinggal di Jogja? Tapi hanya 5 tahun aku di sana, kenapa bahasa sudah agak beda seperti ini? Astaghfirullah...," gerutunya.


"Aku bisa mengajarimu, Kak," lirih Mawar.


"Tidurlah, biar kamu cepat sehat. Mama dan Papa pasti tidak akan khawatir lagi jika kamu sudah membaik," ucap Falih.


Falih berusaha keras agar tidak tertinggal pelajaran. Karena ia mungkin tidak akan kembali ke Jogja lagi. Ketika Falih tengah sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, datanglah Niki, sahabat lama Papanya datang membawa beberapa oleh-oleh, dirinya baru saja pulang dari luar negri.


"Orang tuamu, kemana?" tanya Niki menggunakan bahasa Indonesia dengan kaku.


"Oba-san (tante orang lain), emang masih bisa menggunakan bahasa Indonesia?" tanya Falih kembali.


"Haha, aku geli mendengar kata 'Oba-san' dari mulutmu. Panggil saja aku Tante, seperti Mawar memanggilku, Falih!" tawa Niki membuat Falih canggung.


Mereka mengobrol lama sekali, Niki juga memasak untuk Falih dan Mawar. Niki juga banyak mempertanyakan keluarga Akbar di Jogja. Ternyata, hubungan Akbar, Niki dan Fatim masih terjalin sangat baik. Persahabatan mereka, yakni Akbar, Niki, Yasha, Jessica dan juga Oshi masih berkabar.


-_-_-_-


Falih memulai sekolahnya, pagi itu ia sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan juga adiknya. Lalu, menuju ke halte bus, berangkat ke sekolah sendiri. Di dalam bus itu, ia melihat beberapa siswa yang seragamnya sama dengan dirinya.


"Wah, ada temennya aku. Pasti mereka dari sekolah yang sama, semoga saja aku tidak terlihat norak!" seru Falih dalam hati.


Terdengar suara pesan masuk dari Yusuf dan Hamdan saat itu. Mereka memberi semangat agar melalu sekolahnya dengan baik dan lancar.


"Hah, aku yakin mereka merindukanku. Hoho, yang ada aku yang terlalu merindukan mereka, woy! Ah elah, kenapa Mawar sakit segala, sih? Mana Mama sama Papa juga malah ngadain perjalanan bisnis, aku kan masih kaku pakai bahasa sini." keluh Falih.

__ADS_1


"Permisi, kalau tidak salah dengar… kamu tadi berbicara menggunakan bahasa Indonesia, ya?" tanya seorang gadis berseragam sama.


Falih mengangguk, ia juga memandang dengan seksama gadis itu. Bahkan, dari lekuk tubuhnya saja Falih menatap tanpa berkedip, memastikan jika gadis itu tak lagi menyapanya. Karena wajahnya sama sekali seperti bukan orang lokal.


"Halusinasiku tinggi juga, ahh... Ya Allah, sadarkan hamba-Mu yang ganteng ini...." batin Falih.


"Ada yang salah denganku? Seragam sekolah kita sama, apakah kita satu sekolah?" tanya gadis itu lagi.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Falih kembali.


"Haha, tentu saja. Aku memang asli orang sana, aku dari Bandung. Kamu sendiri?" jawab gadis itu dengan tawa khas Indonesia, karena yang Falih tau, orang Jepang lebih menjaga image jika ingin tertawa.


Gadis itu juga banyak bicara, mengatakan jika dirinya dari Bandung, berapa lama tinggalnya di sana, dan masih banyak hal yang ia bicarakan saat itu. Sampai bus berhenti di depan sekolah yang mereka tuju. Falih kaget ketika gadis itu menarik tangannya.


"Astaghfirullah! Ah, aku bisa jalan sendiri…." ucap Falih melepaskan genggaman gadis itu secara perlahan.


"Oh, oke. Ayo aku antar ke ruang guru," ajak gadis itu lagi.


Sampailah mereka ke ruang guru, gadis itu berpamitan seraya melambaikan tangannya. Falih menebak bahwa gadis itu mungkin orang yang cerita dan banyak bicara. Selama kembali ke Jepang, Falih juga belum memiliki teman kecuali tetangganya. Sayangnya mereka tidak satu sekolah, jadi sekarang Falih benar-benar seperti orang asing di negaranya sendiri.


Guru membawa Falih ke kelasnya. Ia tidak menduga jika dirinya satu kelas dengan gadis yang baru pagi tadi ia temui. Gadis berisik yang membuatnya pusing. Sifat Falih juga berubah ketika sampai ke Jepang. Falih yang sebelumnya begitu ceria dan konyol, tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan sering menutup diri.


Setelah perkenalan, guru juga meminta Falih duduk di samping gadis itu. Sungguh membuat Falih muak dengan itu. Awalnya Falih minta dirinya bisa duduk di depan, namun siswa lain tidak ingin pindah untuk dirinya. Karena kebanyakan mereka tidak bisa melihat dengan jelas jika tidak duduk di depan.


"Astagfirullah hal'adzim, gini amat. Ini negaraku, kenapa aku merasa asing gini, sih? Hih, nggak suka, nggak suka, nggak suka! Aku lahir dan tumbuh besar sampai tiga belas tahun lebih. Aku ke Jogja hanya lima tahun lebih dikit, kenapa jadi begitu asing?" batinnya.


Selama jam pelajaran, gadis itu terus saja melirik ke arahnya. Sampai akhirnya jam istirahat berbunyi. Falih mengeluarkan kotak makannya dan keluar ke taman belakang sekolah. Tentu saja gadis itu mengikutinya. Ia juga membeli soda dan beberapa camilan untuk ia berikan kepada Falih.

__ADS_1


"Ini," ucap gadis itu menyodorkan soda kepada Falih.


"Kamu?"


Tentu saja Falih merasa kesal karena merasa diikuti oleh seseorang dan itu tidak nyaman baginya. Akan tetapi, melihat ketulusan gadis itu, Falih jadi tidak tega menolaknya.


"Terima kasih," ucap Falih membuka soda itu.


"Sama-sama, Falih!" seru gadis itu, duduk di sebelah Falih. Dengan cepat Falih beranjak dari sisinya, ia kaget ketika kakinya menyentuh kaki gadis itu. Mendengar gadis itu menyebut namanya sana, dirinya sudah merasa geli.


"Segitu nggak sukanya ya kamu ke aku? Aku hanya ingin berteman saja, selama tiga tahun di sini… aku tidak memiliki teman yang dari negara yang sama. Jadi, aku sering merasa kesepian saat di sekolah," ucap gadis itu murung.


Membuat Falih semakin tidak tega, mau bagaimana lagi, Falih menerima pertemanan yang di ajukan gadis itu.


"Siapa namamu?" tanya Falih kembali duduk.


"Aku Yuma, kamu mau berteman denganku? Beneran?" jawab Yuma semangat.


"Yumna?"


"Bukan, Yumna. Tapi Yuma, Y U M A, nggak pakai N," jelas Yuma. "Aku seneng banget bisa berteman dengan orang sesama Indonesia, uh senengnya….." ucap Yuma kembali meminum sodanya.


"Sebenarnya, aku asli orang Jepang!" seru Falih.


"Hah?" Yuma melongo dengan mulutnya yang terbuka lebar. Falih pun memasukkan gulungan telur ke mulut Yuma.


"Aku lahir di Jepang, sampai usia tiga belas tahun, aku sekolah di Jogja SMP dan SMA nya, lalu baru kembali ke sini belum lama kenaikan kelas,. Jadi, aku asli orang Jepang. maaf membuatmu kecewa," jelas Falih.

__ADS_1


"It's ok, tapi wajahmu sama sekali tidak seperti orang Jepang. Apakah kamu blasteran?" tanya Yuma ingin tahu.


Falih masih enggan untuk cerita lebih dalam. Kemudian, Yuma mengajak Falih untuk saling menyimpan nomornya satu sama lain, karena Yuma ingin mengajak Falih les bahasa di tempat yang dekat dengan sekolah saat itu.Falih juga bercerita kepada Yusuf dan Hamdan yang ada di Jogja, jika dirinya sudah memiliki teman.


__ADS_2